Pengelolaan Sampah Rocket Stove: Inovasi KKN di Sumenep

Berita, Sosial21 Dilihat

SUMENEP, TRETAN.news – Gumpalan asap kelabu tebal kerap menjadi pemandangan lumrah di sudut-sudut permukiman Desa Galis, Kecamatan Giligenting, Kabupaten Sumenep.

Inovasi ini tidak lahir dari ruang hampa. Selama bertahun-tahun, kebiasaan membakar limbah rumah tangga di tempat terbuka telanjur dianggap sebagai satu-satunya jalan pintas untuk melenyapkan tumpukan sampah yang menggunung.

​Namun, residu karbon yang menyesakkan dada itu menyimpan ancaman kesehatan diam-diam bagi warga dan santri di sekitar PP. MIS ANNIBROS I.

Membuang sampah pada tempatnya terbukti tak lagi cukup ketika tempat pembuangan akhir di tingkat desa tidak tersedia secara memadai.

​Menelusuri kebuntuan krisis lingkungan ini, sebuah intervensi teknologi lahir.

Pengelolaan sampah Rocket Stove sebuah sistem tempat pembakaran sampah (TPS) minim asap dibangun sebagai solusi taktis.

Inovasi ini diinisiasi secara nyata pada Senin (7/9/2026) oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Posko 43 Universitas Annuqayah melalui program unggulan bertajuk “Eco Annibros I”.

​Mengurai Benang Kusut Krisis Sampah Desa

​Persoalan limbah di pedesaan sering kali luput dari pantauan infrastruktur modern.

Masyarakat terbiasa dengan metode konvensional yang justru melahirkan masalah baru: polusi udara ekstrem.

Mahasiswa KKN Posko 43 menolak diam melihat siklus destruktif ini berlanjut di lingkungan madrasah.

​Ketua KKN Posko 43, Ahmad Zainuallah, menyadari bahwa membangun infrastruktur fisik saja akan sia-sia tanpa adanya bedah pola pikir.

Teknologi yang dibawa harus sederhana, murah, dan bisa direplikasi secara mandiri oleh masyarakat pesisir.

​”Kami memberikan penyuluhan tentang limbah sampah bahwa sampah perlu dikelola dengan tepat.

Rocket Stove menjadi salah satu langkah alternatif untuk membantu proses pembakaran sampah dengan asap yang lebih minim,” ungkap Zain saat ditemui pada Minggu (13/9/2026).

​Anatomi TPS Minim Asap dan Nilai Ekonomi

Hasilnya, sampah terbakar lebih cepat dan sempurna, menekan emisi asap beracun hingga ke titik minimal.

​Namun, investigasi tim KKN tidak berhenti pada penciptaan alat pembakar.

Mereka menemukan fakta bahwa sebagian besar limbah yang selama ini dibakar ternyata masih memiliki celah ekonomi jika disortir dengan benar.

Mengubah Pola Pikir Daur Ulang

​Karena itu, program Eco Annibros I memasukkan kurikulum ekonomi sirkular bagi para santri dan guru.

Edukasi digeser dari sekadar “membuang sampahmenjadimemilah dan memanfaatkan“.

​”Memanfaatkan barang bekas atau limbah sampah yang masih dapat digunakan, siswa-siswi maupun masyarakat dapat mengkreasikan imajinasi mereka melalui daur ulang,” tegas Zain.

​Ia menambahkan bahwa langkah ini mengubah limbah menjadi barang yang memiliki nilai jual.

Sebuah strategi ganda untuk mengurangi volume residu yang masuk ke Rocket Stove sekaligus menekan dampak pembakaran.

​Partisipasi Warga: Observasi Bukti Konkret

​Keberhasilan sebuah intervensi sosial dapat diukur dari respons akar rumput.

Di lapangan, proyek ini mematahkan stigma bahwa warga desa resisten terhadap teknologi baru.

Kehadiran inovasi TPS minim asap ini justru memantik semangat gotong royong.

​Pak Badri, salah satu warga setempat, menjadi bukti hidup penerimaan masyarakat.

Ia tidak hanya menonton, tetapi turun tangan langsung membawa meteran, gergaji, cangkul, hingga sendok semen untuk merakit tungku roket tersebut bersama mahasiswa.

​”Kegiatan ini sangat membantu dan bermanfaat bagi kami tentang cara mengelola sampah.

TPS atau Rocket Stove ini bisa menjadi media yang dapat diterapkan meluas di lingkungan masyarakat,” puji Pak Badri, melihat potensi alat tersebut untuk dikembangkan di pekarangan warga lainnya.

​Warisan Kesadaran yang Tak Akan Padam

​Konstruksi Rocket Stove di halaman madrasah kini berdiri bukan sekadar sebagai monumen fisik dari batu bata dan semen. Bangunan sederhana itu adalah cetak biru perubahan perilaku.

​Program Eco Annibros I telah meletakkan standar baru bagi PP. MIS ANNIBROS I dan warga Desa Galis.

Mereka membuktikan bahwa penyelesaian krisis lingkungan tidak harus selalu menunggu alat berat dari pemerintah pusat, melainkan kita bisa memulainya dari rekayasa sosial dan teknologi tepat guna di halaman madrasah.

​Masa pengabdian mahasiswa KKN Universitas Annuqayah perlahan akan menemui batas waktunya.

Namun, kami berharap api kesadaran yang terpercik dari tungku Rocket Stove itu terus menyala, membakar habis sikap apatis terhadap lingkungan, dan meninggalkan warisan kemandirian bagi generasi desa berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *