Puncak Ruwatan Digelar di Air Terjun Putuk Truno, GMBI Bentangkan Merah Putih 40 Meter

Berita, Budaya181 Dilihat

PASURUAN, TRETAN.news — Rangkaian Ruwatan Agung Nuswantoro yang digelar LSM GMBI (Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia) Wilayah Teritorial Jawa Timur memasuki puncak acara di kawasan Air Terjun Putuk Truno, Kelurahan/Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Sabtu (22/8/2026).

Prosesi tersebut diikuti perwakilan distrik GMBI dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Sebelum menuju lokasi ruwatan, para peserta berkumpul di Lapangan Kelurahan Prigen kemudian berjalan beriringan menuju Air Terjun Putuk Truno.

Suasana prosesi semakin khidmat ketika puluhan peserta membentangkan kain Merah Putih sepanjang sekitar 40 meter.

Mereka juga membawa berbagai ubo rampe dan tumpeng yang menjadi bagian dari rangkaian Ruwatan Agung Nuswantoro.

Setibanya di kawasan air terjun, prosesi dipimpin dalang Ki Winarno Sabdo. Sejumlah peserta duduk bersila di sekitar lokasi dengan membawa masing-masing satu wayang.

Ki Winarno kemudian menuju kedung air terjun sembari memainkan dua lakon wayang. Prosesi tersebut menjadi bagian utama ritual yang berlangsung dalam suasana khidmat.

Ketua LSM GMBI Wilter Jatim, Sugeng SP, mengatakan Ruwatan Agung Nuswantoro bukan sekadar ritual budaya, tetapi juga menjadi sarana spiritual bagi GMBI untuk menumbuhkan kepedulian terhadap kondisi bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“GMBI punya komitmen bahwa Ruwatan Agung ini sebagai wahana atau sarana spiritual kami untuk ikut bertanggung jawab terhadap situasi kondisi negara secara keseluruhan.

Jadi ini adalah murni karena gerakan anak-anak bangsa yang cinta terhadap NKRI,” ujar Sugeng.

Menurut Sugeng, pembentangan kain Merah Putih sepanjang 40 meter juga memiliki makna simbolis. Angka 40, kata dia, dipandang sebagai salah satu bilangan yang memiliki nilai sakral.

“40 adalah bilangan-bilangan yang kami anggap sebagai sakral. Sehingga ini adalah perpaduan antara kesakralan bentuk lahiriah dengan dimensi spiritual,” jelasnya.

Ia menambahkan, pembinaan spiritual menjadi salah satu bagian penting dalam membentuk karakter anggota GMBI.

Menurutnya, seseorang perlu memiliki kematangan spiritual sebelum mampu menjadi pribadi yang kuat dan berkualitas.

“Kami di GMBI ini diajarkan empat hal. Salah satunya adalah pendewasaan spiritual. Jadi orang itu harus dibina spiritualnya dulu untuk menjadi orang hebat,” katanya.

Sugeng menilai pembinaan spiritual juga penting bagi seseorang yang kelak menjadi pemimpin.

Ketika spiritual terbina, menurut dia, seseorang akan lebih mampu mengendalikan emosi, menjaga tutur kata, serta menunjukkan perilaku yang baik.

“Ketika spiritual sudah terbina maka emosionalnya juga akan terkontrol, terus tutur katanya juga akan punya makna dan perilakunya nanti juga akan bisa menjadi manusia-manusia yang baik,” tuturnya.

Ke depan, Sugeng berharap GMBI terus berkembang dan memberikan pengaruh positif di seluruh wilayah Jawa Timur.

“Hari ini kami berada di tengah-tengah Jawa Timur, tapi kami punya cita-cita yang besar, Jawa Timur harus berada di tengah-tengah GMBI. Jadi kami ingin GMBI bisa besar, bisa menggema di seluruh Jawa Timur,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *