Kopdar Ratusan Pecinta Layangan Besar Disampang, Pererat Silaturahmi

Berita, Sosial79 Dilihat

SAMPANG, Tretan.News — Ratusan pecinta layang-layang berukuran besar menggelar kopi darat (Kopdar) di Lapangan Helipad, Dusun Seloros, Desa Batoporo Barat, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, Madura, Rabu (7/10/2026) siang.

Kegiatan tersebut digelar sebagai ajang mempererat tali silaturahmi sekaligus menjadi wadah bagi para penghobi layang-layang besar dari berbagai wilayah, khususnya masyarakat dan para pecinta layangan di Desa Batoporo Barat.

Lapangan Helipad Dusun Seloros dipilih sebagai lokasi kegiatan karena dinilai memiliki area yang cukup terbuka serta jauh dari jaringan kabel listrik dan aktivitas pengendara. Kondisi tersebut membuat para penghobi dapat menerbangkan layangan dengan lebih leluasa.

Suasana semakin ramai karena peserta yang hadir berasal dari berbagai kalangan, mulai dari orang tua, orang dewasa hingga anak-anak. Mereka berkumpul untuk menerbangkan layangan berukuran besar yang menjadi kebanggaan masing-masing.

Tidak hanya mengandalkan bentuk dan ukuran layangan, para penghobi juga menunjukkan kreativitas melalui suara yang dihasilkan dari perangkat sederhana yang biasa disebut “sabengan”.

Salah satu tokoh masyarakat, Ribut, mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu cara untuk mempererat hubungan antarpenghobi layangan besar, baik dari Desa Batoporo Barat maupun dari luar desa.

“Ini semua bukan hanya warga Batoporo Barat, tetapi juga dari luar desa ikut memeriahkan untuk mengeluarkan hobi mereka masing-masing,” ujar Ribut.

Menurutnya, kegiatan Kopdar tersebut tidak dipungut biaya. Seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan secara gratis sebagai bentuk ruang bersama untuk menyalurkan hobi sekaligus menunjukkan kreativitas dalam membuat dan menerbangkan layangan besar.

Ribut menambahkan, kegiatan berlangsung mulai siang hingga malam hari. Panitia juga menyediakan hidangan secara gratis bagi para peserta yang hadir.

Dalam kegiatan itu, ratusan layangan besar jenis “sekak” diterbangkan secara bergantian. Penilaian secara informal dilakukan dengan melihat keindahan serta cara layangan saat mengudara, termasuk suara yang dihasilkan.

“Untuk menghindari benturan antar-layangan, maka diterbangkan secara bergantian,” tambahnya.

Menurut Ribut, penerbangan secara bergantian juga menjadi bagian dari upaya menjaga kegiatan tetap tertib sehingga para penghobi dapat menikmati permainan layangan tanpa saling mengganggu.

Ia berharap kegiatan seperti ini dapat terus menjadi ruang silaturahmi bagi para pecinta layangan besar. Selain menjaga hubungan antarpenghobi, kegiatan tersebut diharapkan mampu menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyalurkan kreativitas dan hobi secara positif.

“Harapan kami, kegiatan seperti ini bisa terus berjalan dan semakin mempererat silaturahmi. Bukan hanya antarwarga Batoporo Barat, tetapi juga dengan para pecinta layangan dari luar desa,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *