Kala Guru di Sumenep Belajar Jurnalistik: Menangkal Hoaks dan Melawan Ketakutan pada Oknum Wartawan

Pendidikan80 Dilihat

SUMENEP, TRETAN.news – Suasana pagi di ruang kelas SDN Kalimook II, Kecamatan Kalianget, terasa berbeda pada Sabtu (26/9/2026).

Puluhan pahlawan tanpa tanda jasa duduk rapi, namun kali ini mereka tidak sedang menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) atau kurikulum baru.

​Para guru dari Gugus 02 Kalianget ini tengah menyelami dunia yang kerap bersinggungan dengan keseharian mereka, namun jarang mereka pahami sepenuhnya, belantara informasi digital dan rimba dunia jurnalistik.

​Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Sumenep hadir membawa program “Sekolah Melek Media“.

Sebuah inisiatif yang tidak sekadar menjejalkan teori dasar penulisan berita atau pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), tetapi juga menyentuh realita paling pahit di lapangan: teror dari oknum yang mengaku-ngaku sebagai wartawan.

​Benteng Pertama Melawan Arus Hoaks

​Ketua SMSI Kabupaten Sumenep, Wahyudi, menatap tajam para audiens. Ia menyadari betul bahwa sekolah adalah garis pertahanan pertama bagi generasi muda yang kini lahir dan bernapas di era media sosial.

​“Sekolah harus bisa melek informasi. Kita harus bisa membedakan mana produk jurnalistik dari media arus utama, dan mana keriuhan informasi tanpa filter yang beredar di media sosial,” tegas Wahyudi membuka percakapan.

​Di era digital, disinformasi menjalar lebih cepat dari api yang membakar ilalang. Cepatnya sebuah kabar beredar, kata Wahyudi, tidak pernah menjadi jaminan atas kebenarannya.

​Oleh karena itu, kemampuan guru dalam memverifikasi sumber, memahami konteks, dan berpikir kritis menjadi senjata utama sebelum mereka mentransfer ilmu tersebut kepada para siswa.

​Titik Nadir dan Nasihat yang Menyelamatkan

​Acara semakin hangat ketika dua jurnalis senior yang juga pemimpin redaksi media siber lokal mengambil alih forum. Moh. Sumardono, atau yang akrab disapa Mazdon, Pemimpin Redaksi madura.id, membawa audiens masuk lebih dalam ke dapur redaksi.

​Ia mengurai anatomi berita, dari menentukan angle, merajut lead, hingga memilih headline yang memikat namun tetap berpijak pada fakta.

Namun, materi teknis itu seketika berubah emosional ketika Mazdon membagikan sisi gelap perjalanannya sebagai jurnalis.

​Dengan suara tertahan, ia mengaku pernah berada di titik nadir.

Ia hampir membuang kartu persnya, muak melihat profesi yang ia cintai justru digunakan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab untuk memeras lembaga dan menakut-nakuti masyarakat.

​Di tengah keputusasaan itu, sebuah nasihat dari sang guru spiritual menjadi jangkar yang menahannya.

​”Beliau bilang agar saya terus menekuni dunia jurnalistik. Bela masyarakat bawah, salaggi’ ba’na juntrong ka Pangeranna (selama niat dalam hatimu karena Tuhan), maka profesi apa pun itu baik di mata Allah dan manusia,” cerita Mazdon.

​Petuah bijak itu yang membuatnya bertahan. Ia ingin membuktikan bahwa wartawan sejati bekerja dengan memanggul tanggung jawab sosial dan etika, bukan menebar ketakutan demi isi amplop.

​Jangan Takut pada “Wartawan Bodrek”

​Realita kelam soal oknum pemeras itu langsung disambut oleh Prengky Wirananda, Pemimpin Redaksi Klikmadura.com.

Dengan gaya yang lugas dan tajam, ia membongkar praktik kotor oknum yang kerap meresahkan pihak sekolah dan desa.

​Prengky meminta para guru untuk berhenti menjadi korban ketakutan yang tidak beralasan. Ia menegaskan, wartawan profesional bekerja untuk mencari fakta, bukan bertindak layaknya penyidik yang mencari-cari kesalahan demi keuntungan pribadi.

​”Jika ada oknum yang mengatasnamakan wartawan, bentak-bentak seperti penyidik, lalu ujung-ujungnya minta duit, mohon jangan dikasih!

Karena itu akan menular kepada teman-teman mereka yang lain,” seru Prengky, memecah keheningan ruangan.

​Kehadiran SMSI di tengah para pendidik ini membawa misi pelurusan persepsi. Prengky ingin masyarakat, khususnya guru, tahu cara membedakan jurnalis sejati yang datang dengan sopan santun kode etik, dan oknum pencari celah yang bermodalkan ancaman.

​Dari Konsumen Menjadi Produsen Informasi

​Mendengar pemaparan yang membumi itu, Pengawas Sekolah Wilayah Kerja Kalianget, H. Abd. Aziz, M.Pd., yang turut mendampingi Ketua Gugus 02 Kalianget, A. Yudhi, langsung merespons dengan penuh harap.

​Ia tidak ingin para guru pulang hanya dengan membawa catatan. Aziz menantang mereka untuk bertransformasi.

​“Ikuti kegiatan ini dengan baik. Guru jangan cuma sekadar jadi konsumen berita. Kalian harus bisa belajar menulis dan meracik informasi dari para jurnalis ini,” ujarnya menyemangati.

​Bagi Aziz, guru yang pandai menulis akan membawa perubahan besar.

Mereka bisa mempublikasikan prestasi sekolah, membangun citra positif pendidikan, dan pada akhirnya, menciptakan budaya literasi yang hidup di lingkungan sekolah.

​Siang itu, di ruang kelas SDN Kalimook II, para guru tidak sekadar belajar cara menulis lead atau memanfaatkan AI.

Lebih dari itu, mereka diajak menegakkan kepala, merawat akal sehat untuk memfilter hoaks, dan menumbuhkan keberanian untuk berkata “tidak” pada oknum yang merusak muruah jurnalistik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *