Bukan Sekadar Teori Kampus: Cara GMNI UNTAG Surabaya Menghidupkan Marhaenisme

Artikel, Pendidikan29 Dilihat

TRETAN.news – Udara dingin lereng Pegunungan Kawi menyambut puluhan mahasiswa dari Surabaya.

Mereka meninggalkan sejenak kenyamanan ruang kuliah dan riuhnya perkotaan untuk menyatu dengan alam dan denyut nadi masyarakat Desa Dalisodo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.

Di kawasan Agroedupark Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) inilah, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Komisariat FISIP dan Teknik Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya menggelar Kaderisasi Tingkat Dasar (KTD) 2026.

Selama tiga hari, sejak 30 Oktober hingga 1 November 2026, mereka tidak hanya duduk mendengarkan materi.

Mereka turun langsung ke ladang, menemui para petani cengkeh, kopi, dan tebu, serta mendengarkan langsung keluh kesah masyarakat akar rumput.

Kolaborasi dua fakultas ini mengusung tema tajam, “Transformasi Marhaenisme Membentuk Kader Kritis, Progresif, dan Resilien dalam Menghadapi Dinamika Global.”

Sebuah ikhtiar strategis untuk mencetak mahasiswa yang tidak hanya tajam dalam pemikiran, tetapi juga berani mengambil sikap di tengah ketimpangan sosial.

Menolak Menjadi Sekadar Penghafal Teori

Bagi GMNI UNTAG Surabaya, KTD 2026 bukanlah sekadar ritual menggugurkan kewajiban administratif organisasi.

Ruang ini menjadi kawah candradimuka untuk membentuk kesadaran kritis yang kerap tumpul oleh rutinitas akademis.

Ziven Aurelino, Ketua DPK GMNI FISIP UNTAG Surabaya, menegaskan bahwa kecerdasan intelektual tanpa kepekaan sosial hanya akan melahirkan robot, bukan manusia pergerakan.

“GMNI berupaya membentuk mahasiswa yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga kesadaran ideologis, kepekaan sosial, serta keberanian menyikapi persoalan bangsa,” ungkap Ziven di sela-sela kegiatan.

Ia mengingatkan kembali semboyan abadi organisasi, Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang.

“Pemikiran harus kita wujudkan melalui tindakan nyata, sementara perjuangan harus senantiasa berlandaskan pengetahuan, kesadaran, dan keberpihakan kepada kaum Marhaen,” tambahnya tegas.

Perspektif serupa datang dari disiplin ilmu yang berbeda. Ketua DPK GMNI Teknik UNTAG Surabaya, Josh Leo, meruntuhkan stigma bahwa mahasiswa teknik hanya peduli pada mesin dan angka. Menurutnya, ilmu teknik justru harus bermuara pada kemanusiaan.

“Seorang kader Teknik tidak cukup hanya mampu memperbaiki sistem. Ia harus berani mengkritisi sistem yang tidak berpihak kepada rakyat,” papar Josh.

Ia meminta para peserta menjadikan GMNI sebagai ruang menempa diri.

“Jangan jadikan organisasi sekadar tempat berkumpul. Kader tidak boleh terjebak pada penguasaan teori semata, tetapi harus mampu menghubungkan pengetahuan dengan realitas sosial,” tegasnya.

Menyatu dengan Tanah, Mendengar Suara Petani

Puncak dari kesadaran sosial tersebut mewujud dalam agenda Analisis Sosial (Ansos). Para mahasiswa menyusuri Desa Dalisodo, berdialog langsung dengan para petani lokal.

Mereka mencatat realita pengelolaan komoditas pertanian, mengurai tantangan ekonomi, dan menggali kearifan lokal yang selama ini menjaga napas kehidupan warga lereng Kawi.

Observasi ini juga menyambung jejak panjang Prof. Ir. Wani Hadi Utomo, Ph.D., tokoh yang berjasa mengembangkan wawasan kebangsaan di kawasan tersebut.

Melalui pendekatan partisipatif ini, GMNI UNTAG Surabaya membuktikan bahwa ideologi Marhaenisme bukan fosil sejarah.

Ideologi ini hidup dan relevan ketika mahasiswa berani membaca ketimpangan struktural dan memperjuangkan keadilan bersama rakyat.

Api Perempuan dan Benteng Nasionalisme

Gerakan sosial tidak akan pernah utuh tanpa pelibatan perempuan. KTD 2026 menempatkan materi Kesarinahan sebagai fondasi penting.

Perjuangan membebaskan kaum Marhaen harus berjalan beriringan dengan perjuangan membebaskan perempuan dari jerat belenggu patriarki.

Dosen FISIP UNTAG Surabaya sekaligus alumni GMNI, Sarinah Dia Puspitasari, S.Sos., M.Si., membakar semangat para peserta perempuan agar berani mengambil ruang.

“Sarinah harus memiliki spirit humanisme, kepekaan membaca realitas sosial, dan kapasitas mengorganisir massa.

Sarinah bukan sekadar penonton sejarah, melainkan bagian dari kekuatan yang menggerakkan sejarah,” urai Dia Puspitasari.

Di tengah gempuran pragmatisme modern, memperkuat fondasi kebangsaan menjadi urgen.

Drs. Mahmud Yunus, M.M.Pd., alumni GMNI Surabaya, membedah krisis kebangsaan yang kini mulai menggerogoti nalar kritis generasi muda.

“Negara yang sedang tidak baik-baik saja ini perlu kita perkuat jiwa nasionalismenya.

Generasi muda harus senantiasa menjaga kepedulian terhadap nasib bangsa, mengingat pola-pola pragmatisme yang mulai mencengkeram masyarakat kita,” tegas Mahmud.

Membawa Pulang Nyala Api Perjuangan

Selama KTD, para peserta menyerap beragam materi berbobot dari para akademisi dan praktisi hukum. Mulai dari Materialisme Dialektika dan Historis (MDH), Advokasi Hukum, Manajemen Aksi, hingga isu Gender.

Tokoh-tokoh seperti Ahmad Yustinus Ariyanto, Agustian Anggi Siagian, dan Noviana Yaniar turut menggembleng nalar kritis peserta.

Kini, KTD 2026 telah usai. Namun, bagi kader GMNI FISIP dan Teknik UNTAG Surabaya, perjuangan baru saja dimulai.

Mereka turun dari lereng Gunung Kawi dengan membawa lebih dari sekadar sertifikat kelulusan. Mereka membawa nyala api kesadaran.

Sebab pada akhirnya, ideologi terhebat bukanlah yang tertulis rapi dalam diktat kuliah, melainkan yang berkeringat, hidup, dan bernapas bersama realita penderitaan rakyat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *