PASURUAN, tretan.news — Pemerintah Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, menggelar sosialisasi HIV/AIDS guna meningkatkan pemahaman masyarakat sekaligus menghapus stigma terhadap penderita, Rabu (22/4/2026).
Kegiatan bertajuk “Stigma Serta Penanganannya” itu berlangsung di Balai Desa Wonosunyo dengan melibatkan aparatur desa, tokoh masyarakat, pemuda, serta perwakilan perempuan.
Narasumber dari UOBF Puskesmas Kepulungan, Nanik Mufaziyah, menegaskan bahwa stigma negatif masih menjadi tantangan utama dalam penanganan HIV/AIDS di tengah masyarakat.
“Karena itu masyarakat harus menghilangkan stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS. Mereka tidak menularkan virus melalui interaksi sosial biasa,” tegas Nanik.
Ia menjelaskan, HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, sedangkan AIDS merupakan tahap lanjut ketika daya tahan tubuh sudah sangat lemah dan rentan terhadap infeksi berat.
Menurutnya, penularan HIV hanya terjadi melalui cairan tubuh tertentu seperti darah, sperma, cairan vagina, cairan anus, dan ASI.
Penularan umumnya terjadi melalui hubungan seksual tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik bergantian, transfusi darah terkontaminasi, serta dari ibu ke bayi.
Sebaliknya, HIV tidak menular melalui kontak sosial seperti berjabat tangan, berpelukan, berbagi makanan dan minuman, menggunakan toilet bersama, hingga batuk, bersin, atau gigitan nyamuk.
Nanik juga memaparkan tiga fase HIV, yakni fase infeksi akut yang muncul 2–4 minggu setelah terpapar dengan gejala mirip flu, fase laten klinis tanpa gejala yang dapat berlangsung bertahun-tahun, serta fase AIDS yang ditandai penurunan kondisi tubuh secara drastis.
“Banyak orang tidak menyadari karena gejalanya mirip flu biasa, bahkan ada yang tidak merasakan gejala sama sekali,” jelasnya.
Untuk pencegahan, masyarakat diimbau setia pada pasangan, tidak berganti pasangan seksual, menggunakan kondom dengan benar, menjauhi narkoba khususnya jarum suntik, serta rutin melakukan pemeriksaan kesehatan.
“Sekarang di Puskesmas Kepulungan sudah bisa mendeteksi dan memberikan obat untuk menekan gejala HIV/AIDS. Tenang saja, seluruh identitas pasien pasti dirahasiakan,” ujarnya.
Sementara itu, Camat Gempol, Hadi Mulyono, menyebut HIV/AIDS masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian bersama, khususnya dalam upaya pencegahan sejak dini.
“Pengalaman saya di Satpol PP Kabupaten Pasuruan, banyak yang terkena HIV/AIDS berasal dari panti pijat maupun lokasi yang banyak praktik WTS.
Saat saya menjadi Kasi Trantib di Prigen, kebanyakan yang terkena adalah WTS yang good looking dan mayoritas perempuan dari luar kota,” pungkasnya.(Hadi)







