PAMEKASAN, Tretan.News – The 10th International Conference on Islamic Studies (ICONIS) kembali menjadi forum perjumpaan akademik internasional untuk membahas kontribusi pemikiran Islam bagi masa depan peradaban, Kamis (10/9/2026).
ICONIS ke-10 mengusung tema “Tracing the Intellectual Legacy of Nusantara Ulama for Sustainable Civilization and Global Wisdom”. Tema tersebut menyoroti pentingnya menelusuri, mereaktualisasi, dan mengontekstualisasikan warisan intelektual ulama Nusantara.
Warisan tersebut dibahas sebagai sumber inspirasi bagi pembangunan peradaban yang berkelanjutan dan berorientasi pada kearifan global.
Konferensi menghadirkan tiga pemateri utama dari latar belakang akademik dan internasional. Mereka yakni Dr. H. M. Faried F. Saenong, M.A., Ph.D., Staf Khusus Menteri Agama Republik Indonesia.
Kemudian, Prof. Dr. Suliman Hassan Suliman Elwarfali dari Alrefak University, Libya, serta Prof. Dr. Mohd Roslan bin Mohd Nor dari University of Malaya, Malaysia.
Kehadiran para pemateri memperkaya dialog akademik mengenai khazanah intelektual Islam Nusantara, perkembangan keilmuan kontemporer, dan tantangan peradaban global.
Pelaksanaan ICONIS ke-10 menggunakan skema hybrid dengan menggabungkan partisipasi secara langsung dan daring. Sebanyak sembilan ruang presentasi diselenggarakan secara offline dan empat ruang secara online, termasuk ruang khusus bagi para Guru Besar.
Skema tersebut memperluas ruang pertukaran gagasan dan mempertemukan berbagai perspektif keilmuan dalam ekosistem akademik yang kolaboratif dan lintas disiplin.
Antusiasme akademik juga terlihat dari jumlah naskah yang diterima panitia. Sebanyak 260 artikel dari berbagai peneliti dan akademisi diterima panitia, sedangkan 124 artikel terpilih untuk dipresentasikan dalam konferensi.
Para pemakalah berasal dari sejumlah negara, di antaranya Indonesia, Malaysia, Pakistan, dan Oman. Keberagaman tersebut menunjukkan semakin luasnya jejaring akademik dan relevansi isu-isu keislaman dalam percakapan ilmiah internasional.
Kajian Islam dalam forum Kajian Islam dalam forum tersebut ditempatkan dalam konteks yang lebih luas dan tidak lagi dibaca hanya dalam batasgeografis tertentu. Warisan ulama Nusantara dibahas dalam kaitannya dengan keberlanjutan peradaban, transformasi sosial, moderasi, pendidikan, ekonomi, budaya, dan perkembangan pengetahuan global.
Dengan pendekatan tersebut, khazanah Islam Nusantara tidak hanya diposisikan sebagai memori sejarah. Warisan tersebut juga ditempatkan sebagai sumber pengetahuan yang dapat terus direinterpretasi untuk menjawab persoalan zaman.
Artikel yang telah dipresentasikan selanjutnya diarahkan untuk diterbitkan melalui berbagai kanal publikasi ilmiah. Sejumlah kanal tersebut antara lain ICONIS Proceedings, Atlantis Proceedings, Al-Ihkam, Karsa, Okara, Al-Manhaj, Alibba’, As-Shahifah, dan Edu Consilium.
Selain itu, publikasi juga diarahkan melalui El-Nubuwwah, Entita, Guancaran, Islamuna, Iqtishadia, Mubtadi, Panyonara, Rebbani, Revelatia, Shafin, dan Tadris.
Proses publikasi tersebut menjadi bagian penting dari komitmen konferensi dalam memastikan bahwa gagasan yang lahir dari ruang diskusi tidak berhenti sebagai wacana, tetapi berkembang menjadi kontribusi ilmiah yang dapat diakses dan dipertukarkan dalam komunitas akademik yang lebih luas.
Melalui ICONIS ke-10, warisan intelektual ulama Nusantara kembali dipertemukan dengan berbagai tantangan masa kini dan masa depan. Konferensi tersebut menempatkan pengetahuan, dialog lintas bangsa, dan penggalian kebijaksanaan masa lalu sebagai bagian dari pembahasan peradaban berkelanjutan.
ICONIS juga menjadi forum yang menghubungkan khazanah Islam, tradisi intelektual Nusantara, dan kebijaksanaan global dalam membangun horizon peradaban yang lebih berkelanjutan. (*)
![]()







