Mengenal Gus Gudfan Arif Ghofur, Operator Sunyi Didikan Gus Dur

Artikel, Religi, Tokoh38 Dilihat

SURABAYA, tretan.news — Panggung politik kerap melahirkan pemimpin yang tumbuh dari sorotan kamera, riuh baliho, dan kepopuleran media sosial.

Namun, Nahdlatul Ulama (NU) memiliki tradisi lain, yakni melahirkan corak kepemimpinan dari ruang-ruang sunyi pesantren, riyadhah batin, serta bimbingan para kiai sepuh.

Alumni UIN Sunan Ampel Surabaya, Rizal Haqiqi, menilai model kepemimpinan sunyi inilah yang melekat pada sosok Gudfan Arif Ghofur.

Pria yang akrab dengan sapaan Gus Gudfan ini bukan sekadar figur administratif atau pengusaha yang masuk ke gelanggang organisasi.

Lebih dari itu, ia memikul tanggung jawab genealogis dan spiritual yang panjang.

Sebagai putra KH. Abdul Ghofur, pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, Gus Gudfan mengalir darah keturunan dua wali besar Nusantara, yaitu Sunan Drajat dan Sunan Giri.

“Nasab yang hakiki bukanlah darah yang mengalir dalam pembuluh, melainkan warisan ruhani yang mengalir dari hati ke hati,” tulis Rizal Haqiqi dalam ulasan refleksinya.

Menurut Rizal, perpaduan dua arus besar kewalian ini membawa pesan kuat bagi masa depan NU.

Sunan Drajat mewakili Islam pelayanan yang menyentuh rakyat kecil melalui filosofi Catur Piwulang, sementara Sunan Giri mewakili Islam kelembagaan yang membangun pusat peradaban tata kelola sosial melalui Giri Kedaton.

Menjawab Tantangan Ekonomi Umat

Memasuki abad keduanya, NU menghadapi tantangan zaman yang jauh lebih kompleks, mulai dari kapitalisme digital hingga kemandirian ekonomi organisasi.

Rizal Haqiqi menegaskan bahwa warga Nahdliyin tidak cukup hanya menerima ceramah tentang kesabaran di tengah kemiskinan struktural.

Saat organisasi mulai merambah ke sektor-sektor usaha strategis seperti pengelolaan tambang, sosok pemimpin penentu kebijakan memerlukan kompas spiritual yang kokoh agar tidak terjebak menjadi oligarki baru.

“Jika dikelola dengan amanah, ekonomi NU adalah bentuk baru Catur Piwulang. Memberi makan hari ini bisa berarti membangun badan usaha. Memberi pakaian bisa berarti membuka lapangan kerja,” urai Rizal.

Oleh karena itu, figur yang mengomandani agenda ekonomi harus memiliki kecakapan manajerial sekaligus integritas moral yang tinggi.

Sentuhan “Sekolah Politik Sunyi” Gus Dur

Latar belakang Gus Gudfan kian menarik karena ia sempat mengenyam pendidikan politik langsung dari KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Selama lebih dari setahun, ia mendampingi Presiden ke-4 RI tersebut dalam berbagai pertemuan tertutup dan diskusi senyap.

Pengalaman mendampingi Gus Dur tersebut membentuk karakter kepemimpinan yang inklusif, berani, namun tetap lentur.

Gus Dur mengajarkan bahwa politik bukanlah alat pemuas ambisi kekuasaan, melainkan seni menjaga kemanusiaan dan membela kaum yang lemah.

Selain mentor politik yang kuat, kedisplinan spiritual melalui Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah turut membentuk pola kerja Gus Gudfan yang cenderung bergerak di balik layar.

Metode dzikir khafi (zikir sunyi) dalam tarekat ini melatih seorang pemimpin untuk tetap membumi dan menjaga kejernihan hati di tengah pusaran konflik duniawi.

“Ia bukan tipe kiai panggung yang hanya mengandalkan retorika. Ia lebih dekat dengan model ‘operator sunyi’, bekerja di balik layar, membangun jaringan, mengelola sumber daya, dan menjahit hubungan,” jelas Rizal mengenai karakter hibrid tersebut.

Ujian Nyata Kepemimpinan Abad Kedua

Kendati memiliki modal kultural dan jejaring yang luas, setiap calon pemimpin yang muncul dalam orbit NU tetap harus melewati ujian publik dan kritik yang terbuka.

Karakter hibrid paham kitab kuning sekaligus laporan keuangan, hormat pada kiai sepuh tetapi menguasai teknologi modern, harus mewujud dalam tindakan nyata.

Rizal Haqiqi menyimpulkan bahwa tantangan terbesar Gus Gudfan ke depan adalah membuktikan bahwa garis keturunan wali dan kedekatan spiritual bukanlah privilese politik, melainkan sebuah tanggung jawab besar untuk melayani umat.

“Sejarah tidak cukup dibangun oleh modal. Sejarah menuntut pembuktian. Jika kelak Gus Gudfan benar-benar memainkan peran besar dalam NU abad kedua,.

Maka ia harus membuktikan bahwa spiritualitas tidak berhenti sebagai simbol, politik tidak jatuh menjadi transaksi, dan ekonomi tidak berubah menjadi keserakahan,” pungkasnya.

Oleh: Rizal Haqiqi
(Alumni UIN Sunan Ampel Surabaya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *