Mengejutkan.! Gempol Tertinggi Angka Kecelakaan di Pasuruan

PASURUAN, tretan.news – Deru kendaraan nyaris tak pernah berhenti di Kecamatan Gempol. Sebagai salah satu kawasan industri dan jalur penghubung strategis di Kabupaten Pasuruan, wilayah ini hidup dalam ritme mobilitas yang tinggi sejak pagi hingga larut malam.

Namun di balik geliat ekonomi tersebut, tersimpan fakta yang mengundang keprihatinan. Gempol kini tercatat sebagai wilayah dengan angka kecelakaan lalu lintas tertinggi di Kabupaten Pasuruan.

Kondisi itulah yang mendorong Jasa Raharja bersama Satlantas Polres Pasuruan dan Pemerintah Kecamatan Gempol menggelar Program Intensifikasi Keselamatan Transportasi Berbasis Domisili Korban di Aula Kecamatan Gempol, Rabu (10/6/2026).

Kegiatan tersebut mempertemukan aparatur kecamatan, perangkat desa, hingga unsur kepolisian dalam satu tujuan yang sama: menekan angka kecelakaan dan membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya keselamatan berlalu lintas.

Mobilitas Tinggi, Risiko Semakin Besar

Sekretaris Kecamatan Gempol, Sobih Asrori, mengungkapkan bahwa tingginya angka kecelakaan tidak terlepas dari karakteristik wilayah Gempol yang memiliki mobilitas kendaraan sangat padat setiap harinya.

Selain berstatus sebagai kawasan industri, wilayah Gempol juga memiliki sejumlah ruas jalan menurun yang menuntut kewaspadaan tinggi dari para pengguna jalan.

“Makanya angka kecelakaan cukup tinggi. Dengan kegiatan ini kita bisa sharing bersama supaya lebih paham dan mampu meminimalisir kecelakaan. Gempol sebagai wilayah industri menjadi salah satu penyebab tingginya angka kecelakaan,” ujar Sobih.

Bagi masyarakat Gempol, kecelakaan lalu lintas bukan lagi sekadar angka statistik. Hampir setiap warga memiliki cerita tentang keluarga, kerabat, atau tetangga yang pernah menjadi korban di jalan raya.

Ketika Tiga Detik Bisa Mengubah Segalanya

Kanit Kamsel Satlantas Polres Pasuruan, Aipda Arifian Miftahul Firdaus, menegaskan bahwa Kecamatan Gempol saat ini menjadi wilayah dengan angka kecelakaan tertinggi di kawasan hukum Polres Pasuruan.

Menurutnya, selain tingginya volume kendaraan, faktor perilaku pengguna jalan masih menjadi penyebab dominan terjadinya kecelakaan.

Data Satlantas Polres Pasuruan mencatat sepanjang tahun 2026 terdapat 1.552 korban luka ringan dan 235 korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas.

Karena itu, pihaknya terus mengingatkan masyarakat untuk selalu mematuhi aturan berlalu lintas, melengkapi dokumen kendaraan, tidak melawan arus, menghindari penggunaan telepon seluler saat berkendara, serta tidak menggunakan knalpot yang tidak sesuai ketentuan.

“Tiga detik telat merespons karena bermain HP saat berkendara, dampaknya bisa fatal. Yang menjadi korban kadang bukan dirinya sendiri, tetapi pengguna jalan lain,” tegas Arifian.

Pernyataan itu menggambarkan betapa tipisnya batas antara keselamatan dan musibah di jalan raya.

Di Balik Angka, Ada Kehilangan yang Nyata

Penanggung Jawab Bidang Pelayanan Jasa Raharja Cabang Malang, Nur Hadi Wijoyo, menyebut Gempol masih menempati posisi tertinggi angka kecelakaan di wilayah kerja Jasa Raharja Cabang Malang.

Jasa Raharja mencatat 180 kecelakaan lalu lintas di wilayah Gempol selama periode Januari hingga September 2025.

Dari jumlah tersebut, 18 orang meninggal dunia dan 100 lainnya mengalami luka-luka.

Jasa Raharja mencatat kenaikan angka kecelakaan di Gempol hingga sekitar 18 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Bagi Nur Hadi, setiap data yang tercatat bukan sekadar deretan angka dalam laporan.

“Ini bukan sekadar angka, ini tetangga kita, keluarga kita. Karena itu keselamatan harus menjadi tanggung jawab bersama,” katanya.

Korban luka-luka berhak memperoleh jaminan biaya perawatan hingga Rp20 juta dari Jasa Raharja.

Apabila biaya pengobatan melebihi plafon tersebut, Jasa Raharja akan berkoordinasi melalui program BPJS Kesehatan.

Meski demikian, Nur Hadi mengingatkan bahwa santunan hanya dapat meringankan beban ekonomi, tetapi tidak dapat mengembalikan orang yang telah hilang dari tengah keluarga.

Jasa Raharja sendiri telah menyalurkan santunan kecelakaan hingga mencapai Rp57,8 miliar.

“Namun tidak ada santunan yang bisa menggantikan nyawa maupun kesehatan yang hilang akibat kecelakaan,” ujarnya.

Membangun Agen Keselamatan dari Tingkat Desa

Melalui program bertajuk “Mengedukasi, Menginspirasi, dan Menggerakkan Masyarakat untuk Keselamatan”, Jasa Raharja berharap aparatur desa dan kecamatan dapat menjadi ujung tombak dalam menyebarkan kesadaran keselamatan berlalu lintas.

Melalui program tersebut, aparatur desa dan kecamatan mengambil peran aktif dalam mengedukasi masyarakat, mendata potensi risiko, serta menggerakkan berbagai upaya pencegahan kecelakaan di lingkungan masing-masing.

Pada penghujung kegiatan, seluruh peserta bersama-sama membacakan Deklarasi Komitmen Agen Keselamatan Transportasi Jasa Raharja di bawah panduan Ketua Ansor Gempol, Subkhan.

Sebagai simbol komitmen keselamatan, Jasa Raharja juga membagikan helm berstandar nasional kepada seluruh peserta yang hadir.

Menjaga Nyawa, Menjaga Masa Depan

Di tengah padatnya lalu lintas dan tingginya aktivitas kendaraan di Gempol, para pemangku kepentingan dalam kegiatan tersebut menegaskan satu pesan sederhana: keselamatan merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas satu pihak.

Pemerintah, aparat, perangkat desa, hingga masyarakat memiliki peran yang sama penting dalam menciptakan budaya tertib berlalu lintas.

Karena pada akhirnya, setiap kecelakaan tidak hanya meninggalkan kerusakan kendaraan atau luka fisik. Ada keluarga yang menunggu di rumah, ada harapan yang terhenti, dan ada masa depan yang bisa berubah hanya dalam hitungan detik.

“Hari ini kita mulai menyelamatkan warga kita. Karena setiap nyawa itu berharga,” pungkas Nur Hadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *