Di Usia 76 Tahun, Saedeh Di Sampang Masih Mengais Hidup dari Daun Pisang

Berita, Daerah, Sosial44 Dilihat

SAMPANG | Tretan.news — Di sudut sunyi Dusun Srapong, Desa Gulbung, Kecamatan Pangarengan, Kabupaten Sampang, seorang nenek renta bernama Saedeh (76) menjalani hidup dalam keterbatasan yang begitu memilukan.

Di usia senjanya, ia harus berjuang seorang diri, tanpa keluarga yang menemani, demi sekadar menyambung hidup dari hari ke hari.

Setiap pagi, dengan langkah tertatih, Saedeh mengumpulkan daun pisang untuk dijual ke pasar. Tak jarang pula ia memungut barang bekas (rongsokan) demi mendapatkan sedikit uang.

Dari hasil itulah ia bertahan hidup, sembari sesekali berharap uluran tangan dari tetangga sekitar.

 

Lebih menyayat hati, kondisi tempat tinggalnya jauh dari kata layak. Rumah sederhana yang ia tempati nyaris tak memberikan perlindungan. Dindingnya hanya terbuat dari kain bekas, tanpa atap yang memadai.

Untuk kebutuhan MCK (mandi, cuci, kakus), ia hanya mengandalkan fasilitas seadanya yang sangat memprihatinkan.

Kabar pilu ini sampai ke telinga Ketua Aliansi Wartawan Sampang (AWAS), Achmad Jumaadi, yang akrab disapa Cak Jum Sahabat Rakyat. Tanpa menunggu lama, ia langsung turun ke lokasi untuk memastikan kondisi sang nenek.

“Setelah saya cek langsung, memang benar kondisi Ibu Saedeh sangat memprihatinkan. Hidup sebatang kara, rumah tidak layak, dan untuk makan saja harus berjuang keras. Ini sangat layak untuk kita bantu bersama,” ungkap Cak Jum, Minggu (19/04/2026) sore.

Tergerak oleh rasa kemanusiaan, Cak Jum pun memberikan bantuan berupa sembako sebagai bentuk kepedulian untuk meringankan beban hidup Saedeh, meski ia menyadari bantuan tersebut belum mampu menjawab seluruh kebutuhan.

“Dalam kondisi apa pun, kita harus tetap peduli. Tidak perlu menunggu banyak untuk berbagi. Yang penting ada niat membantu sesama,” ujarnya.

Ia juga mengajak para dermawan serta pemerintah untuk ikut hadir membantu warga kurang mampu seperti Saedeh, yang hingga kini masih membutuhkan perhatian lebih, terutama untuk tempat tinggal yang layak.

Sementara itu, dengan suara lirih penuh harap, Saedeh menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepedulian yang telah diberikan.

Ia juga mengaku bahwa dirinya pernah mendapatkan bantuan dari berbagai pihak mulai dari karang taruna hingga pengurus NU setempat, namun hal itu tidak bisa memberikan solusi yang berkepanjangan, bahkan ia hanya berharap ada bantuan yang bisa memberikan kehidupan yang layak.

“Terima kasih banyak. Semoga barokah. Saya hanya berharap ada bantuan untuk memperbaiki rumah saya,” ucapnya singkat.

Kisah hidup Saedeh menjadi pengingat bahwa di balik hiruk pikuk kehidupan, masih banyak saudara kita yang membutuhkan uluran tangan. Kepedulian kecil, bisa menjadi harapan besar bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *