Dorong SWK Ketabangkali “Naik Kelas” Gelar Pelatihan Mie dan Minuman Kekinian

Berita, Sosial, UMKM40 Dilihat

SURABAYA, TRETAN.News — Upaya meningkatkan daya saing pedagang kuliner kembali digelar melalui pelatihan kreasi aneka mie instan dan minuman sachet di Sentra Wisata Kuliner (SWK) Ketabangkali, Surabaya, Rabu (22/4/2026).

Di tengah persaingan kuliner yang semakin kreatif, pelatihan ini menjadi salah satu cara agar menu sederhana tetap bisa tampil lebih “berkelas” setidaknya dari sisi penyajian dan variasi.

Kegiatan yang melibatkan Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan (Dinkopumdag) bersama Politeknik NSC ini diikuti para pedagang setempat, dengan materi mulai dari pengolahan hingga tampilan produk agar lebih menarik, khususnya bagi kalangan muda.

Koordinator Wilayah Pusat dari Dinkopumdag, Ratna Sylvia Sihombing, menyebut pelatihan ini sebagai langkah untuk meningkatkan kualitas usaha kecil.

“Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan daya saing pedagang di SWK Ketabangkali, agar mampu mengikuti perkembangan selera konsumen,” ujarnya.

Di lapangan, para pedagang tampak antusias mengikuti pelatihan. Dari mie yang sebelumnya sederhana, kini diharapkan bisa tampil lebih variatif karena di era sekarang, rasa saja kadang belum cukup tanpa tampilan yang “menjual”.

Pengurus SWK Ketabangkali, Syamsuri, menyambut baik kegiatan tersebut dan melihatnya sebagai dorongan untuk meningkatkan kreativitas pedagang.

“Pelatihan ini sangat baik untuk meningkatkan inovatif para pedagang di SWK Ketabangkali,” ungkapnya.

Sementara itu, M. Umar menilai kegiatan ini merupakan hasil komunikasi antara pemerintah dan pengelola SWK, yang setidaknya menunjukkan bahwa dialog masih berjalan.

“Kegiatan ini terlaksana dari komunikasi dua arah antara Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Koperasi dengan pengurus SWK Ketabangkali untuk terus meningkatkan inovatif para pedagang,” jelasnya.

Pelatihan ini diharapkan membawa dampak jangka panjang. Meski demikian, seperti banyak program peningkatan kapasitas lainnya, hasil akhirnya tetap bergantung pada bagaimana inovasi tersebut benar-benar diterapkan setelah pelatihan selesai.

Karena pada akhirnya, “naik kelas” bukan hanya soal pelatihan sehari, tetapi bagaimana konsistensi dijaga setelah kompor kembali menyala seperti biasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *