KUPANG, TRETAN.news — Gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 memicu gelombang tsunami di sejumlah kawasan pesisir Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) pagi.
Bencana ini mengakibatkan sedikitnya 43 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Pusat gempa dangkal yang berada di laut timur laut Nagekeo memicu gelombang tsunami dengan ketinggian mencapai 1,61 meter.
Hingga saat ini, proses pendataan dan evakuasi masih berlangsung. Petugas di lapangan menghadapi kendala akibat kerusakan infrastruktur dan gangguan jaringan komunikasi.
Sebaran Korban Jiwa di Lima Wilayah
Berdasarkan data sementara, korban meninggal dunia tersebar di lima wilayah. Kabupaten Manggarai mencatat jumlah korban tertinggi sebanyak 21 orang.
Wilayah lainnya meliputi Manggarai Timur dengan 17 korban jiwa, Sikka 3 orang, serta Manggarai Barat dan Ngada masing-masing melaporkan 1 korban meninggal.
Otoritas setempat menyatakan jumlah korban berpotensi bertambah seiring berjalannya proses evakuasi.
BMKG Catat 235 Gempa Susulan
Aktivitas seismik di kawasan utara Pulau Flores masih terus berlangsung. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan sedikitnya 235 gempa susulan mengguncang wilayah tersebut.
Kondisi ini mendorong ribuan warga dari pesisir Ende, Sikka, Nagekeo, Flores Timur, hingga Lembata meninggalkan permukiman.
Mereka mengungsi ke wilayah perbukitan dan dataran tinggi untuk menghindari potensi bahaya lanjutan.
Para pengungsi memilih bertahan di tenda-tenda darurat meski kawasan tersebut terus diguyur hujan.
Kerusakan Parah di Kawasan Reo
Kecamatan Reo di Kabupaten Manggarai menjadi salah satu wilayah dengan tingkat kerusakan paling parah. Gelombang tsunami menerjang kawasan pesisir hingga area pelabuhan Reo.
Sedikitnya delapan orang meninggal dunia di wilayah Reo akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Tim evakuasi menemukan sebagian besar korban di Kelurahan Reo dan Kelurahan Mata Air.
Guncangan gempa merobohkan deretan ruko dan bangunan bertingkat di sepanjang jalan utama Reo.
Kediaman mantan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate di wilayah tersebut juga mengalami kerusakan berat hingga nyaris rata dengan tanah.
Fasilitas Kesehatan Rusak dan Akses Terputus
Bencana ini melumpuhkan fasilitas pelayanan publik vital. Bangunan RS Pratama Reok dan Puskesmas Reok mengalami kerusakan struktural, mengakibatkan pelayanan medis bagi korban tidak dapat berjalan maksimal.
Proses pengiriman bantuan logistik menuju lokasi terdampak juga terhambat. Longsoran tanah dan material beton menutup total jalur darat utama yang menghubungkan Ruteng dan Reo.
(Catatan: Data korban dan jumlah gempa susulan merupakan data sementara yang akan terus diperbarui berdasarkan hasil verifikasi lapangan).







