Maknai Maulid Nabi, Prof. Dr. Achmad Muhlis Ajak Umat Ubah Kegembiraan Spiritual Jadi Modal Sosial

Berita, Religi, Tokoh154 Dilihat

PAMEKASAN, Tretan.News Direktur Utama IBS Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) Pamekasan, Prof. Dr. KH. Achmad Muhlis, mengajak umat Islam memaknai Maulid Nabi dengan mengubah kegembiraan spiritual menjadi energi sosial dan kepedulian terhadap sesama.

Ketua Senat UIN Madura itu menyampaikan pandangannya melalui refleksi Al-Qur’an Surat Yunus ayat 58. Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an tidak melarang manusia untuk merasa gembira. Namun, kegembiraan tersebut perlu memiliki arah spiritual.

“Al-Qur’an mengarahkan agar kegembiraan memiliki orientasi transendental. Kebahagiaan sejati tidak diukur dari apa yang kita miliki, melainkan dari sejauh mana kita menyadari hadirnya karunia (fadhlullah) dan rahmat Allah (rahmatullah) dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Prof. Muhlis dalam rilis yang diterima media ini, Rabu (26/8/2026).

Prof. Muhlis menjelaskan, pesan QS Yunus ayat 58 menggeser pusat kebahagiaan dari kepemilikan material menuju kebermaknaan spiritual. Ayat tersebut berbunyi, “Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”

Untuk memperjelas hal itu, Ia mencontohkan keberhasilan seorang anak menghafal Al-Qur’an sebagai pencapaian yang patut disyukuri dan dimaknai secara spiritual. Menurutnya, kegembiraan tersebut tidak seharusnya berhenti pada kebanggaan akademik atau kepuasan ego semata.

Menurut Prof. Muhlis, masyarakat perlu merayakan capaian tersebut sebagai wujud syukur atas karunia Allah dan menjaganya melalui amal nyata.

Kegembiraan Maulid Nabi Harus Berdampak Sosial

Lebih lanjut, Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam itu kemudian mengaitkan refleksi ayat tersebut dengan momen peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Ia menyebut para ulama sepakat menjadikan ayat tersebut sebagai landasan dasar kebolehan mengekspresikan kegembiraan atas hadirnya Rasulullah SAW.

Ia menjelaskan bahwa Rasulullah SAW diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam atau rahmatan lil ‘alamin. Namun, Prof. Muhlis memberikan catatan agar ekspresi kegembiraan keagamaan tidak berhenti menjadi ritual simbolis semata. Ia menegaskan, masyarakat perlu mengubah kegembiraan spiritual menjadi energi sosial dan kepedulian terhadap sesama.

“Ketika masyarakat berkumpul memperingati Maulid, membaca Al-Qur’an, bershalawat, menyantuni anak yatim, hingga berbagi makanan kepada yang membutuhkan, di situlah kegembiraan individual bertransformasi menjadi modal sosial. Kebahagiaan pribadi dikonversikan menjadi kebahagiaan bersama,” jelasnya.

Ia menambahkan, masyarakat perlu membangun persatuan tidak hanya melalui kepentingan ekonomi, tetapi juga melalui nilai dan pengalaman spiritual bersama.

Di lingkungan pesantren dan masyarakat umum, perayaan keagamaan harus menjadi ruang reproduksi nilai.  Ruang tersebut menjadi tempat generasi tua menanamkan rasa cinta kepada Nabi, sementara generasi muda belajar bahwa kegembiraan beragama wajib membuahkan kepedulian sosial.

Prof. Muhlis menjelaskan hubungan antara kegembiraan yang bersumber dari rahmat Allah dengan rasa syukur dan kepedulian.

“Kegembiraan yang bersumber dari rahmat Allah akan melahirkan rasa syukur. Syukur melahirkan kepedulian, dan kepedulian melahirkan kemanfaatan nyata bagi sosial. Sebaliknya, kebahagiaan yang berpusat pada ego dan materi hanya akan memicu kesombongan serta kompetisi yang tidak sehat,” tegas Ketua Senat UIN Madura itu.

Menutup refleksinya, Prof. Achmad Muhlis menekankan bahwa pesan terbesar QS Yunus ayat 58 adalah menjadikan kegembiraan sebagai pemantik perubahan perilaku.

“Semakin seseorang mengenal dan mencintai Rasulullah, semestinya makin lembut akhlaknya, makin luas kepeduliannya, dan makin besar manfaat yang ia bagikan kepada sesama. Kegembiraan paling bernilai bukanlah karena banyaknya hal yang berhasil kita kumpulkan, melainkan karena menyadari rahmat Allah yang kemudian kita bagikan kembali kepada kehidupan,” pungkasnya. (*)

 

Achmad Muhlis membahas makna Maulid Nabi dan kepedulian sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *