Jamu Seduh Bu Atik, Racikan Cinta dari Sukolilo Bangkalan

Berita, UMKM24 Dilihat

BANGKALAN, tretan.news – Di tepi Jalan Sukolilo Timur, Desa Sukolilo, Kecamatan Labang, aroma rempah-rempah menyeruak dari sebuah warung sederhana yang cukup dikenal warga sekitar.

Toko itu bernama Jamu Seduh Bu Atik, sebuah usaha yang lahir dari kerja keras, kesabaran, dan kisah cinta seorang perantau asal Lamongan.

Pemilik usaha tersebut adalah Arifianto. Pria yang dikenal supel dan humoris itu hampir setiap hari menyapa pelanggan dengan senyum ramah.

Penampilannya juga mudah dikenali. Kacamata yang seharusnya menempel di mata justru lebih sering bertengger di atas kepalanya.

“Saya sudah terbiasa seperti ini. Kadang pelanggan malah lebih hafal kacamata saya daripada nama saya,” canda Arifianto sambil tertawa, Senin (1/6/2026).

Berawal dari Tekad Merantau dan Bertahan

Arifianto tidak membangun usahanya dalam semalam. Ia menghabiskan hampir lima tahun untuk merintis dan mempertahankan usaha jamu seduh yang kini mulai dikenal masyarakat sekitar.

Berbagai tantangan pernah ia hadapi. Mulai dari memperkenalkan produk kepada masyarakat hingga menghadapi persaingan dengan berbagai jenis minuman modern yang terus bermunculan.

Namun, Arifianto memilih bertahan. Ia percaya minuman herbal berbahan alami masih memiliki tempat di hati masyarakat.

“Yang penting konsisten menjaga kualitas dan pelayanan. Pelanggan akan datang kembali kalau mereka merasa cocok,” ujarnya.

Nama Bu Atik Menjadi Identitas Usaha

Di balik nama usaha yang unik, tersimpan cerita yang sederhana namun penuh makna.

Arifianto mengaku sengaja menggunakan nama istrinya sebagai identitas toko. Rasa sayang kepada sang istri menjadi alasan utama lahirnya nama Jamu Seduh Bu Atik.

“Saya kasih nama Bu Atik karena saya sayang istri. Biar usaha ini juga menjadi bagian dari perjalanan hidup kami berdua,” katanya.

Nama tersebut kini justru menjadi daya tarik tersendiri bagi pelanggan yang datang ke warungnya.

Lima Tahun Menjaga Kepercayaan Pelanggan

Selama hampir lima tahun menjalankan usaha, Arifianto terus menjaga kualitas racikan jamu yang dijualnya. Ia memilih bahan-bahan herbal dan rempah tradisional untuk menghasilkan jamu seduh yang sesuai dengan selera pelanggan.

Menurutnya, kepercayaan pelanggan merupakan modal terbesar dalam menjalankan usaha kecil.

Banyak pelanggan yang awalnya hanya mencoba, kemudian kembali datang karena merasa cocok dengan racikan jamu yang disajikan.

“Alhamdulillah, ada pelanggan yang sekarang sudah seperti keluarga sendiri karena sering datang ke sini,” tuturnya.

Jamu Tradisional Tetap Bertahan di Tengah Modernisasi

Di tengah perkembangan zaman dan maraknya minuman kekinian, Arifianto tetap optimistis terhadap masa depan usaha jamu tradisional.

Ia melihat kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat mulai meningkat. Kondisi itu membuat minuman herbal kembali mendapat perhatian.

Bagi Arifianto, usaha yang ia jalankan bukan sekadar tempat mencari nafkah. Jamu Seduh Bu Atik juga menjadi cara untuk menjaga warisan budaya yang telah lama hidup di tengah masyarakat Indonesia.

“Selama masih ada orang yang mencari minuman sehat berbahan alami, saya akan terus mempertahankan usaha ini,” tegasnya.

Hampir lima tahun merintis usaha mengajarkan Arifianto tentang arti kesabaran dan ketekunan. Dari sebuah warung sederhana di Desa Sukolilo, ia terus meracik harapan melalui segelas jamu seduh.

Di balik setiap racikan yang tersaji, tersimpan kisah perjuangan seorang perantau, cinta kepada keluarga, dan semangat untuk menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *