SURABAYA, TRETAN.news – Aktivis ’98 Eko Gagak mengecam penggunaan istilah “Londo Ireng” oleh Presiden Prabowo Subianto.
Ia mendesak Kepala Negara meminta maaf secara terbuka kepada publik.
Presiden Prabowo menyampaikan pernyataan itu saat peringatan Hari Lahir ke-28 PKB di Jakarta Convention Center.
Dalam pidatonya, Presiden menyindir pihak-pihak yang mengabdi pada kepentingan asing.
Presiden mengaitkan istilah tersebut dengan jurnalis, akademisi, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
”Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain,” ujar Presiden Prabowo.
”Itu yang dulu kita sebut Londo Ireng,” tambah Kepala Negara dalam pidato tersebut.
Eko Gagak menilai sindiran terhadap fungsi kontrol media dan LSM tidak tepat disampaikan pejabat publik.
Menurut Eko, penyampaian fakta oleh pers dan akademisi merupakan bagian dari mekanisme checks and balances.
”Kritik tersebut menyasar mentalitas, bukan identitas fisik atau ras,” kata Eko Gagak melalui keterangan tertulis.
Ia menegaskan kritik muncul saat kekuasaan digunakan untuk menekan rakyat.
Eko menyayangkan sikap Presiden yang mempertanyakan sumber pembiayaan operasional pers dan LSM.
Ia meminta pemerintah lebih fokus menyelesaikan persoalan mendasar bangsa ketimbang memicu kegaduhan.
“Penyalahgunaan kekuasaan, praktik KKN, keserakahan, dan kemiskinan merupakan musuh bangsa yang sesungguhnya,” tutur Eko.
Melalui peryataannya, Eko Gagak menyampaikan dua tuntutan utama kepada pemerintah.
Pertama, menarik ucapan terkait analogi “Londo Ireng” dan meminta maaf secara terbuka.
Kedua, menjamin ruang aman bagi pers sebagai pilar keempat demokrasi demi hak informasi publik.
Eko juga mengimbau masyarakat menyimak pidato pejabat publik secara utuh agar tidak memicu disinformasi.







