Menjemput Ingatan yang Tercecer di Galeri Prabangkara

Artikel, Budaya96 Dilihat

SURABAYA, TRETAN.news – Suasana Galeri Prabangkara di Komplek UPT Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Genteng Kali, Surabaya, terasa hangat pada Kamis (23/7/2026).

Di balik riuh kesibukan kota, ruangan pameran tersebut menyuguhkan perenungan mendalam tentang arah perjalanan budaya bangsa.

​Hari itu, para pegiat budaya, seniman, dan tokoh masyarakat berkumpul dalam acara Peluncuran dan Pameran Kartu Aksara Jawa.

Mengusung tema “Merawat Warisan, Menghidupkan Aksara, Membangun Peradaban”, perhelatan ini hadir sebagai ikhtiar nyata merevitalisasi aksara Jawa yang kian terpinggirkan.

​Taufik Hidayat, S.Pd., pencipta kartu aksara jawa yang menjadi penggagas pameran ini, berdiri di antara deretan media edukasi visual tersebut.

Tatapannya menatap nanar realita sosial masyarakat modern yang perlahan kehilangan ikatan dengan tradisi tulisan leluhurnya.

​Ia melihat fenomena krisis identitas sedang melanda generasi muda.

Banyak anak muda terampil menguasai bahasa asing seperti Mandarin, Arab, Inggris, hingga Jepang, namun justru merasa asing saat membaca carakan di tanah kelahirannya sendiri.

​”Maka moralitas dan mentalitas kita saat ini lebih suka dengan tulisan asing,” ujar Taufik menegaskan alasan di balik hadirnya pameran ini.

Bahasa Kaya, Peradaban Tinggi

​Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur, Dr. Dra. Sri Untari Bisowarno, M.A.P., yang hadir meresmikan acara tersebut, menyampaikan kegelisahan serupa.

Dengan nada suara mantap namun bergetar, ia menyoroti pergeseran minat berbahasa di lingkungan pendidikan saat ini.

​Sri Untari mengingatkan seluruh hadirin bahwa keberadaan aksara lokal dan ragam kosakata merupakan bukti otentik dari tinggi nya suatu peradaban.

Bahasa Jawa, menurutnya, menyimpan kekayaan istilah yang sangat presisi untuk menggambarkan realita kehidupan sehari-hari.

​”Ini adalah salah satu bukti bahwa kita adalah bangsa yang memiliki peradaban tinggi karena bahasanya begitu kaya dan beranekaragam,” tutur Sri Untari lugas.

​Kekayaan filosofis ini, lanjutnya, tidak boleh hilang begitu saja hanya karena gelombang zaman.

Sebaliknya, anak-anak di sekolah perlu kembali disapa oleh lekuk-lekuk huruf carakan yang sarat makrifat dan ajaran hidup.

​Menyalakan Kembali Obor Tradisi di Sekolah

​Melalui hadirnya inovasi Kartu Aksara Jawa, proses belajar bahasa daerah diharapkan tidak lagi menjadi beban hafalan yang kaku, melainkan pengalaman visual yang menyenangkan dan interaktif bagi siswa.

​Sri Untari menegaskan komitmennya untuk mendorong perluasan penggunaan media pembelajaran ini di seluruh wilayah Jawa Timur.

Ia berharap kebijakan pendidikan daerah dapat memberi ruang yang lebih luas bagi pelestarian bahasa ibu.

​”Saya meminta untuk meluaskan gerakan ini kepada seluruh anak-anak kita di Jawa Timur agar mereka mengenal kembali Aksara Jawa,” tegas Sri Untari memungkas sambutannya.

​Kartu-kartu yang terpajang rapi di Galeri Prabangkara hari itu bukan sekadar lembaran kertas berderet huruf kuno.

Lembaran itu adalah cermin yang mengajak masyarakat Jawa Timur untuk berhenti sejenak, menatap ke dalam diri, dan mengeja kembali identitas yang sempat hilang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *