Ketua DPRD Pasuruan: Pembangunan Daerah Wajib Rawat Budaya

Budaya141 Dilihat

PASURUAN, TRETAN.news — Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, Samsul Hidayat, menegaskan budaya lokal harus menjadi pilar utama pembangunan daerah.

​Pernyataan ini ia sampaikan saat menghadiri penutupan Ruwah Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Minggu (20/9/2026).

​Acara ini sekaligus memperingati Hari Jadi ke-1.097 Kabupaten Pasuruan.

​Samsul menilai pembangunan daerah tidak boleh hanya berfokus pada infrastruktur fisik semata.

​Pemerintah dan masyarakat wajib merawat kebudayaan lokal sebagai identitas asli daerah.

​“Membangun Kabupaten Pasuruan ini tidak hanya membangun secara fisik,” tegas Samsul.

​“Yang saat ini sangat penting adalah bagaimana kita memelihara dan membudayakan kebudayaan kita sendiri,” ujarnya.

Apresiasi Semangat Gotong Royong

​Samsul juga mengapresiasi kolaborasi apik antara Pemerintah Desa Bulusari, lembaga pendidikan, dan masyarakat setempat.

​Ia menilai kesuksesan acara tersebut mencerminkan tingginya semangat gotong royong warga.

​“Ini membuktikan kolaborasi yang luar biasa antara Pemerintah Desa Bulusari, lembaga-lembaga, dan masyarakat,” jelasnya.

​“Walaupun biaya yang dibutuhkan tidak sedikit, berkat kekompakan dan kebersamaan, semua acara dapat terlaksana dengan lancar,” tambahnya.

Wayang Kulit dan Tari Puspitarum

​Puncak acara menampilkan pagelaran wayang kulit oleh dalang Ki Hasan Yulianto asal Sidoarjo.

​Pertunjukan ini mengangkat lakon “Sesaji Rojo Suyo” dan mendapat sambutan antusias dari masyarakat.

​Menurut Samsul, kesenian tradisional seperti wayang kulit memiliki fungsi ganda yang penting.

​Kesenian ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga memuat tuntunan dan nilai kehidupan bagi masyarakat.

​Acara tersebut juga menampilkan Tari Puspitarum oleh siswi SDN Bulusari 1.

​Tari penyambutan tamu khas Pasuruan ini telah resmi memiliki Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Rangkaian Ruwah Desa

​Rangkaian Ruwah Desa Bulusari ini berlangsung selama dua hari penuh dengan meriah.

​Panitia menggelar khatam Al-Qur’an, Bulusari Culture Carnival 2026, hingga pementasan seni unjung.

​Samsul berharap semangat menjaga budaya ini terus berlanjut hingga ke generasi mendatang.

​“Mari kita jaga kebersamaan ini, kita rawat budaya kita, dan kita wariskan kepada anak-anak kita,” pesannya.

​“Karena kalau bukan kita yang menjaga budaya ini, siapa lagi,” tegas Samsul.

​“Mudah-mudahan Desa Bulusari semakin maju, semakin guyub, dan masyarakatnya semakin sejahtera,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *