Soroti Istilah Londo Ireng, Aktivis ’98 Desak Presiden Minta Maaf

Berita, Investigasi27 Dilihat

SURABAYA, TRETAN.news – Aktivis ’98 Eko Gagak mengecam penggunaan istilah “Londo Ireng” oleh Presiden Prabowo Subianto.

​Ia mendesak Kepala Negara meminta maaf secara terbuka kepada publik.

Presiden Prabowo menyampaikan pernyataan itu saat peringatan Hari Lahir ke-28 PKB di Jakarta Convention Center.

Dalam pidatonya, Presiden menyindir pihak-pihak yang mengabdi pada kepentingan asing.

​Presiden mengaitkan istilah tersebut dengan jurnalis, akademisi, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

​”Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain,” ujar Presiden Prabowo.

​”Itu yang dulu kita sebut Londo Ireng,” tambah Kepala Negara dalam pidato tersebut.

​Eko Gagak menilai sindiran terhadap fungsi kontrol media dan LSM tidak tepat disampaikan pejabat publik.

​Menurut Eko, penyampaian fakta oleh pers dan akademisi merupakan bagian dari mekanisme checks and balances.

​”Kritik tersebut menyasar mentalitas, bukan identitas fisik atau ras,” kata Eko Gagak melalui keterangan tertulis.

​Ia menegaskan kritik muncul saat kekuasaan digunakan untuk menekan rakyat.

​Eko menyayangkan sikap Presiden yang mempertanyakan sumber pembiayaan operasional pers dan LSM.

​Ia meminta pemerintah lebih fokus menyelesaikan persoalan mendasar bangsa ketimbang memicu kegaduhan.

​“Penyalahgunaan kekuasaan, praktik KKN, keserakahan, dan kemiskinan merupakan musuh bangsa yang sesungguhnya,” tutur Eko.

​Melalui peryataannya, Eko Gagak menyampaikan dua tuntutan utama kepada pemerintah.

​Pertama, menarik ucapan terkait analogi “Londo Ireng” dan meminta maaf secara terbuka.

​Kedua, menjamin ruang aman bagi pers sebagai pilar keempat demokrasi demi hak informasi publik.

​Eko juga mengimbau masyarakat menyimak pidato pejabat publik secara utuh agar tidak memicu disinformasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *