Tekan AKI-AKB dan DBD, Lintas Sektor Gempol Perkuat Kolaborasi

Berita, Pemerintahan120 Dilihat

PASURUAN, treta.news – Upaya menekan angka kematian ibu dan bayi (AKI-AKB) serta kasus demam berdarah terus diperkuat melalui sinergi lintas sektor di Kecamatan Gempol. Komitmen tersebut ditegaskan dalam Pertemuan Lokakarya Mini (Lokmin) Tribulanan Lintas Sektor di Aula Kecamatan Gempol, Kamis (30/4/2026).

Camat Gempol, Hadi Mulyono, menegaskan bahwa kolaborasi seluruh elemen menjadi kunci utama dalam menyelesaikan persoalan kesehatan di wilayahnya.

“Pertemuan ini menjadi wadah untuk memperkuat kolaborasi dalam menangani permasalahan kesehatan, khususnya penanggulangan angka kematian ibu dan bayi serta demam berdarah,” ujarnya.

Kegiatan ini dihadiri unsur TNI-Polri, pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, hingga organisasi kemasyarakatan yang berkomitmen mendukung program kesehatan di tingkat kecamatan.

Kepala Puskesmas Gempol, dr. Arma Roostina Heliantin, mengungkapkan sejumlah tantangan dalam penanganan AKI dan AKB.

Salah satunya masih rendahnya kesadaran ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan sejak dini serta belum optimalnya pelayanan ANC terpadu.

Selain itu, pendampingan terhadap ibu hamil berisiko tinggi dinilai masih kurang maksimal.

Kondisi tersebut diperparah oleh mobilitas tempat tinggal ibu hamil yang berpindah-pindah, keterbatasan biaya karena tidak memiliki jaminan kesehatan, serta keterlambatan rujukan akibat minimnya dukungan keluarga.

“Masih ada ibu hamil yang tidak rutin kontrol bahkan menolak rujukan. Ini perlu menjadi perhatian bersama agar edukasi dan pendampingan bisa lebih maksimal,” jelas dr. Arma.

Ia juga menyoroti perlunya peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, khususnya dalam penanganan kegawatan persalinan, melalui pelatihan berkelanjutan.

Sebagai langkah konkret, pihaknya telah menyiapkan sejumlah rencana tindak lanjut, seperti optimalisasi kelas ibu hamil dan balita, pelaksanaan skrining risiko tinggi, serta peningkatan kunjungan dan pendampingan bagi ibu hamil dan neonatus berisiko tinggi.

“Ke depan kami akan memperkuat deteksi dini, pendampingan intensif, serta kolaborasi dengan seluruh pihak agar kasus kematian ibu dan bayi dapat ditekan,” tambahnya.

Selain isu AKI-AKB, pertemuan tersebut juga menyoroti masih tingginya kasus demam berdarah di wilayah Gempol.

Faktor cuaca tidak menentu, rendahnya kesadaran masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk (PSN), serta ketergantungan pada fogging menjadi tantangan utama.

Menurut dr. Arma, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama dalam pencegahan demam berdarah.

“Penanganan demam berdarah tidak bisa hanya mengandalkan fogging. Yang paling penting adalah kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan rutin melakukan PSN,” tegasnya.

Sebagai tindak lanjut, lintas sektor sepakat menggencarkan sosialisasi dan edukasi, mengaktifkan kembali kader juru pemantau jentik (jumantik), serta menggalakkan kegiatan Jumat Bersih di tingkat desa.

Fogging pun akan dilakukan secara selektif berdasarkan indikasi medis, disertai percepatan pelacakan kasus untuk mencegah penyebaran lebih luas.

“Melalui kolaborasi yang solid, kami berharap upaya pencegahan dan penanganan dapat berjalan lebih efektif, sehingga derajat kesehatan masyarakat di Kecamatan Gempol terus meningkat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *