Difabel Malang Gelar Kampanye Konservasi Inklusif Peringati Hari Gajah Sedunia 2026

Berita, Sosial21 Dilihat

MALANG, TRETAN.news – Ancaman kerusakan habitat dan perburuan liar yang menyusutkan populasi gajah Indonesia memicu keprihatinan berbagai pihak.

Menyikapi situasi darurat ini, kelompok penyandang disabilitas di Malang turun tangan menyuarakan pelestarian satwa melalui kampanye konservasi inklusif.

​Difabel Pecinta Alam (Difpala), Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS), dan Geopix menggelar kegiatan bertajuk “Pentas Seni dan Dongeng Satwa” di Malang Creative Center (MCC), Kota Malang, Minggu (9/8/2026).

​Kegiatan ini menjadi puncak peringatan Hari Gajah Sedunia 2026 di Malang, sekaligus bagian dari kampanye nasional Make Elephant Great Again (Kembalikan Kejayaan Gajah).

​Pembina Difpala, Ken Kerta, menyebut acara ini bertujuan meningkatkan kepedulian publik terhadap kelestarian gajah dan koridor ekologisnya.

​”Melalui Pentas Seni dan Dongeng Satwa, Difpala ingin menyampaikan pesan konservasi dengan cara yang menyenangkan, sekaligus membuka ruang bagi penyandang disabilitas untuk turut berperan aktif dalam edukasi konservasi dan pelestarian lingkungan,” ujar Ken.

Darurat Kerusakan Habitat

​Kondisi populasi gajah di Indonesia saat ini berada dalam titik kritis. Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menyoroti peran sentral gajah sebagai “petani hutan” yang meregenerasi ekosistem alam.

​”Gajah begitu penting dan memiliki kedudukan tinggi dalam catatan sejarah kerajaan-kerajaan dan budaya Nusantara.

Namun nasibnya saat ini sangat miris, hidupnya penuh ancaman dengan kerusakan hutan sebagai habitatnya dan perburuan keji yang mengurangi secara drastis populasinya,” tegas Annisa.

​Kampanye ini mendesak penguatan penegakan hukum terhadap pemburu liar serta menuntut peningkatan standar kesejahteraan gajah yang berada di kebun-kebun binatang.

Edukasi Konservasi Inklusif

​Aksi edukasi publik ini melibatkan sekitar 50 penyandang disabilitas beserta para pendampingnya. Mereka secara aktif mengedukasi sedikitnya 300 pengunjung MCC.

​Para peserta mengkampanyekan perlindungan gajah Sumatera dan Kalimantan melalui beragam aksi kreatif.

Rangkaian acara meliputi dongeng satwa, tari kontemporer, menyanyi, pembacaan puisi, hingga pembagian informasi konservasi.

​Kolaborasi ini membuktikan bahwa pelestarian alam merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

Melalui pendekatan konservasi inklusif, penyandang disabilitas menunjukkan hak dan kemampuan nyata mereka untuk mengambil bagian dalam melindungi ekosistem Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *