SURABAYA, tretan.news – Di sudut Institut Teknologi Sepuluh Nopember, tepatnya di Hall Tower 1 lantai dasar, Selasa pagi itu (5/5/2026) tidak berjalan seperti hari-hari akademik biasa.
Tak ada hiruk-pikuk soal nilai atau tenggat tugas. Yang tampak justru antrean orang-orang yang rela menyumbangkan sesuatu yang tak bisa diproduksi mesin.
Sejak awal kegiatan, langkah kaki datang silih berganti. Mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, hingga alumni berbaur dalam satu barisan sunyi, barisan yang tidak banyak bicara, tetapi cukup lantang dalam makna.
Kegiatan bertajuk B-Healthy BIMITS 2026 dengan tema “Setetes Darah, Sejuta Harapan” itu, sekilas terdengar seperti slogan klasik yang kerap lewat begitu saja. Namun di ruangan itu, slogan tersebut menemukan tubuhnya. Ia hidup dalam kantong-kantong darah yang perlahan terisi, satu demi satu.
Program yang digagas Departemen Sosial Masyarakat Bidik Misi ITS ini bukan sekadar agenda tahunan. Ia menjelma ruang temu: antara idealisme mahasiswa dan kebutuhan nyata masyarakat.
Donor darah dan pemeriksaan mata gratis menjadi dua pintu masuk yang sederhana, tetapi berdampak langsung.
Wakil Rektor I ITS, Nurul Widiastuti, melihat lebih dari sekadar kegiatan seremonial.
“Melalui kegiatan semacam ini dapat meningkatkan rasa empati dan menambah kapasitas mahasiswa di luar kemampuan akademik. Juga menjadi tempat interaksi dosen-mahasiswa-alumni bersinergi untuk kemanusiaan,” ujarnya.
“Kami mewakili Rektor ITS mengapresiasi kegiatan semacam ini, dan perlu untuk dilanjutkan dan terus dikembangkan sehingga semakin berdampak.” Tambahnya.
Nada serupa datang dari Radian Jadid, perwakilan alumni ITS93. Ia menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar soal memberi, tetapi juga proses belajar yang jarang masuk kurikulum.

“Ini adalah bagian dari proses menghantarkan mahasiswa memiliki kecakapan akademik dan nonakademik sebelum memasuki dunia kerja,” katanya.
Namun, di balik semangat itu, angka-angka berbicara lebih jujur. Dari target 70 pendonor, tercatat 178 orang mendaftar. Sebanyak 132 menjalani skrining, dan 95 dinyatakan lolos.
Dari sana, terkumpul 94 kantong darah, angka yang mungkin terlihat kecil di atas kertas, tetapi berarti besar bagi mereka yang menunggu di ruang-ruang rumah sakit.
Menurut Nisful Lailiya dari Instalasi Transfusi Darah RSUD Dr Soetomo, kebutuhan darah bisa mencapai 8.000 hingga 10.000 kantong per bulan.
“Kegiatan seperti ini sangat membantu kebutuhan darah di rumah sakit,” jelasnya.
Di titik ini, kegiatan donor darah terasa seperti ironi yang halus: sesuatu yang sederhana, tetapi justru selalu kurang.
Sementara itu, di sudut lain ruangan, pemeriksaan mata gratis membuka cerita yang berbeda. Banyak peserta datang tanpa keluhan, pulang dengan kesadaran baru.
Sekitar 75 persen di antaranya ternyata memiliki gangguan penglihatan yang sebelumnya tak disadari.
Padmin Amin dari Surabaya Eye Clinic menyebut fenomena ini sebagai alarm yang sering diabaikan.
“Banyak peserta yang awalnya tidak menyadari adanya keluhan pada mata. Setelah diperiksa, mereka jadi lebih memahami kondisi penglihatannya,” ungkapnya.
Di tengah semua itu, panitia yang sebagian besar mahasiswa bekerja dalam ritme yang mungkin tak pernah diajarkan di ruang kuliah, mengatur antrean, menenangkan peserta, memastikan prosedur berjalan, hingga menghadapi kemungkinan gagal donor.
Ketua pelaksana, Dwi Febrianti, menyebut keberhasilan acara ini justru datang dari hal yang tak terduga.
“Sangat bersyukur sekali karena antusias pendaftar sangat melebihi ekspektasi. Saya berharap kegiatan ini bisa berlanjut dari tahun ke tahun,” ujarnya.
Pada akhirnya, B-Healthy BIMITS 2026 bukan sekadar cerita tentang donor darah atau pemeriksaan kesehatan. Ini adalah potret kecil tentang bagaimana empati bekerja diam-diam, tanpa banyak publikasi, tetapi nyata.
Dan mungkin, di tengah dunia yang sering gaduh oleh pencitraan, kegiatan seperti ini mengingatkan satu hal sederhana, kepedulian tidak selalu butuh panggung besar. Kadang, cukup hadir dalam satu tetes darah yang diberikan dengan sukarela.







