SURABAYA, TRETAN.news — Di tengah kehidupan modern yang bergerak cepat, masih ada sebagian masyarakat dan santri yang menjaga tradisi laku spiritual dengan penuh ketekunan.
Salah satunya adalah laku Pati Geni, sebuah ritual tirakat yang dikenal di kalangan spiritualis, khususnya sebagian Santri Sememi.
Bagi para pelaku tradisi ini, Pati Geni bukan sekadar aktivitas menyepi dalam gelap. Ritual tersebut dipahami sebagai perjalanan batin untuk melatih pengendalian diri, ketenangan hati, serta mendekatkan manusia pada nilai-nilai spiritual.
Suasana hening menjadi bagian utama dalam proses tersebut. Namun, ritual Pati Geni bukan laku yang dilakukan secara sembarangan.
Para pelaku meyakini adanya perhitungan tertentu yang harus diperhatikan, mulai dari hari, tanggal, hingga pasaran.
Perhitungan itu menjadi bagian penting dalam menentukan waktu pelaksanaan ritual. Hal tersebut membuat Pati Geni memiliki nuansa budaya dan spiritual yang kuat di tengah masyarakat yang masih mempercayai warisan leluhur.
“Dalam setiap laku spiritual, yang paling utama bukan hanya bentuk luarnya, tetapi bagaimana seseorang memahami makna dan tujuan dari perjalanan batin itu sendiri,” ujar Ustad Muhammad Nawer.
Menurutnya, sebuah tradisi tidak cukup hanya dipandang dari sisi simbol atau ritualnya.
Nilai yang terkandung di dalamnya perlu dipahami agar tidak kehilangan makna ketika menghadapi perubahan zaman.
Ketika Tradisi Lama Berhadapan dengan Generasi Baru
Seiring perjalanan waktu, Pati Geni menghadapi tantangan baru. Perubahan gaya hidup, perkembangan teknologi, serta pola pikir generasi muda membuat sebagian tradisi spiritual mulai jarang diminati.
Aura mistik yang dulu melekat kuat perlahan mulai berubah. Sebagian orang mulai melihat Pati Geni dengan rasa ragu, bahkan mempertanyakan kembali relevansinya di masa sekarang.
Namun, perubahan tersebut bukan berarti tradisi itu kehilangan nilai. Justru, kondisi itu menjadi ruang refleksi tentang bagaimana sebuah warisan budaya bisa bertahan tanpa kehilangan esensinya.
“Kadang manusia terlalu sibuk mencari sesuatu yang jauh, tetapi lupa melihat makna yang ada di dalam dirinya sendiri,” kata Ustad Muhammad Nawer.
Antara Permata dan Serpihan Beling
Pati Geni pada akhirnya membawa pertanyaan yang lebih dalam: apakah sebuah tradisi tetap menjadi permata ketika zaman berubah, atau hanya menjadi serpihan kenangan yang tertinggal?
Pertanyaan itu menjadi renungan bagi siapa pun yang melihat tradisi bukan hanya sebagai simbol, tetapi sebagai perjalanan manusia memahami dirinya.
Seperti ungkapan reflektif yang muncul dari para pelaku laku spiritual:
“Pati Geni menyiratkan sejuta tanda tanya dalam hati. Apakah benar kau permata, atau hanya serpihan beling kaca? Atau mungkin kita yang terlalu bodoh, suka mencari jejak burung terbang dan mengail ikan di air keruh.”
Pada akhirnya, Pati Geni tidak hanya berbicara tentang gelap dan cahaya. Ia berbicara tentang manusia yang mencari keseimbangan, belajar menahan diri, serta memahami arti keheningan di tengah dunia yang semakin ramai.
Sebab terkadang, dalam diam seseorang justru menemukan jawaban yang tidak selalu bisa ditemukan dalam keramaian.
Wallahu a’lamu bisshowab.







