PASURUAN, TRETAN.news — Mediasi keluhan kebisingan sound system di Balai Desa Kejapanan, Kabupaten Pasuruan, memanas. Sejumlah warga memprotes dua perempuan berinisial AK dan KR.
Peristiwa ini terjadi pada Kamis (29/10/2026). Warga meneriaki kedua pelapor agar segera pindah dari lingkungan tersebut.
Warga berkumpul di luar balai desa membawa poster bernada sindiran. Mereka kecewa dan menilai sikap AK dan KR arogan.
Alasan Laporan Kebisingan
AK menegaskan dirinya tidak melarang kegiatan warga. Ia hanya meminta penurunan volume sound system agar tidak mengganggu aktivitasnya.
“Keluhan saya cuma suara itu mengganggu sampai masuk ke rumah saya. Saya cuma minta mengecilkan sound system,” ungkap AK.
AK mengaku sudah mengukur tingkat suara mencapai 80 desibel. Padahal, batas maksimal suara di kawasan permukiman adalah 50 desibel.
Kebisingan ini mengganggu waktu istirahat dan rapat daring. Anak AK juga merasa terganggu oleh suara tersebut.
Keluhan senada datang dari KR. Suara keras memicu getaran di dada dan membuat kaca rumahnya ikut bergetar.
“Tolonglah suaranya dikecilkan sedikit. Dada saya sampai gemetar, kaca rumah saya juga ikut gemetar,” ujar KR.
KR menyayangkan munculnya penilaian negatif terhadap keluarganya. Ia mengklaim selalu berkontribusi dalam kegiatan lingkungan pada hari raya.
Pembelaan Warga dan Tindakan Pemdes
Ketua RW setempat, Purnomo, membantah adanya sound horeg. Ia menilai penggunaan perangkat suara warga masih dalam batas wajar.
“Kalau saya kira, penyetelannya sudah sesuai. Tidak ada yang bising. Di warga tidak ada sound horeg, yang ada memang sound system biasa,” kata Purnomo.
Menyikapi hal ini, Kepala Desa Kejapanan, Randi Saputra, mengambil langkah tengah. Pihaknya akan mengecek langsung tingkat kebisingan di lapangan.
“Kami bersama ketua RT dan RW akan mengecek ke rumah Bu Hajah KR untuk mengukur berapa desibel suara sound system,” jelas Randi.
Mediasi ini dihadiri perangkat desa, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas. Ketegangan warga sempat berlanjut usai mediasi resmi berakhir.
Massa nyaris mengarak kedua pelapor saat pulang. Kakak kandung AK akhirnya datang dan berhasil menenangkan warga hingga massa membubarkan diri.







