JOMBANG, TRETAN.news — Udara Jumat (28/8/2026) di Salam Hall Denanyar, Jombang, terasa berbeda. Ratusan mantan aktivis mahasiswa duduk melingkar, merajut kembali ingatan masa muda.
Namun, mereka datang bukan sekadar untuk bernostalgia. Ada kegelisahan kolektif yang menggantung berat di ruangan itu: nasib Nahdlatul Ulama (NU).
Ketua Umum DPP PKB, Abdul Muhaimin Iskandar, memecah keheningan. Sorot matanya tajam saat membedah buku bertajuk Dari Pergerakan Menuju Kepemimpinan.
Pria yang akrab disapa Gus Muhaimin ini menolak berbasa-basi. Ia meminta para alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berhenti menjadi penonton di pinggir arena.
”Tema terbesar hari ini adalah menyelamatkan NU dari keterpurukan lima tahun terakhir,” tegasnya. Suaranya menggema, menyentak kesadaran para hadirin.
Menggugat Pragmatisme di Tubuh Organisasi
Muhaimin mengajak para kader berani menatap luka dari dalam. Menurutnya, kejujuran mengakui kelemahan adalah fondasi pertama untuk merajut perbaikan.
Ia menelanjangi realita pahit yang mendera internal organisasi. Konflik kepentingan dan perebutan sumber daya perlahan menggerus keagungan marwah NU di mata publik.
“Perih lima tahun terakhir ini. Saya sebagai kader PMII, sebagai kader NU, melihat cakar-cakaran, rebutan uang di publik,” ungkapnya lirih, namun menukik tajam.
Bagi Muhaimin, pengaruh alumni PMII di arena Muktamar kelak harus menjadi penentu arah. Jabatan dan posisi harus mereka ubah menjadi instrumen penyelamatan, bukan sekadar kebanggaan personal.8
Manifesto Pemikiran Lintas Generasi
Kegelisahan itu nyatanya memicu lahirnya sebuah manifesto. Ketua Umum PB IKA PMII, Fathan Subchi, merangkum pemikiran lintas generasi melalui buku yang melibatkan ratusan alumni.
Sebanyak 44 penulis dari latar belakang berbeda, mulai dari pendamping petani, akademisi, hingga politisi—menyatukan visi mereka tentang masa depan bangsa dan jamiyah.
”Dari ideologi menuju gerakan. Kita kembangkan, dari gagasan menuju kepemimpinan,” papar Fathan optimis.
Ia mengingatkan, kekuasaan tak boleh berhenti sebagai trofi kemenangan pribadi. Kekuasaan harus menetas menjadi kebijakan yang memeluk penderitaan masyarakat di akar rumput.
Di sisi lain, Wasekjen PB IKA PMII, M. Sholeh Basyari, menyodorkan tawaran yang lebih provokatif.
Ia membaca sejarah melalui kacamata siklus sembilan tahunan politik nahdliyin.
Sholeh menarik garis waktu. Mulai dari Gus Dur pada 1999, konsolidasi politik 2009, hingga KH Ma’ruf Amin pada 2019.
Kini, ia melempar tanya ke udara. “Apakah siklus ini akan terulang pada 2029? Kalau terulang, tokoh sentralnya hanya satu, yakni Dr. Abdul Muhaimin Iskandar,” ucapnya yakin.
Ublek, Oncor, dan Ruh Kiai Kampung
Di tengah keriuhan wacana politik besar, Ketua Umum IKA Perempuan PMII, Luluk Nur Hamidah, mengambil jalan sunyi yang menyentuh kalbu.
Melalui tulisan berjudul Ublek dan Oncor, Luluk menarik hadirin dari panggung kekuasaan yang gemerlap menuju sudut-sudut kampung yang remang.
Ia menggunakan metafora ublek (lampu minyak) dan oncor (obor) untuk melukiskan rahim tempat NU pertama kali dikandung dan dilahirkan.
“NU itu saya mulai tidak dari sesuatu yang besar seperti hari ini. Saya melihat NU dari sesuatu yang kecil, intim, tenang, dan indah, seperti ublek,” kata Luluk perlahan.
Luluk mengingatkan, kebesaran NU tidak lahir dari mimbar-mimbar kekuasaan.
Nilai itu diwariskan dari keikhlasan kiai kampung, doa ibu nyai, dan kesabaran guru ngaji di musala berlantaikan kayu.
Dari ublek itulah anak-anak kecil merapal alif-ba-ta, merawat tradisi, dan belajar mencintai Tuhan jauh sebelum mereka mengenal hierarki organisasi.
Pertemuan di Jombang hari itu meninggalkan satu pesan yang membekas.
Alumni PMII kini berpacu dengan waktu, memastikan pelita ublek di akar rumput tidak padam tersapu badai pragmatisme elite.







