SURABAYA, TRETAN.News — Di tengah padatnya agenda organisasi dan dinamika yang tak pernah benar-benar sepi, Ormas Garuda memilih satu cara klasik untuk merawat kebersamaan: halal bihalal.
Bukan sekadar tradisi, tetapi juga momen “reset” hubungan yang kadang perlu disegarkan kembali.
Kegiatan yang digelar di Warkop Mantul, Jalan Kusuma Bangsa, Surabaya, Minggu (19/4/2026) malam itu mempertemukan berbagai unsur organisasi.
Dari pengurus hingga perwakilan lintas kelompok, semua hadir dalam satu ruang dengan satu tujuan yang sama: mempererat silaturahmi.
Beberapa nama yang tampak hadir antara lain Taufik dari MADAS Sedarah, H. Ruham selaku Ketua DPD Surabaya, H. Horiri sebagai Pengawas DPP, Musleh selaku Sekjen, (Purn) TNI Agus Nanang sebagai Ketua DPW Jawa Timur, serta Mihzab dari DPD Bangkalan.
Dalam sambutannya, Sekjen Musleh menyampaikan pesan yang terdengar sederhana, namun sering kali menjadi inti dari banyak kegiatan serupa.

“Tujuan utama halal bihalal ini adalah memperteguh silaturahmi sebagai wujud implementasi kekuatan organisasi,” ujarnya.
Di balik kalimat tersebut, publik mungkin membaca lebih dari sekadar makna literal. Sebab dalam banyak organisasi, silaturahmi bukan hanya soal berjabat tangan, tetapi juga menjaga ritme komunikasi agar tetap sejalan, atau setidaknya tidak berseberangan.
Acara berlangsung dengan suasana santai namun penuh simbol. Pertunjukan pencak silat khas Madura dan atraksi barongsai menjadi hiburan yang menambah warna, seolah mengingatkan bahwa perbedaan latar belakang tetap bisa berada dalam satu panggung yang sama.
Menjelang akhir acara, seluruh anggota naik ke atas panggung untuk saling berjabat tangan. Sebuah gestur yang mungkin terlihat sederhana, namun selalu punya makna yang berlapis dari sekadar formalitas hingga benar-benar menjadi tanda rekonsiliasi.
“Semangat persaudaraan, kekompakan, dan solidaritas harus terus dijaga,” tambah Musleh.
Di titik ini, publik mungkin hanya bisa berharap bahwa kata “solid” tidak berhenti di panggung acara, tetapi benar-benar berlanjut dalam kerja nyata organisasi.
Karena pada akhirnya, halal bihalal bukan hanya tentang saling memaafkan, tetapi juga tentang bagaimana menjaga komitmen setelah kata “maaf” itu diucapkan.







