MALANG, TRETAN.news – Komunitas Difabel Malang Raya merancang pembangunan galeri khusus untuk menampung dan memasarkan berbagai produk unggulan karya penyandang disabilitas.
Rencana strategis ini mengemuka di sela kegiatan tahlil keliling (tahling) rutin bulanan yang berlangsung di Jalan Muhammad Rowi Utara, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, pada Minggu (12/7/2026).
Humas Komunitas Difabel Malang Raya, Ahmad Sana’i, S.Pd., S.Pd.I., mengungkapkan bahwa ruang pameran tersebut rencananya akan menempati kediaman Dr. Sakban Rosidi, M.Si., Wakil Rektor Bidang Manajemen Informasi Perencanaan dan Pengembangan Universitas Islam Majapahit (Unim) Mojokerto.
”Rencananya galeri itu berada di rumah Bapak Sakban Rosidi yang terletak di Jalan Raya Tlogowaru 88, Kedungkandang, Kota Malang,” kata Ahmad Sana’i pada Minggu (12/7/2026).
Wadah Kolaborasi Lintas Organisasi

Sana’i menjelaskan, pertemuan berkala ini menjadi wadah silaturahmi yang menghadirkan seluruh elemen organisasi penyandang disabilitas di wilayah tersebut.
Sejumlah kelompok yang hadir di antaranya Paguyuban Difabel Kedungkandang, Paguyuban Difabel Pakis, Difabel Motor Indonesia (DMI), dan Forum Malang Inklusi.
Anggota komunitas menggelar kegiatan keagamaan dan diskusi ini secara bergilir setiap bulan di rumah masing-masing.
Komunitas menggelar kegiatan keagamaan dan diskusi ini secara bergilir di rumah anggota setiap bulannya.
”Ada hasil karya membatik, pembuatan keset, dompet handphone, tas, dan lain sebagainya,” ujar pria yang juga mengelola usaha pupuk organik tersebut.
Rencana Jangka Panjang Rumah Kreatif
Selain menyiapkan sektor hilir pemasaran produk, Komunitas Difabel Malang Raya tengah menyusun program pendampingan dari hulu. Komunitas menjadwalkan sejumlah pelatihan intensif guna mengasah keterampilan teknis para anggota.
”Selain tahling, sekalian juga merancang kegiatan yang lain, seperti pelatihan untuk teman-teman disabilitas. Juga ada pelatihan musik, dan ke depan punya rencana membuat rumah kreatif,” tutur Sana’i.
Langkah terintegrasi ini menjadi bentuk nyata gerakan advokasi kepada masyarakat luas dan pemerintah. Komunitas ingin memperlihatkan bahwa keterbatasan fisik bukan menjadi penghalang untuk tetap produktif.
”Kegiatan ini juga merupakan salah satu advokasi kepada masyarakat sekitar maupun pemerintah bahwa, meski mempunyai keterbatasan, namun tetap bisa melakukan sesuatu hal yang sama dengan orang-orang non-difabel,” pungksi Sana’i.







