Seniman Ludruk Agus Kuprit & Ancaman Matinya Tradisi

Artikel, Investigasi15 Dilihat

TRETAN.news – Sorot lampu kekuningan membelah kegelapan panggung Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, pada malam 5 September 2026.

Di tengah panggung itu, seorang pria kelahiran 1958 berdiri mematung. Gurat keriput di wajahnya menyimpan ribuan naskah komedi dan tragedi kehidupan yang tak pernah dibukukan.

​Malam itu, seniman ludruk Agus Kuprit menerima Cak Durasim Award 2026. Tepuk tangan menggema memenuhi ruangan, merayakan puluhan tahun dedikasinya pada kesenian rakyat Jawa Timur.

Namun, di balik piala yang digenggamnya erat-erat, terselip sebuah alarm peringatan darurat.

Penghargaan ini bukan sekadar selebrasi masa lalu, melainkan potret investigatif tentang tradisi yang sedang bertarung melawan kepunahan di tengah abainya generasi muda.

​Menelan Pahit ‘Beton’ Nangka demi Panggung Tobong

​Menelusuri jejak pria bernama asli Agus Ali Sahid ini ibarat membedah sejarah kelam dan terang ludruk itu sendiri.

Darah seni mengalir dari ayahnya, Maripen, seorang pekerja ludruk tobong, grup sandiwara keliling yang mendirikan panggung dari bambu dan terpal seadanya.

​Kariernya tidak dimulai dari gemerlap sorot kamera. Pada 1974, saat masih berstatus siswa STM Pancasila Semarang, ia hanya bertugas di balik layar.

Tangannya lebih akrab dengan kayu dekorasi panggung ketimbang naskah kidungan.

Baru pada 1976, ia membagi hidupnya dalam dua dunia: siang menjadi pelajar, malam berubah menjadi pelakon ludruk.

​Nama “Kuprit” sendiri adalah warisan. Ia mengambil alih identitas panggung itu dari Pak Kuprit senior yang ditarik menjadi staf kantoran.

Di bawah bendera grup ludruk pimpinan A Manab di THR Semarang pada 1977, jalan terjal seniman jalanan mulai ia rasakan.

​Rekam jejak hidupnya mencatat masa-masa paling ekstrem saat grupnya tertahan di Salatiga.

Tanpa tanggapan pentas selama sebulan, urat nadi ekonomi grup itu putus total. Demi menyambung nyawa,

Agus terpaksa memasak “beton” atau biji buah nangka rebus sebagai pengganti nasi.

​”Kalau niat kita sudah bulat, rasanya tidak ada yang susah. Terpenting kita harus sabar, ikhlas, dan konsisten pada prinsip hidup,” ujarnya, mengenang masa kelam yang justru menempanya menjadi seniman baja.

​Melawan Arus Komedi Murahan dengan Kidungan Santun

​Memasuki dekade 1980-an, Agus mulai merajai panggung-panggung hiburan malam di Surabaya, seperti klub LCC dan Blue Sixteen.

Puncaknya, wajah dan suaranya mengudara di TVRI Surabaya lewat program Kidung Jenaka sepanjang tahun 1981 hingga 1991, sebelum akhirnya berlabuh di Ludruk RRI Surabaya.

​Di tengah gempuran pelawak yang kerap mencari jalan pintas, Agus Kuprit memilih jalur sunyi yang bermartabat.

Investigasi terhadap gaya panggungnya membuktikan sebuah integritas tinggi. Ia secara konsisten menolak membangun tawa di atas sentimen SARA, ejekan fisik, maupun komedi bernuansa pornografi.

​Tawanya cerdas. Ia membedah kelucuan lewat kelihaian permainan bahasa, benturan karakter, dan ironi situasi sosial.

Sebagai seorang pengidung ulung, ia telah melahirkan tak kurang dari 200 kidungan jula-juli. Karya-karyanya menjadi medium kritik sosial yang tajam namun tetap diselimuti keanggunan budaya khas arek.

​Krisis Regenerasi Seniman Ludruk: Siapa Penerus Takhta?

​Pemberian Cak Durasim Award 2026 yang diprakarsai oleh Heri Lento Prasetyo melalui Yayasan Surabaya Juang Indonesia, membuka kotak pandora mengenai masa depan kesenian ini.

Di balik gegap gempita Festival Ludruk Kepahlawanan, tersimpan ironi hilangnya rantai penerus.

​Agus Kuprit sendiri tidak bisa menyembunyikan kecemasannya.

Ia melihat langsung bagaimana generasi muda kini enggan, bahkan ragu, memilih jalan hidup sebagai pelakon tradisi. Ludruk dianggap tak lagi menjanjikan stabilitas ekonomi di era digital.

​Kurator Ludruk, Hengky Kusuma, mengonfirmasi krisis ini. Menurutnya, festival ini sengaja dirancang untuk memaksa terjadinya transfer pengetahuan.

​”Pengetahuan tentang Ludruk harus berpindah dari generasi senior kepada generasi muda.

Ini bukan cuma soal akting, tapi pemindahan nilai, kreativitas, penyampaian kritik sosial, dan cara membaca kehidupan,” tegas Hengky.

​Kemunculan komunitas seperti Tombo Ati Jombang dengan karya WUH dan Ludruk Karya Persada Mojokerto lewat Joko Sambang – Pendekar Gunung Gangsir di festival tersebut, menjadi setitik harapan.

Mereka adalah bukti bahwa jika dikemas dengan pendekatan yang relevan, ludruk masih memiliki napas untuk bersaing di zaman modern.

​Elegi di Ujung Usia

​Festival Cak Durasim telah kembali setelah jeda panjang sejak 2008. Tahun 2026 menjadi garis demarkasi yang menentukan,  apakah ini momentum kebangkitan, atau sekadar perayaan perpisahan sebelum tradisi ini benar-benar masuk museum?

​Bagi Agus Kuprit, piala di tangannya adalah sebuah amanah yang berat. Puluhan tahun ia menjaga agar napas jula-juli tidak putus di tengah jalan.

Namun, waktu adalah musuh yang tak bisa dilawan dengan kidungan paling jenaka sekalipun.

​Di akhir perbincangan, di bawah temaram lampu panggung yang mulai dimatikan satu per satu, sang maestro melontarkan sebuah pertanyaan retoris yang menyayat hati. Pertanyaan yang seharusnya dijawab oleh kita semua.

​”Saya sudah tua,” suaranya parau, tertahan di kerongkongan. “Lalu, siapa yang akan meneruskan?”

Kontributor: Rokim Dakas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *