SURABAYA, TRETAN.news – Pengusaha kuliner Sate dan Gule Sumsum di Sentra Wisata Kuliner (SWK) Dharmahusada, Drs. H. Supriono, membagikan enam kebiasaan yang menurutnya kerap menghambat pelaku usaha kecil berkembang.
Supriono yang juga menjabat Dewan Penasehat Serikat Pedagang Kaki Lima (SPEKAL) menyampaikan hal itu berdasarkan pengalamannya membangun usaha kuliner dari nol.
Enam kebiasaan tersebut meliputi mentalitas ingin cepat kaya, gengsi berlebihan, malas belajar, takut mengambil risiko, mencampur uang pribadi dengan uang usaha, dan mudah menyerah saat menghadapi kegagalan.
“Dulu pas awal jualan sate di sini, saya juga sempat berpikir kapan bisa untung besar. Tapi ternyata usaha kuliner itu jalannya pelan-pelan. Yang penting pelanggan datang, balik lagi, datang lagi. Dari situ baru usaha bisa naik,” ujar Supriono.
Gengsi Jadi Penghambat Utama
Supriono menyebut gengsi sebagai salah satu sifat yang paling sering membuat pelaku usaha gagal berkembang.
Ia mencontohkan dirinya yang masih turun langsung mengurus dagangannya meski telah dikenal sebagai pengurus organisasi pedagang.
“Saya sendiri yang potong daging, saya sendiri yang racik bumbu sampai sekarang. Gengsi itu yang bikin banyak orang gagal maunya jadi bos doang, padahal usaha kuliner ya harus kotor tangan dulu,” katanya.
Dorong Pedagang Terus Belajar
Sebagai Dewan Penasehat SPEKAL, Supriono kerap mengingatkan anggotanya untuk tidak berhenti belajar, termasuk dalam hal pengelolaan rasa, kebersihan, dan pemasaran digital.
“Saya selalu bilang ke anggota, jangan merasa resep sudah paling enak terus berhenti belajar. Selera orang berubah, cara jualan juga berubah, sekarang harus paham promosi online juga,” jelas Supriono.
Pengalaman Pindah Lokasi Usaha
Supriono juga menyinggung pengalamannya saat memutuskan pindah ke SWK Dharmahusada, yang menurutnya sempat diliputi keraguan.
“Waktu pindah ke SWK Dharmahusada, saya juga sempat ragu, takut sepi pembeli. Tapi kalau terus ragu, kapan majunya.
Saya hitung dulu risikonya, kalau memang masih bisa ditanggung, jalan saja,” ungkapnya.
Pisahkan Uang Usaha dan Pribadi
Ia menekankan pentingnya disiplin memisahkan keuangan usaha dari kebutuhan pribadi.
“Ini yang paling sering bikin pedagang kuliner gagal. Uang hasil jualan dicampur buat kebutuhan rumah, akhirnya modal habis tanpa sadar. Saya disiplin pisahkan, ada kas usaha sendiri,” kata Supriono.
Evaluasi, Bukan Menyerah
Terakhir, Supriono menyoroti pentingnya sikap pantang menyerah saat usaha mengalami masa sepi.
“Selama puluhan tahun jualan sate dan gule sumsum, saya juga pernah sepi, pernah dagangan tidak habis. Tapi kalau langsung menyerah, ya usaha berhenti di situ. Harus dievaluasi, cari tahu kurangnya di mana,” tuturnya.







