Gedung SDN Gebang I Miring, Siswa Waswas

BANGKALAN, Tretan.News – Bangunan itu masih berdiri. Anak-anak masih datang membawa tas dan buku pelajaran setiap pagi. Guru-guru tetap mengajar seperti biasa.

Namun di balik rutinitas yang tampak normal itu, ada rasa cemas yang diam-diam menggantung di SDN Gebang.

Dari kejauhan, gedung di sisi barat sekolah tampak tak lagi tegak sempurna. Struktur bangunannya disebut mengalami kemiringan dan menjadi sumber kekhawatiran bagi pihak sekolah maupun warga sekitar.

Di ruang-ruang kelas yang semestinya menjadi tempat belajar paling aman bagi anak-anak, rasa waswas justru ikut duduk bersama para siswa.

Kepala SDN Gebang, Siti Jamiah, tidak menampik kondisi tersebut. Ia mengakui bangunan sekolah memang membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah dan Dinas Pendidikan.

“Kalau untuk sarana dan prasarana di sini memang mengkhawatirkan, karena bangunan sebelah barat itu miring,” ujarnya kepada awak media, Kamis (7/5/2026).

Nada bicaranya terdengar pasrah, seolah sedang menceritakan masalah lama yang belum juga menemukan jalan keluar. Bahkan ia menyebut bangunan itu merupakan proyek lama yang diduga mengalami kegagalan konstruksi.

“Itu yang dulu sampean pernah ke sini waktu dibangun itu, mungkin istilahnya proyek gagal mas. Saya juga sudah pernah menyampaikan ke Dinas,” katanya.

Di sekolah-sekolah, anak-anak biasanya diajarkan tentang keseimbangan. Namun ironinya, gedung tempat mereka belajar justru disebut kehilangan keseimbangannya sendiri.

Kekhawatiran bukan hanya datang dari pihak sekolah, tetapi juga masyarakat sekitar yang setiap hari melihat kondisi bangunan tersebut.

Mereka khawatir kemiringan gedung dapat mengganggu keselamatan dan kenyamanan proses belajar mengajar.

“Yang jelas kami beserta masyarakat itu khawatir dengan kondisi bangunan yang sudah miring itu mas,” imbuh Siti Jamiah.

Di tengah kondisi itu, perhatian publik kemudian mengarah pada penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), khususnya pada anggaran pemeliharaan sarana dan prasarana yang disebut mencapai sekitar Rp45 juta.

Pertanyaan sederhana pun muncul: jika anggaran pemeliharaan terus berjalan setiap tahun, mengapa kondisi bangunan justru tampak semakin memprihatinkan?

Saat dikonfirmasi terkait realisasi penggunaan anggaran tersebut, pihak sekolah belum memberikan penjelasan rinci.

Kepala sekolah memilih mengarahkan pertanyaan kepada operator sekolah dan menyebut perlu berkoordinasi lebih dahulu dengan atasan.

“Mohon maaf kami tidak bisa menjawab untuk serapan dana BOS kami mas. Kami harus lapor dulu ke atasan, takut kami salah menjawab,” ucapnya.

Jawaban itu memang belum bisa menjadi kesimpulan apa pun. Namun di ruang publik, ketidakjelasan sering kali melahirkan tanda tanya yang lebih besar daripada jawaban itu sendiri.

Pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah bagian bangunan mengalami kerusakan yang cukup serius.

Struktur gedung terlihat miring dan memunculkan kekhawatiran tersendiri bagi siapa pun yang melihatnya.

Situasi ini menimbulkan kesan bahwa persoalan fasilitas pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.

Di tengah berbagai program peningkatan mutu pendidikan, masyarakat berharap keselamatan siswa tetap menjadi prioritas utama.

Audit teknis terhadap kondisi bangunan sekolah dinilai penting dilakukan, termasuk evaluasi penggunaan anggaran pemeliharaan sarana dan prasarana agar semua berjalan transparan dan tepat sasaran.

Sebab bagi orang tua murid, sekolah bukan sekadar tempat belajar membaca dan berhitung. Ia seharusnya menjadi tempat paling aman untuk menitipkan masa depan anak-anak mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *