PASURUAN, tretan.news — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasuruan menggelar peringatan Hari Jadi (HUT) ke-1097 di Punden Prasasti Cunggrang, Kecamatan Gempol, Kamis (18/9/2026).
Wakil Bupati Pasuruan, Shobih Asrori, memimpin langsung acara di Desa Bulusari tersebut. Ia menegaskan pentingnya situs sejarah bagi masyarakat.
“Pemilihan Prasasti Cunggrang ini mengingatkan kita bahwa perjalanan Kabupaten Pasuruan memiliki akar sejarah yang panjang,” ujar Shobih.
”Sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi menjadi pijakan untuk membangun masa depan,” imbuhnya.
Menindaklanjuti hal tersebut, Pemkab Pasuruan berkomitmen mengembangkan kawasan Prasasti Cunggrang. Pemerintah menyiapkan situs ini sebagai destinasi wisata sejarah andalan.
“Kawasan Prasasti Cunggrang akan terus kita kembangkan dan benahi agar semakin baik dan semakin dikenal masyarakat luas,” tegas Shobih.
Ia menyebut kawasan ini merupakan salah satu cikal bakal sejarah Kabupaten Pasuruan.
Sejarah mencatat, Prasasti Cunggrang bertanggal 18 September 929 Masehi menjadi dasar hukum penetapan Hari Jadi Pasuruan.
Tahun ini, perayaan mengusung tema “Pasuruan Bangkit, Bersama Kita Bisa”. Shobih mengajak warga membangun daerah tanpa meninggalkan identitas budaya.
Pagelaran Wayang Kulit
Selain upacara, peringatan ini juga menghadirkan pagelaran wayang kulit. Acara ini membawakan lakon bertajuk “Wahyu Mustiko Rukmi”.
Tiga dalang tampil memukau penonton, yakni Ki Nasitio Darmawan, Ki Dimas Dwipa Surya, dan Ki Moch. David Herdiansyah.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pasuruan, Agus Hariwibawa, menyebut wayang sarat akan pesan moral.
“Wayang itu bukan sekadar tontonan, tetapi adalah tuntunan,” ungkap Agus di lokasi acara.
Kisah pewayangan mengajarkan keberanian, kesetiaan, dan pengabdian. Agus menilai nilai-nilai tersebut sangat relevan dengan semangat pembangunan Kabupaten Pasuruan.
Agus berharap pagelaran budaya ini bisa terus lestari. Kesenian tradisional terbukti ampuh mempererat tali kebersamaan antarwarga.







