Ngopi demi Soliditas: Ketika Secangkir Kopi Menjadi Benteng Organisasi

Artikel, Berita60 Dilihat

GRESIK, Tretan.News – Di negeri yang sering gaduh oleh perebutan jabatan, rapat penuh ketegangan, dan organisasi yang pecah hanya karena beda kursi plastik saat musyawarah, MADAS Serumpun DPC Gresik memilih jalan yang lebih sederhana: ngopi bersama.

Bukan seminar mahal.
Bukan hotel berbintang.
Bukan pula rapat dengan map tebal yang isinya kadang lebih banyak absensi daripada solusi.

Cukup kopi, obrolan santai, dan tawa yang dipaksakan agar konflik internal tidak meledak di grup WhatsApp organisasi.

Di sebuah titik kumpul kawasan Bandar Grissee, Jalan Basuki Rahmad No. 07 Gresik, para pengurus dan anggota MADAS Serumpun DPC Gresik berkumpul.

Sepintas terlihat biasa saja. Namun di balik kepulan asap rokok dan denting gelas kopi, ada satu misi besar: menjaga organisasi tetap utuh di tengah dunia yang gemar saling tikam karena ego.

Ketua MADAS DPC Gresik, Adnan, menyebut bahwa kekompakan tidak selalu lahir dari agenda besar.

“Kekompakan tidak selalu dibangun dari hal besar, tapi dari kebersamaan sederhana ngopi bareng, bercanda, saling menguatkan tanpa sekat,” ujarnya.

Dan memang benar. Banyak organisasi hancur bukan karena kurang anggota, tapi karena terlalu banyak yang ingin jadi pusat perhatian.

Ngopi akhirnya menjadi semacam terapi sosial. Tempat di mana jabatan diturunkan volumenya, dan manusia kembali jadi manusia bukan sekadar pengurus dengan tanda tangan dan stempel.

Di meja kopi itu, kritik bisa keluar tanpa mikrofon. Keluhan bisa disampaikan tanpa surat resmi. Bahkan sindiran bisa dilempar sambil tertawa agar tidak berujung saling blokir nomor telepon.

Fenomena ini menarik. Sebab di banyak organisasi, suasana akrab justru sering hilang ketika struktur mulai dibentuk. Setelah ada jabatan, yang muncul kadang bukan solidaritas, melainkan kompetisi diam-diam.

Siapa paling dekat ketua.
Siapa paling sering tampil di banner.
Siapa paling keras bicara saat rapat, meski isi kepalanya kadang kosong seperti gelas kopi yang belum diisi.

MADAS Serumpun DPC Gresik tampaknya mencoba melawan penyakit klasik itu dengan cara sederhana: merawat komunikasi sebelum merawat ambisi.

Beberapa anggota mengaku forum santai semacam ini membuat hubungan antar anggota lebih cair.

“Kalau suasana santai, orang lebih jujur bicara. Kadang masalah organisasi selesai bukan di rapat resmi, tapi di warung kopi,” ujar salah satu anggota sambil menyeruput kopi hitam.

Dan mungkin itu benar.

Sebab sejarah negeri ini juga sering berubah bukan di ruang mewah, melainkan di meja kopi tempat orang-orang kecil berbicara tentang keresahan besar.

Di tengah maraknya organisasi yang sibuk membangun citra tapi lupa membangun chemistry internal, kebiasaan sederhana seperti ini justru terasa penting.

Karena organisasi tanpa kekompakan ibarat kopi tanpa gula: pahit, dingin, dan cepat ditinggalkan.

“Selama kita tetap bersama, saling menghargai, dan menjaga kekompakan, tidak ada yang tidak mungkin untuk kita capai,” tutup Adnan.

Dan di tengah dunia organisasi yang sering ribut soal siapa paling berkuasa, mungkin memang sudah waktunya banyak orang belajar satu hal sederhana:, terkadang revolusi terbesar dimulai dari secangkir kopi dan obrolan yang jujur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *