BRI Perkuat Kemampuan Humas Daerah, Antisipasi Risiko Reputasi di Era Kecerdasan Buatan

Berita22 Dilihat

Surabaya, Tretan.News – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI meningkatkan kemampuan komunikasi dan pengelolaan reputasi di tingkat regional melalui Program Pendidikan Akselerasi Kapabilitas Kehumasan. Program ini menjadi bagian dari upaya perusahaan menghadapi perubahan lanskap media, meningkatnya percakapan publik di kanal digital, serta tantangan komunikasi yang muncul seiring perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Kegiatan yang digelar BRI Corporate University pada Rabu, 7 Oktober 2026, tersebut berlangsung di Kantor BRI Region 12 Surabaya. Pendidikan ini dirancang untuk memperkuat kompetensi insan BRI di daerah dalam menjalankan komunikasi strategis, mengelola hubungan dengan media, dan memitigasi risiko reputasi guna menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus mendukung pencapaian tujuan bisnis perusahaan.

Corporate Secretary BRI, Dhanny, yang membuka kegiatan tersebut, menekankan bahwa kehumasan regional memiliki peran penting dalam menjaga citra dan kredibilitas perusahaan. Fungsi humas kini tidak hanya berorientasi pada publikasi, tetapi juga mencakup pengelolaan hubungan dengan pemangku kepentingan serta penyampaian informasi yang akurat dan konsisten.

“Peran kehumasan di tingkat regional saat ini bukan lagi sekadar fungsi administratif publikasi, melainkan garda terdepan dalam menjaga reputasi dan membangun kepercayaan pemangku kepentingan. Dinamika informasi di daerah berkembang sangat cepat; satu isu lokal dapat dengan mudah tereskalasi menjadi perbincangan nasional dalam hitungan menit,” ujar Dhanny.

Komunikasi Strategis Jadi Kunci Menjaga Kepercayaan

Menurut Dhanny, peningkatan kompetensi kehumasan semakin dibutuhkan oleh BRI sebagai institusi perbankan yang telah melayani masyarakat Indonesia selama 131 tahun. Kemudahan masyarakat dalam mengakses, menyebarkan, dan menilai informasi melalui berbagai kanal digital membuat perusahaan perlu menjaga hubungan yang konstruktif dengan media maupun pemangku kepentingan.

Dalam kegiatan tersebut, BRI menyelaraskan pemahaman sekaligus memperdalam keterampilan praktis peserta agar mampu menghadapi dinamika komunikasi publik yang terus berkembang.

“Melalui Pendidikan Akselerasi Kapabilitas Kehumasan ini, kita menyelaraskan pemahaman dan mengasah kompetensi praktis rekan-rekan sekalian. Sepanjang hari ini, kita akan mendalami pilar-pilar utama: mulai dari kepemimpinan komunikasi, pengelolaan media sosial dan sentimen digital, respons krisis yang terintegrasi, hingga pemahaman atas ekosistem media baru berteknologi AI,” lanjutnya.

Sejumlah materi utama yang diberikan meliputi kepemimpinan komunikasi, pengelolaan media sosial, pemantauan sentimen digital, respons krisis yang terintegrasi, serta pemahaman terhadap ekosistem media baru yang memanfaatkan teknologi AI.

Mendukung Transformasi Merek Satu Bank untuk Semua

Penguatan kemampuan komunikasi tersebut juga sejalan dengan upaya BRI memperluas relevansi layanan bagi berbagai lapisan masyarakat.

Pada Desember 2025, BRI mengumumkan transformasi merek dengan positioning “Satu Bank untuk Semua”. Strategi ini menegaskan upaya perusahaan untuk menjangkau beragam segmen masyarakat dengan layanan yang relevan terhadap kebutuhan nasabah.

Dalam mendukung arah transformasi tersebut, komunikasi korporat memiliki peran untuk memastikan pesan perusahaan tersampaikan secara konsisten. Hubungan yang konstruktif dengan media dan pemangku kepentingan juga diperlukan untuk mempertahankan kredibilitas serta membangun pemahaman publik terhadap perusahaan.

Peserta Dibekali Strategi Pengelolaan Reputasi Digital

Program pendidikan ini menghadirkan Neneng Herbawati yang membahas keterkaitan gaya komunikasi kepemimpinan regional dengan reputasi lembaga.

Materi tersebut menyoroti integritas, transparansi, dan konsistensi narasi korporat sebagai landasan dalam membangun kredibilitas serta kepercayaan pemangku kepentingan. Ketiga aspek itu menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas komunikasi dan persepsi publik terhadap perusahaan.

Pemateri lainnya, Arief Sitohang, mengulas strategi pemantauan serta pengelolaan percakapan publik. Peserta mendapatkan pemahaman mengenai pengelompokan sentimen positif, netral, dan negatif untuk membantu membaca perkembangan opini masyarakat.

Selain itu, peserta diperkenalkan pada pemanfaatan instrumen pemantauan digital (digital monitoring tools) untuk mendeteksi potensi risiko reputasi, menetapkan ambang batas risiko (risk threshold), serta menentukan langkah respons secara cepat.

Melalui pembekalan tersebut, BRI berupaya meningkatkan kesiapan insan kehumasan regional dalam mengenali potensi persoalan reputasi dan merespons perkembangan isu secara tepat. Penguatan kompetensi komunikasi diharapkan mendukung upaya perusahaan dalam menjaga kepercayaan publik dan membangun hubungan yang berkelanjutan dengan pemangku kepentingan di tengah perkembangan teknologi AI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *