PW GP Ansor Jatim Usulkan Muktamar NU Digelar di Hutan Wisata

Berita, Sosial90 Dilihat

JOMBANG, TRETAN.news – Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda (PW GP) Ansor Jawa Timur mengusulkan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) mendatang berlangsung di kawasan hutan wisata.

​Gagasan ini bertujuan menciptakan suasana musyawarah yang teduh, terbuka, dan membebaskan muktamirin dari berbagai tekanan.

​Ketua Departemen Pemanfaatan Hutan PW GP Ansor Jatim, Misbakhul Munir, melontarkan usulan tersebut pada diskusi kehutanan sosial di Jombang, Jumat (28/8/2026).

​“Kenapa Muktamar NU berikutnya tidak kita coba selenggarakan di hutan wisata?” tanya Munir.

​”Misalnya di kawasan Perhutani seperti Coban Rondo di Malang atau Tanjung Papuma di Jember,” ujarnya mencontohkan.

​Munir menilai lokasi alam terbuka akan membawa perubahan besar pada atmosfer musyawarah forum tertinggi NU tersebut.

​“Kita membutuhkan Muktamar yang udaranya segar sekaligus suasana permusyawaratan yang tidak pengap,” tuturnya.

Cegah Transaksi Politik

​Panitia penyelenggara perlu terus mengevaluasi desain Muktamar agar peserta memiliki ruang interaksi yang luas dan bebas.

​Munir mengkritisi pemusatan peserta di lokasi tertentu karena kerap menciptakan ruang eksklusif sebelum persidangan bermula.

​Kondisi tersebut berpotensi besar mempengaruhi dinamika persidangan karena adanya tekanan atau pengondisian suara.

​“Muktamar harus menjadi ruang bagi lahirnya keputusan melalui musyawarah,” tegas Munir.

​”Para muktamirin perlu memiliki kebebasan untuk berdialog dan menentukan sikap tanpa tekanan maupun pengondisian,” tambahnya.

​Kawasan terbuka dinilai ampuh mempersempit ruang transaksi politik dan mobilisasi kepentingan kelompok tertentu.

​“Kita perlu menciptakan desain Muktamar yang memperbesar ruang dialog dan mempersempit ruang transaksi,” tandasnya.

Berdayakan Ekonomi Warga

​Penyelenggaraan Muktamar di hutan juga berpotensi menggerakkan roda ekonomi masyarakat pinggiran secara masif.

​Munir membayangkan ribuan kiai, ulama, dan santri berkumpul serta berinteraksi langsung dengan warga lokal di kawasan hijau.

​Kehadiran peserta otomatis menghidupkan sektor UMKM, kuliner, transportasi, homestay, hingga jasa pariwisata.

​“Muktamar dapat menjadi ruang yang mempertemukan kepentingan organisasi dengan pemberdayaan masyarakat,” ucapnya.

​”Kehadiran ribuan muktamirin harus meninggalkan manfaat bagi masyarakat sekitar,” ujar Munir.

​Terakhir, Munir menyoroti nilai filosofis kawasan hutan yang sejalan dengan semangat dasar peduli lingkungan hidup Nahdlatul Ulama.

​“Mungkin kita perlu membawa tradisi Muktamar lebih dekat kepada alam,” ungkapnya.

​”Hutan mengajarkan keteduhan, keseimbangan, keberagaman dan kehidupan yang saling menopang. Nilai-nilai itu sangat dekat dengan spirit NU,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *