Gresik, Tretan.News – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi belum berdampak signifikan terhadap aktivitas nelayan di Kabupaten Gresik.
Mayoritas nelayan tradisional di wilayah tersebut masih menggunakan solar subsidi untuk melaut, sehingga tidak terpengaruh langsung oleh kenaikan harga BBM non subsidi.
Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Gresik, Samaun, menyebutkan bahwa yang terpenting bagi nelayan adalah kelancaran distribusi bahan bakar bersubsidi.
“Kalau di Gresik nelayannya hampir semua bersubsidi, jadi tidak terlalu berdampak. Yang penting kelancaran SPBN dari pihak Pertamina jangan sampai tersendat seperti bulan-bulan kemarin,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kendala biasanya muncul menjelang akhir bulan, ketika stok solar subsidi mulai terbatas. Kondisi tersebut membuat nelayan kesulitan mendapatkan bahan bakar.
“Biasanya di atas tanggal 24 mulai terbatas. Nelayan sampai kelabakan mencari eceran. Sekitar tanggal 26 habis, lalu datang lagi tanggal 2 bulan berikutnya. Harapannya distabilkan agar tidak tersendat,” jelasnya.
Menurutnya, sebagian besar nelayan di Gresik merupakan nelayan tradisional dengan kapal berkapasitas di bawah 10 Gross Ton (GT), sehingga sangat bergantung pada solar subsidi.
Hal senada disampaikan nelayan asal pesisir utara Gresik, Muzi. Ia mengatakan kenaikan BBM non subsidi tidak berpengaruh terhadap aktivitas nelayan karena penggunaan bahan bakar bersubsidi di SPBN masih berjalan normal.
“Sementara ini tidak ada kelangkaan, lancar saja. Biasanya akhir bulan ada kendala sedikit, sekitar dua sampai empat hari,” ujarnya.
Diketahui, Pertamina telah menaikkan harga BBM non subsidi, di antaranya Dexlite dari Rp23.600 per liter menjadi Rp26.000 per liter, serta Pertamina Dex dari Rp23.900 menjadi Rp27.900 per liter.
Sementara itu, harga BBM subsidi seperti Pertalite dan solar subsidi masih tetap dan menjadi andalan utama bagi nelayan tradisional.







