Jakarta, Tretan.News – KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin memperkuat komunikasi dengan jajaran Nahdlatul Ulama (NU) di berbagai daerah menjelang Muktamar NU ke-35. Ia menyampaikan pencalonannya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus membawa gagasan mengenai arah NU memasuki abad kedua.
Gus Rozin telah mengunjungi sejumlah wilayah, antara lain Bengkulu, Yogyakarta, Lampung, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara.
Dalam kunjungannya, ia berdialog dengan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), para kiai, serta pengurus NU di berbagai tingkatan.
Menurut Gus Rozin, proses menuju Muktamar NU ke-35 tidak cukup hanya membahas figur calon ketua umum. Muktamar juga perlu menjadi ruang untuk menyepakati arah organisasi dan mendengar aspirasi warga NU dari tingkat bawah.
“Kalau kita berbicara tentang masa depan NU, yang harus dibicarakan bukan hanya siapa yang memimpin, tetapi NU seperti apa yang ingin kita bangun,” ujar Gus Rozin.
Gus Rozin Dorong Poros Tengah untuk Jaga Persatuan
Gus Rozin membawa tiga gagasan utama dalam komunikasi dengan jajaran NU di daerah. Gagasan tersebut mencakup pembangunan poros tengah untuk menjaga ukhuwah, penguatan NU sebagai rumah besar masyarakat sipil keagamaan, serta kemandirian organisasi yang bertumpu pada kekuatan jamaah.
Ia menilai perbedaan pandangan dalam organisasi merupakan hal yang wajar. Namun, perbedaan tidak boleh berkembang menjadi polarisasi yang mengganggu persatuan dan kerja organisasi.
Gus Rozin menawarkan konsep poros tengah sebagai ruang untuk mempertemukan berbagai pandangan. Ia menegaskan konsep tersebut tidak bertujuan membentuk kelompok baru untuk menghadapi pihak tertentu.
“Poros tengah bukan poros untuk berhadapan dengan siapa pun. Poros tengah adalah jalan untuk mempertemukan berbagai pihak, meredakan ketegangan, dan mengembalikan NU kepada kepentingan yang lebih besar,” katanya.
Menurut dia, tradisi musyawarah dan persaudaraan perlu menjadi dasar NU dalam menghadapi dinamika menjelang muktamar.
NU Diminta Tetap Kritis terhadap Pemerintah
Gus Rozin juga mendorong NU memperkuat perannya sebagai kekuatan masyarakat sipil keagamaan.
Ia melihat NU memiliki jaringan sosial yang luas melalui pesantren, masjid, madrasah, majelis taklim, lembaga pendidikan, badan otonom, komunitas, serta berbagai aktivitas ekonomi masyarakat.
Kekuatan tersebut, menurut Gus Rozin, harus tetap menjadi akar organisasi. Ia juga mengingatkan agar kedekatan NU dengan pemerintah tidak membuat organisasi kehilangan daya kritis.
“NU harus menjadi sahabat pemerintah. Sahabat bisa mendukung, tetapi sahabat juga harus berani mengingatkan ketika ada kebijakan yang tidak sesuai dengan kepentingan masyarakat,” ujarnya.
Gus Rozin menilai NU dapat menjalankan fungsi kontrol sosial tanpa meninggalkan hubungan konstruktif dengan pemerintah.
Ia juga mendorong NU memperluas kontribusi dalam pendidikan, pemberdayaan ekonomi, layanan sosial, advokasi, serta berbagai persoalan yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Kemandirian NU Bertumpu pada Kekuatan Jamaah
Selain persatuan, Gus Rozin menempatkan kemandirian sebagai agenda penting NU memasuki abad kedua.
Ia melihat potensi besar pada jaringan jamaah NU yang tersebar dari tingkat ranting hingga berbagai kelompok masyarakat. Kekuatan tersebut mencakup pesantren, keluarga Nahdliyin, petani, nelayan, pelaku UMKM, pekerja, profesional, dan komunitas masyarakat.
“Di NU jamaahnya dulu ada, lalu jam’iyyahnya terbangun. Karena itu, kalau kita ingin membangun NU yang mandiri, kita harus kembali kepada kekuatan jamaah,” kata Gus Rozin.
Menurutnya, kemandirian tidak hanya berkaitan dengan pembiayaan organisasi. NU juga perlu memperkuat pengelolaan aset, ekonomi jamaah, pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemampuan mengambil keputusan secara independen.
Ia juga mendorong penguatan budaya gotong royong jamaah, optimalisasi aset NU, pengembangan ekonomi Nahdliyin, serta penguatan instrumen partisipasi warga seperti KOIN NU.
Gus Rozin Bawa Tiga Kata Kunci
Dari berbagai dialog dengan PWNU dan PCNU, Gus Rozin menemukan sejumlah persoalan yang perlu mendapat perhatian. Persoalan tersebut antara lain penguatan ranting dan MWCNU, kaderisasi, pesantren, ekonomi jamaah, tata kelola organisasi, digitalisasi, serta hubungan NU dengan pemerintah.
Aspirasi tersebut menjadi bahan Gus Rozin dalam merumuskan arah transformasi NU. Ia menyebut tiga kata kunci sebagai pijakan, yakni berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat.
Berdaulat berarti NU mampu mengelola organisasi, aset, dan sumber daya secara amanah serta profesional. Bermartabat berarti NU menjaga marwah ulama, pesantren, tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, serta integritas kepemimpinan.
Sementara itu, bermanfaat berarti keberadaan NU dapat memberikan dampak nyata bagi jamaah dan masyarakat melalui pendidikan, ekonomi, kesehatan, layanan sosial, teknologi, pertanian, perikanan, lingkungan, hingga advokasi.
Muktamar NU ke-35 Jangan Hanya Bahas Figur
Gus Rozin menilai tantangan NU pada abad kedua semakin kompleks. Perubahan teknologi, ekonomi, sosial, politik, dan pola kehidupan masyarakat membutuhkan kemampuan organisasi untuk beradaptasi tanpa kehilangan identitas dan tradisi.
Karena itu, ia berharap Muktamar NU ke-35 tidak hanya menjadi arena perebutan posisi kepemimpinan.
“Muktamar bukan hanya tentang memilih siapa yang menjadi Ketua Umum. Muktamar harus menjadi momentum untuk menentukan arah NU ke depan, menjaga persatuan, memperkuat kemandirian, dan memastikan NU terus hadir memberikan kemaslahatan,” tegasnya.
Gus Rozin pun terus membangun komunikasi dengan NU di berbagai daerah. Ia berharap dialog lintas wilayah dapat mempertemukan aspirasi warga sekaligus memperkuat persatuan menjelang muktamar.
Bagi Gus Rozin, kepemimpinan PBNU merupakan amanah untuk menjaga warisan ulama sekaligus menyiapkan NU menghadapi perubahan zaman. Ia ingin persatuan dan kemandirian menjadi fondasi agar NU semakin berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat bagi jamaah, bangsa, dan kemanusiaan.







