Menanti Taring BEM se-Jember: Saat Kritik Terbentur Dinding Sendiri

Artikel, Investigasi151 Dilihat

JEMBER, TRETAN.news – Asap rokok dan aroma kopi hitam membumbung di sudut warung kawasan kampus Tegalboto, Jember. Di atas meja kayu panjang, tumpukan berkas bertajuk draf konsolidasi terabaikan begitu saja.

Obrolan yang mulanya membedah isu kerakyatan perlahan bergeser menjadi nada gusar: roda aliansi mahasiswa terbesar di kota ini sedang kehilangan arah.

Aliansi BEM se-Jember, wadah yang semestinya menjadi simpul perlawanan dan pengawal kebijakan publik, kini bergelut dengan krisis legitimasi dari dalam tubuhnya sendiri.

Terjebak Lingkaran Kekuasaan

Ruang konsolidasi yang dulu bergemuruh dengan gagasan kritis kini dinilai berjarak dari keresahan rakyat. Sorotan tajam mengarah pada mandeknya sirkulasi kepemimpinan dan dugaan pelanggaran aturan main organisasi.

Berdasarkan kesepakatan Kongres ke-1 Aliansi BEM se-Jember tahun 2024, BAB VI Pasal 15 ayat 3 AD/ART membatasi masa kerja Koordinator Daerah hanya selama satu tahun tanpa hak dipilih kembali.

Namun, praktik di lapangan menunjukkan realitas berbeda. Upaya mempertahankan kendali struktural dinilai telah menabrak batas konstitusi tertulis tersebut.

“Jabatan di organisasi gerakan itu mandat, bukan warisan pribadi. Kalau aturan main saja ditabrak, bagaimana kita bisa menuntut penguasa taat hukum?” ungkap seorang kader penggerak yang rutin mengikuti forum aliansi di Jember.

Pelanggaran konstitusi ini bukan perkara administratif belaka.

Dampaknya menjalar langsung ke lapangan, agenda aliansi kerap terjebak pada kegiatan seremonial yang tumpul, minim substansi, serta kehilangan kepekaan sosial.

Candaan Meja Kopi dan Hilangnya Kontrol

Krisis makin meruncing seiring munculnya kekecewaan terkait transparansi dan dugaan politisasi sumber daya aliansi demi kepentingan kelompok tertentu.

Forum musyawarah kerap berubah menjadi ajang kompromi sempit, alih-alih merumuskan langkah advokasi warga.

Ketimpangan moral ini memicu ironi besar di mata publik kampus.

Mahasiswa begitu lantang menggelar aksi menuntut akuntabilitas pemerintah daerah, sementara mekanisme kontrol dan pertanggungjawaban internal diabaikan begitu saja.

“Demokrasi dan transparansi sekarang seperti bahan candaan di meja tongkrongan.

Kritik internal malah sering dicap sebagai pembangkangan atau ancaman,” keluh salah satu aktivis kampus yang mengawal isu aliansi sejak awal pembentukan.

Kaderisasi yang macet membuat organisasi mengalami ketergantungan pada figur personal.

Proses regenerasi pun terancam melahirkan reproduksi kekuasaan sempit yang melupakan esensi perjuangan akar rumput.

Ujian Keberanian dari Dalam

Aliansi BEM se-Jember bukan milik segelintir elite struktural. Wadah ini merupakan rumah kolektif bagi seluruh mahasiswa Jember yang menaruh harapan pada perbaikan tatanan sosial.

Organisasi yang sehat bukan ruang steril tanpa gesekan, melainkan wadah yang mampu menuntaskan konflik secara terbuka, demokratis, dan patuh pada konstitusi.

Kritik internal harus kembali diposisikan sebagai cermin penyelamat, bukan musuh yang mesti disingkirkan.

Sejarah gerakan mahasiswa tidak pernah mencatat nama mereka yang paling lama menduduki kursi kepemimpinan.

Sejarah hanya mengingat mereka yang berani berdiri tegak membela hak publik dan menolak tunduk pada kenyamanan takhta pribadi.

Taring gerakan tidak akan pernah tumbuh tajam di luar, selama mahasiswa di dalamnya masih gentar membersihkan rumahnya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *