Ansor Jatim Gelar Halaqoh Tani Muda, Dorong Regenerasi Petani

Berita, Sosial119 Dilihat

JOMBANG, TRETAN.news – Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (PW GP) Ansor Jawa Timur menggelar Halaqoh Tani Muda di Jombang, Sabtu (29/8/2026).

​Kegiatan ini bertujuan mengurai persoalan sektor pertanian, khususnya mendorong keterlibatan aktif generasi muda.

​Ketua PW Ansor Jatim, Musaffa Safril, menyebut persoalan pertanian membutuhkan pendekatan yang inovatif.

​Ia mengajak kaum muda terlibat langsung membangun kemandirian ekonomi melalui sektor pertanian modern.

​“Pertanian harus kita lihat sebagai masa depan. Jangan sampai anak-anak muda hanya menjadi penonton,” ujar Musaffa.

​Ansor Jatim berupaya mendorong pemuda menjadikan pertanian sebagai ruang pengabdian bernilai ekonomi tinggi.

​Musaffa menegaskan forum ini bertujuan mengumpulkan dan mereplikasi praktik baik kader di daerah.

​”Problem petani harus kita dengarkan, kemudian kita cari solusinya bersama,” tutur Musaffa.

Apresiasi Inovator Desa

​Sebagai wujud dukungan, PW Ansor Jatim menyerahkan penghargaan Ansor Agro Inovasi Award.

​Penghargaan ini mengapresiasi para kader penggerak inovasi pertanian dan pembangunan desa unggulan.

​Kepala Desa Wates Blitar, Moh. Hamid Al Maududi, berhasil meraih juara pertama.

​Posisi juara kedua diraih Kepala Desa Krisik Ponorogo, Erwan Santoso.

​Sementara itu, Kepala Desa Lebak Bawean, Fadal, menempati posisi juara ketiga.

​Ketua Tani Kebun PW Ansor Jatim, Deni Prasetya, berharap penghargaan ini memotivasi kader lainnya.

​“Tiga pemenang ini menjadi contoh bahwa kader Ansor bisa bergerak dari desa,” kata Deni.

​Deni menekankan pentingnya menciptakan inovasi pertanian yang sesuai karakter dan potensi masing-masing wilayah.

Kelestarian Kawasan Hutan

​Halaqoh ini juga membahas potensi kawasan hutan bagi peningkatan kesejahteraan petani desa.

​Ketua Departemen Pemanfaatan Kawasan Hutan Ansor Jatim, Misbahul Munir, memaparkan peluang produktif tersebut.

​Munir menilai kawasan hutan berpotensi menjadi area garapan bernilai ekonomi tanpa merusak ekosistem.

​“Kawasan hutan memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi area produktif,” ujar Munir.

​Ia menegaskan, produktivitas pertanian dan kelestarian fungsi ekologis hutan harus selalu berjalan berdampingan.

​Munir mendorong pemuda memanfaatkan teknologi untuk mengelola komoditas yang sesuai karakter wilayah perhutanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *