Gara-Gara Status WhatsApp Berujung Bui: Ketika Jempol Lebih Cepat dari Logika

Berita, Kriminal21 Dilihat

SURABAYA, TRETAN.news – Zaman sekarang, WhatsApp bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan arena gladiator bagi ego yang rapuh.

Hanya karena masalah sepele yang berawal dari ketikan di layar ponsel, seorang pemuda berinisial DK (27) sukses mengamankan satu tiket gratis menginap di hotel prodeo Polsek Wonokromo.

​Semua ini terjadi gara-gara drama status WhatsApp yang berujung pada dugaan penganiayaan terhadap temannya sendiri, Rendy Jovan Sahar (42).

​Kanitreskrim Polsek Wonokromo, Iptu Wasito Adi, menjelaskan bahwa skenario komedi gelap ini bermula saat pelaku meminta bantuan korban untuk menanyakan keberadaan seorang teman berinisial A alias Alex.

Kebetulan, Alex ini adalah tetangga satu rumah indekos dengan korban. Sebuah permintaan yang sangat sederhana, bukan?

​Namun, di sinilah drama dimulai. Menurut pengakuan tersangka yang tampaknya memiliki tingkat sensitivitas setara sensor gempa, korban sama sekali tidak menjawab pertanyaannya.

Alih-alih membalas pesan secara privat, korban justru membuat sebuah status WhatsApp puitis bin menyindir yang berbunyi:

“OKEEE KALAU SUDAH POSISI PUNYA UANG JADI LUPA.. TINGGAL LIHAT YA KALAU POSISI MU PAS TIDAK PUNYA APA APA.”

​Tersinggung? Tentu saja. Namun drama belum mencapai klimaksnya.

​Melihat status sindiran tersebut, korban tampaknya tidak mau kalah dalam kompetisi saling sindir digital ini.

Korban langsung membalas status tersangka dengan kalimat yang sangat “provokatif” di mata pelaku:

“HELUKKK NGERII BOSSS”

​Membaca balasan dua kata super estetik tersebut, sumbu pendek emosi tersangka langsung terbakar.

​”Hal itu membuat tersangka yang membaca balasan seperti itu emosi sehingga tersangka makin kesal,” beber Wasito pada Selasa (14/7/2026).

Alih-alih menarik napas dalam-dalam atau memblokir kontak korban demi ketenangan jiwa, tersangka memilih jalur pintas menuju kriminalitas.

​Tanpa babibu, ia langsung pulang ke rumah untuk mengambil senjata “andalan” sebatang besi galvalum sepanjang 45 sentimeter, lebar 3 sentimeter, dengan ketebalan 4 milimeter yang ujungnya sudah diruncingkan dengan bekas potongan gerinda.

Sungguh sebuah persiapan matang yang lahir dari kemarahan akibat dua kata di aplikasi chatting.

​Kini, DK harus merenungi nasibnya di balik jeruji besi.

Setidaknya, di dalam sel tahanan nanti, DK tidak perlu lagi pusing melihat atau membalas status WhatsApp siapa pun karena pihak kepolisian memang belum menyediakan fasilitas koneksi Wi-Fi gratis di dalam jeruji besi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *