PT Bamboe Indonesia Buka Suara soal Demo dan Dugaan Tekanan Massa

PASURUAN, Tretan.News – Ketegangan antara warga Dusun Lebaksari, Desa Karangjati, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, dengan PT Bamboe Indonesia memuncak dalam aksi unjuk rasa yang berlangsung pada Kamis (30/4/2026).

Di balik tuntutan soal tenaga kerja lokal dan dugaan gangguan lingkungan, perusahaan mengaku menghadapi tekanan yang dinilai mengganggu aktivitas operasional.

Aksi yang berlangsung di depan pabrik di Jalan Raya Lebaksari itu diikuti puluhan warga bersama sejumlah perangkat desa. Massa membawa berbagai tuntutan, mulai dari prioritas perekrutan tenaga kerja lokal hingga persoalan lingkungan yang disebut berdampak pada masyarakat sekitar.

Namun bagi pihak perusahaan, gejolak itu bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba.

Staf General Affairs (GA) PT Bamboe Indonesia, Rofin, mengatakan bahwa sebelum aksi berlangsung telah digelar audiensi antara warga, pemerintah desa, aparat kepolisian, tokoh masyarakat, dan Karang Taruna.

“Aksi ini bukan terjadi mendadak. Sebelumnya sudah ada audiensi di kantor desa dan berbagai aspirasi warga sudah disampaikan secara terbuka,” ujar Rofin.

Meski demikian, situasi di lapangan disebut sempat memanas. Perusahaan mengklaim terjadi pemblokiran akses masuk pabrik yang berdampak pada aktivitas pekerja dan jalannya produksi.

“Ada upaya pemblokiran akses sehingga karyawan terhambat masuk kerja. Kondisi itu tentu mengganggu operasional perusahaan,” katanya.

Dalam aksi tersebut, warga menyuarakan tiga tuntutan utama. Mereka meminta perusahaan memprioritaskan tenaga kerja lokal hingga 70 persen dalam proses rekrutmen, menghentikan dugaan pencemaran lingkungan, serta memberikan kompensasi atau program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) bagi masyarakat terdampak.

Menanggapi tuntutan itu, pihak perusahaan menyatakan tetap membuka peluang bagi warga sekitar untuk bekerja, namun seluruh proses harus mengikuti standar dan mekanisme yang berlaku.

“Kami tidak pernah menutup kesempatan bagi warga sekitar. Tetapi tetap harus melalui proses seleksi dan memenuhi kualifikasi sesuai kebutuhan perusahaan,” tegas Rofin.

Soal dugaan pencemaran lingkungan, perusahaan membantah adanya limbah yang mencemari wilayah sekitar. Menurut Rofin, keluhan warga lebih mengarah pada aroma atau bau yang sumber pastinya belum dapat dipastikan.

“Yang dipersoalkan lebih kepada aroma, bukan limbah yang mencemari lingkungan. Kami juga sudah menawarkan pengecekan bersama di lapangan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa sistem pengelolaan limbah perusahaan disebut telah berjalan sesuai prosedur. Faktor arah angin dan kondisi udara disebut turut memengaruhi penyebaran aroma di sekitar kawasan industri.

“Udara itu dinamis. Penyebaran aroma tidak selalu bisa dikendalikan sepenuhnya dan tidak terjadi sepanjang waktu,” imbuhnya.

Persoalan drainase air hujan juga menjadi sorotan warga. Namun perusahaan menilai persoalan tersebut berkaitan dengan tata kelola infrastruktur kawasan yang lebih luas.

“Saluran air itu sudah ada sejak awal. Jika terjadi limpasan saat hujan, itu bagian dari penataan infrastruktur wilayah,” katanya.

Di tengah tuntutan yang berkembang, perusahaan juga menyoroti adanya indikasi tekanan dalam penyampaian aspirasi. Menurut Rofin, terdapat kesan bahwa persoalan lingkungan dikaitkan dengan tuntutan perekrutan tenaga kerja lokal.

“Ada kesan jika tuntutan tenaga kerja dipenuhi, maka persoalan lain tidak lagi dipermasalahkan. Ini yang perlu diluruskan,” ujarnya.

Perusahaan juga mengungkap adanya catatan terkait sejumlah pekerja lokal yang sebelumnya pernah terlibat kasus dugaan pencurian material proyek dan telah diproses secara hukum.

Meski situasi sempat memanas, aksi unjuk rasa dilaporkan berlangsung tanpa bentrokan fisik. Aparat kepolisian bersama tim keamanan perusahaan berjaga di lokasi untuk menjaga kondisi tetap kondusif.

Di tengah tarik-menarik kepentingan antara warga dan industri, persoalan ini memperlihatkan satu hal yang terus berulang di banyak kawasan industri, ketika masyarakat menuntut ruang hidup yang aman dan kesempatan ekonomi yang adil, sementara perusahaan berupaya menjaga stabilitas usaha dan operasionalnya.

Pada titik itulah, dialog yang terbuka dan transparan menjadi satu-satunya jalan agar ketegangan tidak berubah menjadi konflik yang lebih dalam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *