Ribuan Jemaah dan Ulama dari Berbagai Wilayah Indonesia Hadiri Haul Agung Toronan ke-266

Berita, Daerah, Religi93 Dilihat

PAMEKASAN, Tretan.News Ribuan jemaah dan ulama dari berbagai wilayah Indonesia menghadiri Haul Agung Toronan ke-266 di Pamekasan, Kamis (13/8/2026).

Kegiatan berlangsung di Asta Bhuju’ Agung Toronan, Desa Larangan Badung, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur.

Haul tersebut sekaligus menjadi rangkaian Temu Dzurriyah ke-2 keluarga besar Bhuju’ Agung Toronan. Para dzurriyah berkumpul untuk mempererat silaturahmi, mendoakan leluhur, serta saling mendoakan antaranggota keluarga.

Sejumlah tokoh turut hadir, termasuk Bupati Pamekasan KH Kholilurrahman dan Ketua Persatuan Bani Bhuju’ (PBB) KH Kholil Muhammad Gunungsari. Hadir pula Firman Syah Ali yang mewakili keluarga Mahfud MD serta sejumlah ulama pengasuh pesantren.

Dzurriyah dari berbagai daerah hadir untuk mempererat silaturahmi keluarga sekaligus menjaga nilai-nilai yang diwariskan para leluhur. Melalui haul, keluarga besar Bhuju’ Agung Toronan terus menjaga dan mewariskan nilai-nilai kebaikan kepada generasi berikutnya.

Tema “Satmoto-Molimo” menjadi bagian dari pelaksanaan Haul Agung Toronan ke-266 tahun ini. Secara kultural, tema tersebut menyimbolkan Sunan Giri dan Sunan Ampel serta mengandung ajaran amar ma’ruf dan nahi munkar.

Pihak panitia, Firman Syah Ali, menyampaikan filosofi “Mapolong Ateh” yang bermakna menyatukan hati sebagai salah satu pesan bagi keturunan Sunan Giri.

“Pesan Mapolong Ateh itu memiliki makna yang sangat luas. Para keturunan Sunan Giri diharapkan mampu menjaga persatuan setulus hati dan tidak terpecah hanya karena perbedaan profesi, pekerjaan maupun pilihan politik,” kata Firman Syah Ali yang juga Pengurus Pusat Majelis Alumni IPNU.

Menurut Firman, perbedaan pekerjaan, kelas sosial, profesi, maupun pilihan politik tidak seharusnya memengaruhi persatuan keturunan Bhuju’ Agung Toronan.

“Apapun pekerjaannya, apapun kelas sosialnya, apapun bendera politiknya dan apapun profesinya, keturunan Bhuju’ harus tetap bersatu dan menyatukan hati untuk mendapatkan ridha Allah SWT serta syafaat Nabi Muhammad SAW,” lanjut pria yang juga Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP) tersebut.

Semangat tersebut menjadi pesan penting dalam Temu Dzurriyah. Perbedaan dalam kehidupan sosial tidak seharusnya memutus hubungan darah dan tali persaudaraan. Karena itu, setiap generasi harus ikut menjaga, merawat, dan meneruskan warisan leluhur kepada generasi berikutnya.

Kegiatan Haul Agung Toronan ke-266 turut mempertemukan jemaah dari berbagai wilayah Indonesia, termasuk dari Papua.

“Tadi dalam haul semua melepaskan jubah kebesaran, semua bersatu dan berkumpul secara setara untuk mendoakan sesepuh kita bersama. Alhamdulillah jamaah hadir dari seluruh wilayah Indonesia, termasuk di antaranya Papua,” pungkas Pimpinan salah satu perguruan Karate itu. (*)

 

Ribuan jemaah menghadiri Haul Agung Toronan ke-266

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *