TRETAN.news – Di tengah hiruk-pikuk dunia pendidikan yang kerap berfokus pada capaian akademik, hadir sebuah komunitas di Surabaya yang memilih jalan berbeda.
Rekamaya Scenergy tidak sekadar mengajarkan keterampilan film, tetapi menanamkan fondasi yang lebih dalam: mentalitas hidup.
Bagi Gatot Sunarya, inisiator Rekamaya sekaligus pembimbing suswa, film hanyalah pintu masuk. Di balik kamera, ada nilai-nilai kehidupan yang jauh lebih penting untuk dipelajari remaja, yaitu etika, disiplin, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja sama.
Nilai-nilai inilah yang ia yakini sebagai bekal utama untuk menghadapi realitas kehidupan. Dalam lingkaran sosial apapun, berbekal nilai-nilai tersebut pasti bisa diterima.
Mengubah Pola
Awalnya, Rekamaya Scenergy memang dirancang sebagai wadah pengembangan keterampilan sinematografi bagi siswa SMK jurusan film. Terutama yang menghadapi keterbatasan.
Program magang pun dibuka, seperti yang diikuti sepuluh siswa SMK Negeri 12 Surabaya pada pertengahan 2025.
Mereka datang dengan harapan mengasah kemampuan teknis mengoperasikan kamera, menyusun skenario, hingga proses produksi film. Namun, sebuah temuan sederhana mengubah arah pembelajaran di komunitas ini.
Gatot menyadari, tidak semua siswa memiliki kesempatan atau rencana melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sebagian di antaranya harus segera bekerja demi membantu ekonomi keluarga.
Di titik itulah ia melihat kebutuhan yang lebih mendesak: bukan sekadar keterampilan, melainkan kekuatan mental.
“Kalau hanya menguasai teknik, belum tentu mereka siap menghadapi kompetisi kehidupan,” kira-kira begitu prinsip yang dipegang.
Sejak saat itu, Rekamaya Scenergy bertransformasi. Film tetap diajarkan, tetapi bukan lagi tujuan utama melainkan alat untuk membangun karakter.
Proses produksi film dijadikan media latihan kehidupan: bagaimana bersikap profesional, menghargai waktu, bertanggung jawab pada peran masing-masing, dan menyelesaikan konflik dalam tim. Perubahan pendekatan ini membawa dampak nyata.
Dalam enam bulan masa magang, para siswa tidak hanya menunjukkan peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga perubahan sikap. Mereka menjadi lebih disiplin, lebih percaya diri, dan lebih mampu bekerja dalam tim.
Hasil karya akhir mereka pun mendapat apresiasi baik, bahkan membuka jalan bagi beberapa siswa untuk melanjutkan pendidikan melalui jalur beasiswa, sementara lainnya mantap menekuni dunia film secara profesional.

Gemblengan Teater
Perjalanan Gatot sendiri bukanlah sesuatu yang instan. Ia telah menapaki dunia seni sejak masa sekolah, berawal dari teater Barzah dan Documentary Network (DocNet) asuhan Yuslifar M Yunus yang populer disapa Ujang (alm).
Kemudian Gatot mendalami film bersama komunitas yang ia bangun bersama rekan-rekannya bernama Rekamaya Scenergy.
Dari pengalaman panjang itu, ia memahami bahwa seni khususnya film adalah ruang belajar yang kompleks. Di dalamnya terdapat perpaduan berbagai disiplin: visual, suara, cerita, hingga manajemen produksi.
Namun lebih dari itu, film adalah cermin kehidupan. Melalui Rekamaya Scenergy, ia mencoba menghadirkan “kawah candradimuka” bagi remaja.
Tempat mereka ditempa, bukan hanya untuk menjadi kreator film, tetapi juga manusia yang beradab dan tangguh.
Falsafah yang dia pegang sederhana: kemuliaan seseorang diukur dari seberapa besar manfaatnya bagi orang lain. Prinsip ini pula yang menjadi ruh dalam setiap kegiatan di Rekamaya.
Kini, kabar tentang perubahan para peserta magang mulai menyebar. Banyak siswa lain yang tertarik mengikuti jejak kakak kelas mereka.
Rekamaya pun perlahan menjadi ruang alternatif pendidikan sekolah kehidupan di luar sekolah formal.
Kisah ini menjadi pengingat penting bagi publik, bahwa pendidikan sejatinya tidak berhenti pada transfer ilmu. Yang jauh lebih krusial adalah bagaimana membentuk mentalitas.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan hidup tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita kuasai, tetapi oleh bagaimana kita bersikap, bertahan, dan berjuang dalam menghadapi kehidupan itu sendiri.
Feature:
Rokimdakas







