SURABAYA, tretan.news – Langit pagi masih pucat ketika gema takbir mulai memantul dari pengeras suara musala kecil di sudut kampung. Jalanan tak seramai tahun-tahun sebelumnya.
Beberapa pedagang hewan kurban duduk termenung di samping kandang bambu yang nyaris tak tersentuh pembeli.
Seekor kambing putih mengembik pelan, seolah ikut membaca kecemasan manusia di sekelilingnya.
Di sebuah gang sempit, seorang buruh harian menatap layar ponselnya cukup lama. Harga kebutuhan pokok naik. Pekerjaan makin sulit.
Tabungan habis untuk bertahan hidup. Tahun ini, lagi-lagi ia harus mengubur keinginannya membeli hewan kurban.
“Jangankan kambing, untuk makan sehari-hari saja kadang masih bingung,” ucapnya lirih.
Pemerintah menetapkan Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026. Namun bagi sebagian masyarakat kecil, hari besar keagamaan tahun ini datang bersamaan dengan kenyataan hidup yang terasa semakin berat.
Krisis ekonomi yang berkepanjangan membuat banyak keluarga kehilangan daya beli. Lapangan pekerjaan menyempit.
Harga bahan pokok melambung. Sementara itu, rasa kecewa terhadap penyelenggara negara terus tumbuh diam-diam di ruang-ruang obrolan rakyat.
Iduladha di Tengah Ketimpangan Sosial
Di banyak daerah, suasana Iduladha tahun ini tidak lagi identik dengan riuhnya pembelian hewan kurban.
Beberapa pedagang mengaku omzet mereka turun drastis dibanding tahun sebelumnya. Padahal stok hewan ternak melimpah.
Kandang-kandang yang biasanya ramai kini lebih sering dipenuhi tatapan kosong para penjual.
“Biasanya seminggu sebelum Lebaran sudah banyak yang pesan. Sekarang sepi sekali,” kata Rahman, pedagang kambing di pinggir kota.
Harga hewan kurban masih berada di angka jutaan rupiah. Untuk kambing standar berbobot 21 hingga 26 kilogram misalnya, harga berkisar Rp2,4 juta.
Sementara kambing premium bisa menembus lebih dari Rp3 juta. Di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang melemah, angka itu terasa seperti tembok tinggi yang sulit dijangkau.
Realitas ini memunculkan pertanyaan yang terus bergema di tengah masyarakat: mengapa pergantian pemimpin belum mampu menghadirkan perubahan mendasar bagi rakyat kecil?
Dari tingkat daerah hingga pusat, pergantian pejabat datang silih berganti. Namun kemiskinan, korupsi, birokrasi rumit, dan ketimpangan sosial masih menjadi luka lama yang belum sembuh.
Banyak warga merasa hidup tetap berjalan dalam lingkaran kesulitan yang sama.
Di satu sisi, sebagian elite hidup dengan kemewahan dan fasilitas negara. Di sisi lain, rakyat harus menghitung uang belanja sebelum tidur.
Kritik terhadap kebijakan ekonomi, praktik mafia pangan, hingga dugaan korupsi bukan lagi sekadar percakapan warung kopi.
Ia telah menjadi kegelisahan kolektif masyarakat yang merasa semakin jauh dari keadilan sosial.
Makna Kurban yang Sering Terlupakan
Namun di tengah segala kesulitan itu, tak sedikit masyarakat yang tetap berusaha menjaga makna spiritual Iduladha. Sebab kurban sejatinya bukan soal gengsi, melainkan ketakwaan.
Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS kembali dikenang setiap tahun. Sebuah pelajaran tentang keikhlasan, pengorbanan, dan kepatuhan kepada Allah SWT.
Ketika Nabi Ibrahim menerima perintah untuk menyembelih putranya, keimanan diuji pada titik paling sunyi.
Hingga akhirnya Allah mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba jantan sebelum pisau menyentuh lehernya.
Dari peristiwa itulah lahir makna kurban yang sesungguhnya: melawan ego, keserakahan, dan cinta berlebihan terhadap dunia.
“Allah tidak melihat daging dan darahnya, tetapi melihat ketakwaannya,” ujar seorang tokoh agama usai salat Id di pelataran masjid.
Pesan itu terasa relevan di tengah situasi hari ini. Ketika banyak orang berlomba terlihat religius di media sosial, sementara di sekitar mereka masih ada tetangga yang kesulitan makan.
Antara Ibadah dan Realitas Perut Kosong
Penyembelihan hewan kurban dilaksanakan pada 10 Dzulhijjah setelah salat Iduladha hingga Hari Tasyrik tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Daging kurban kemudian dibagikan kepada masyarakat, terutama fakir miskin.
Bagi sebagian keluarga kecil, pembagian daging kurban bahkan menjadi momen langka untuk menikmati lauk yang layak.
Ironisnya, di negeri dengan kekayaan alam melimpah, masih banyak rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Harga pangan naik, pekerjaan sulit diakses, dan bantuan sosial kerap tak tepat sasaran.
Agama sendiri menegaskan bahwa ibadah tidak bisa dipisahkan dari kejujuran dan keadilan. Kurban, sedekah, dan zakat harus berasal dari harta halal, bukan dari korupsi, suap, atau hasil menindas rakyat.
Di tengah kondisi itu, Iduladha menjadi semacam cermin besar bagi bangsa ini: tentang siapa yang masih memiliki empati, dan siapa yang sibuk membangun citra.
Bertahan dalam Keadaan yang Tidak Mudah
Meski keadaan berat, banyak masyarakat tetap datang ke masjid sejak pagi. Mereka mengenakan pakaian terbaik yang dimiliki.
Anak-anak berlarian kecil di halaman. Takbir berkumandang pelan bercampur aroma tanah dan embun pagi.
Ada yang datang dengan hati penuh syukur. Ada pula yang datang sambil menyimpan kecemasan tentang biaya sekolah anak, cicilan rumah, atau pekerjaan yang belum pasti.
Namun di atas sajadah itulah, sebagian rakyat kecil tetap mencoba bertahan.
Mereka mungkin tak mampu membeli sapi atau kambing. Tetapi mereka masih menyimpan keyakinan bahwa hidup harus terus diperjuangkan.
Iduladha akhirnya bukan sekadar tentang hewan yang disembelih, melainkan tentang manusia-manusia yang setiap hari diam-diam sedang berjuang agar tidak ikut tumbang oleh keadaan.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising oleh kepentingan dan kekuasaan, suara paling tulus justru datang dari rakyat kecil yang tetap bersujud meski hidup berkali-kali dipersulit.
Kontributor: Eko Gagak







