SURABAYA, Tretan.News — PT Terminal Teluk Lamong (TTL) mencatat sejumlah perubahan dalam lima tahun setelah merger PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo. Salah satu hasil transformasi terlihat dari penurunan rata-rata waktu tunggu kapal di dermaga domestik dari 6,67 jam menjadi 1,83 jam.
Perbaikan tersebut dilakukan melalui evaluasi pola operasi dan kolaborasi dengan pelayanan pemanduan. TTL menyempurnakan pola pelayanan agar kapal dapat dilayani lebih fleksibel tanpa harus menunggu kondisi arus tertentu.
Selain memangkas waktu tunggu kapal, transformasi TTL juga ditandai dengan pertumbuhan arus peti kemas yang mencapai 2.187.964 TEUs pada 2025. Jumlah tersebut meningkat dari 780.160 TEUs pada 2021.
Pertumbuhan throughput semakin tinggi dalam dua tahun terakhir. Pada 2024, arus peti kemas meningkat 55,9 persen dan kembali tumbuh 64,6 persen pada 2025.
Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong, David Pandapotan Sirait, mengatakan lima tahun pascamerger menjadi momentum untuk membangun sistem operasional yang lebih terintegrasi.
“Lima tahun pascamerger menjadi perjalanan penting bagi Terminal Teluk Lamong. Kami tidak hanya tumbuh dari sisi volume, tetapi juga terus membangun fondasi operasional yang semakin terintegrasi, produktif, dan berorientasi kepada pelanggan,” ujar David dalam keterangan tertulis, Rabu (7/10/2026).
Kepastian Jadwal Sandar Kapal
Setelah melakukan perbaikan pada pola pelayanan kapal, TTL memperkuat efisiensi melalui penerapan Berthing Priority dan Berthing Window.
Kedua konsep tersebut ditujukan untuk meningkatkan kepastian jadwal sandar, mengurangi waktu tunggu kapal, dan mendukung reliability jadwal pelayaran.
Pengembangan pola pelayanan tersebut menjadi bagian dari upaya TTL meningkatkan kualitas layanan terminal seiring bertambahnya aktivitas dan volume peti kemas.
Kelola Tiga Terminal
Transformasi TTL juga berlangsung melalui perluasan cakupan pengelolaan terminal.
Pada 2024, TTL menerima serah operasi TPK Nilam. Setahun kemudian, TPK Berlian juga masuk dalam pengelolaan TTL.
Dengan demikian, TTL saat ini mengelola tiga terminal peti kemas, yakni TPK Teluk Lamong, TPK Nilam, dan TPK Berlian.
Integrasi tersebut memberikan peluang bagi perusahaan untuk melakukan optimalisasi kapasitas, aset, peralatan, dan sumber daya secara lebih terintegrasi.
Selain itu, standardisasi proses operasional dapat diperluas ke tiga terminal untuk meningkatkan produktivitas dan konsistensi pelayanan.
Truk Masuk Terminal Diatur Digital
Transformasi TTL juga menyasar aktivitas kendaraan di area terminal.
Pada 2025, perusahaan menerapkan Terminal Booking System (TBS) untuk mengatur kedatangan dan pemerataan arus truk.
Sistem tersebut digunakan untuk meningkatkan handling capacity, mengendalikan Truck Round Time (TRT), serta meningkatkan efisiensi proses haulage.
Digitalisasi kemudian diperkuat dengan pengembangan Integrated Planning & Control untuk meningkatkan kualitas perencanaan dan pengendalian aktivitas terminal secara terintegrasi dan berbasis data.
Pengembangan sistem tersebut diharapkan membuat proses operasional semakin terukur sekaligus mendukung pengambilan keputusan secara lebih cepat.
EAZI Percepat Proses Kapal
Pada 2026, TTL kembali memperkenalkan inovasi melalui penerapan Express Anchorage Zone Service (EAZI).
Program ini dikembangkan bersama pemangku kepentingan kepelabuhanan dengan memanfaatkan area labuh untuk mempercepat proses pelayanan kapal.
Melalui EAZI, pelayanan kapal di area labuh dapat dilakukan lebih cepat. Kondisi tersebut membantu memperpendek waktu pergantian antarkapal dan mendukung percepatan proses menuju sandar.
Menurut David, berbagai inovasi tersebut merupakan bagian dari proses perbaikan yang dilakukan secara berkelanjutan.
“Transformasi bagi kami bukan satu proyek besar yang berdiri sendiri, tetapi rangkaian continuous improvement,” katanya.
Menurutnya, perbaikan dilakukan mulai dari bagaimana kapal dapat sandar lebih cepat, kepastian jadwal sandar, pengaturan truk, hingga pengendalian aktivitas terminal.
“Semua bermuara pada satu tujuan, yaitu memberikan layanan yang lebih cepat, pasti, aman, dan efisien kepada pelanggan,” ujarnya.
Dorong Ekosistem Logistik Berkelanjutan
Ke depan, TTL tidak hanya berfokus pada peningkatan produktivitas, tetapi juga mengarahkan pengembangan terminal pada konsep smart, green, and sustainable.
Integrasi tiga terminal menjadi salah satu faktor yang dapat mendukung optimalisasi aset dan sumber daya sekaligus memperluas sinergi operasional.
Teknologi digital juga terus dikembangkan untuk memperkuat konektivitas antara terminal, shipping line, pengguna jasa, transporter, dan mitra lainnya dalam rantai logistik.
Di sisi lingkungan, TTL menyatakan komitmennya terhadap efisiensi energi, pengurangan dampak lingkungan, keselamatan kerja, dan keberlanjutan operasional.
“Integrasi tiga terminal memberikan ruang yang semakin besar bagi kami untuk mengoptimalkan kapasitas, aset, dan sumber daya secara lebih efektif,” kata David.
Ia menambahkan, transformasi TTL ke depan akan diarahkan untuk membangun ekosistem terminal yang semakin smart, green, dan sustainable dengan tetap menyesuaikan kebutuhan pelanggan dan perkembangan industri logistik.
Memasuki fase berikutnya setelah lima tahun merger Pelindo, TTL akan melanjutkan penguatan integrasi tiga terminal, peningkatan produktivitas, digitalisasi, serta pengembangan inovasi operasional.
Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi TTL dalam mendukung konektivitas logistik, efisiensi rantai pasok, dan daya saing maritim Indonesia.







