Takbir Bergema, Antrean Warga Mulai Memanjang di Ampel

Berita, Religi, Sosial24 Dilihat

SURABAYA, Tretan.News – Suara takbir menggema dari kawasan Masjid Sunan Ampel Surabaya sejak pagi. Lorong-lorong kampung mulai ramai. Warga berdatangan membawa kantong plastik dan kupon pembagian daging kurban.

Sebagian duduk di pinggir jalan, sebagian lain menunggu giliran sambil berbincang dengan tetangga.

Di tengah kondisi ekonomi yang belum benar-benar pulih, momen Iduladha 1447 Hijriah terasa lebih dari sekadar perayaan keagamaan. Bagi banyak warga, hari itu juga menjadi ruang untuk saling menguatkan dan berbagi.

Panitia kurban Masjid Sunan Ampel Surabaya bergerak cepat sejak pagi. Aroma khas hewan kurban bercampur dengan suasana padat kawasan religi yang tak pernah benar-benar sepi.

Idul Adha Jadi Pengingat tentang Keikhlasan dan Kepedulian

Di sela kegiatan penyembelihan hewan kurban, awak media menemui panitia kurban Masjid Sunan Ampel, H. Romli, yang didampingi H. Halis selaku Ketua Umum Aliansi Masyarakat Perantau (AMP) serta H. Heri, Rabu (27/05/2026).

Menurut H. Romli, Iduladha bukan hanya tentang ritual penyembelihan hewan, tetapi juga momentum untuk menanamkan nilai ketakwaan, keikhlasan, dan solidaritas sosial di tengah masyarakat.

“Momen Iduladha mengajarkan bahwa setiap pengorbanan harus dilakukan dengan hati yang tulus, bersih dari sifat egois dan materialistis,” ujar H. Romli.

Ia mengatakan, semangat berbagi melalui pembagian daging kurban mampu mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat yang saat ini menghadapi berbagai tekanan hidup.

“Kepedulian sosial dalam berbagi bisa menumbuhkan empati dan mempererat tali persaudaraan di tengah masyarakat,” katanya.

Semua Warga Berkumpul Tanpa Melihat Status Sosial

Di kawasan Ampel yang padat dan penuh aktivitas, suasana Iduladha terasa menyatukan banyak orang. Warga dari berbagai latar belakang berdiri dalam antrean yang sama. Tidak ada sekat status sosial saat pembagian daging kurban berlangsung.

H. Romli menegaskan, hakikat kurban bukan sekadar membagikan daging, tetapi juga menghadirkan rasa syukur dan kepedulian kepada sesama.

“Hakekat pembagian hewan kurban adalah bentuk kepedulian sosial, ibadah taqarrub kepada Allah SWT, serta wujud syukur atas rezeki,” jelasnya.

Menurutnya, distribusi daging kurban juga menjadi cara untuk meratakan manfaat dan memperkuat kebersamaan antarwarga.

“Distribusi ini memastikan manfaat kurban dirasakan bersama, mengikis kesenjangan, dan mempererat tali persaudaraan antarumat Muslim maupun masyarakat luas,” tambahnya.

5 Sapi dan 25 Kambing Disembelih untuk Ribuan Warga

Panitia kurban Masjid Sunan Ampel tahun ini menyembelih sekitar 25 ekor kambing dan 5 ekor sapi. Proses penyembelihan berlangsung bertahap dengan melibatkan panitia dan relawan di sekitar masjid.

Dari hasil penyembelihan tersebut, panitia menargetkan distribusi daging kurban kepada sekitar seribu penerima.

“Dari hewan yang disembelih nanti, insyaallah kami bagikan kepada sekitar seribu penerima hewan kurban,” pungkas H. Romli di hadapan awak media.

Di Tengah Kota yang Sibuk, Semangat Berbagi Masih Bertahan

Menjelang siang, antrean warga di sekitar Masjid Sunan Ampel masih terlihat panjang. Sebagian warga memilih berteduh di bawah tembok dan terpal sederhana sambil menunggu pembagian selesai.

Di tengah kerasnya kehidupan kota, suasana di Ampel siang itu menghadirkan pemandangan yang sederhana namun hangat. Orang-orang saling menyapa, berbagi cerita, dan pulang membawa daging kurban dengan wajah lega.

Iduladha di kawasan Ampel bukan hanya soal penyembelihan hewan. Di balik keramaian dan antrean panjang itu, ada pesan tentang keikhlasan, kepedulian, dan semangat berbagi yang tetap hidup di tengah masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *