MALANG, TRETAN.news – Puluhan penyandang disabilitas yang tergabung dalam komunitas difabel ojek online (DIFAJEK) Malang Raya menggelar acara silaturahmi dan sosialisasi bersama.
Kegiatan ini berlangsung di kediaman Wakil Rektor Bidang Manajemen Informasi Perencanaan dan Pengembangan Universitas Islam Majapahit (Unim) Mojokerto, Dr. Sakban Rosidi, M.Si., di Kawasan Kedungkandang, Kota Malang, pada Minggu (28/6/2026).
Acara yang diadakan di Jalan Raya Tlogowaru Nomor 88 tersebut difasilitasi langsung oleh Sakban Rosidi bersama istrinya, Dr. Rofiqah Rosidi, M.Pd.
Pertemuan ini didedikasikan khusus untuk putra mereka, Gilang Afif Lazuardi, yang juga merupakan seorang penyandang disabilitas.
Pertemuan yang dimulai sejak pukul 08.15 WIB ini dibuka oleh Pauline selaku pembawa acara.
Agenda utama yang dirancang sejak awal merupakan ajang kumpul bebas untuk mempererat tali silaturahmi, ruang bergembira, serta wadah untuk saling menguatkan antaranggota komunitas.
Ketua Komunitas DIFAJEK, Rizki, S.H., bersama Humas DIFAJEK, Sana’i, memimpin sesi sosialisasi internal.

Meski demikian, porsi terbesar dari pertemuan ini dihabiskan bagi para peserta untuk saling berkenalan dan berbagi pengalaman hidup mereka selama di lapangan.
Di balik keceriaan acara, kisah-kisah yang dibagikan para anggota sebenarnya menyimpan tantangan dan perlakuan diskriminatif yang kerap mereka alami.
Namun, para penyandang disabilitas ini memilih untuk membagikan pengalaman pilu tersebut dengan suasana penuh canda dan humor.
Salah satu peserta menceritakan pengalamannya saat menghadapi pandangan miring dari masyarakat di ruang publik secara jenaka kepada seluruh anggota yang hadir.
”Biasalah Pak. Ada saja orang yang memandangi saya di jalan dengan tatapan menyelidik. Dikiranya saya tidak tahu.
Ya langsung saja saya pasang wajah seram sambil menggertak: Ngapain lihat-lihat!?
Ya pastinya orang itu gak nyangka dan kaget sekali. Habis itu saya tinggal pergi sambil senyum-senyum geli!” ujarnya yang disambut tawa para peserta.
Menurut Sakban Rosidi, esensi dari berkumpulnya komunitas ini adalah tentang kemampuan kolektif untuk mengubah setiap tantangan hidup menjadi penyemangat yang positif.
Kehadiran putranya, Gilang, dalam membantu kelancaran acara juga memperlihatkan bahwa dukungan penuh dari keluarga merupakan fondasi utama bagi kebahagiaan kaum difabel.







