Menolak Punah, Seniman Taufik Hidayat Sulap Aksara Jawa Jadi Permainan Kartu Seru

Artikel, Budaya128 Dilihat

MALANG, TRETAN.news – ​Di tangan seorang seniman, warisan budaya tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya tertidur, menunggu cara pandang baru untuk kembali bernapas.

​Keyakinan inilah yang menggerakkan Taufik Hidayat, seniman sekaligus alumnus Seni Rupa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) angkatan 1994.

Melihat generasi muda kian berjarak dengan aksara Jawa, Taufik tak mau sekadar mengeluh. Ia memilih bergerak menjemput bola.

​Kegelisahannya melahirkan sebuah terobosan segar bernama Kartu Aksara Jawa.

Bukan sekadar alat peraga biasa, inovasi ini meleburkan asyiknya permainan modern dengan edukasi budaya.

Karya inovatif ini bahkan telah resmi mengantongi sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).

Belajar Tanpa Rasa Digurui

​Bagi sebagian besar pelajar, menghafal deretan “ha-na-ca-ra-ka” kerap menjadi momok.

Teks yang kaku dan metode hafalan konvensional membuat mereka cepat bosan. Taufik menangkap celah ini dan mengubah ruang kelas menjadi arena bermain.

​“Kenapa kartu? Karena ada unsur permainan di dalamnya,” ujar Taufik di sela acara Kongres Budaya Nasional, Pendopo Kabupaten Malang.

​Pria yang dikenal dengan gaya nyentriknya ini menegaskan bahwa anak muda butuh pendekatan yang relevan.

“Sehingga anak-anak muda tidak merasa bosan. Mereka bisa belajar sambil bermain tanpa merasa sedang digurui,” jelasnya penuh semangat.

Sentuhan Estetika dan Hadirnya Punokawan

​Sebagai seniman tulen, Taufik menyuntikkan detail visual yang memanjakan mata.

Kartu Aksara Jawa buatannya tidak tampil ala kadarnya. Setiap lembarnya membawa karakter dan struktur visual yang tajam serta memikat.

​Satu set permainan ini memuat elemen yang tak asing bagi para penggemar permainan kartu. Terdapat 20 kartu keriting hitam, 20 kartu wajik, 20 kartu waru merah, dan 20 kartu waru hitam.

​Menariknya, Taufik menyisipkan kearifan lokal dengan sangat cerdas. Ia mengganti fungsi kartu joker dengan tokoh-tokoh punokawan, yakni Gareng, Petruk, dan Bagong.

Sebuah sentuhan artistik yang membuat kartu ini terasa sangat membumi.

Menggerakkan Ekonomi, Menembus Kebijakan

​Langkah Taufik tidak berhenti di atas meja gambar. Meski peluncuran perdana berlangsung di Surabaya, ia sengaja mempercayakan proses cetak kepada pelaku UMKM di Malang.

Ia ingin ekosistem kreatif lokal ikut bernapas dan meraup untung dari gerakan budaya ini.

​Kini, Kartu Aksara Jawa mulai merambah pasar secara offline maupun online.

Sekolah, komunitas budaya, hingga orang tua bisa dengan mudah mendapatkannya.

​Taufik bahkan tengah bersiap menggelar peluncuran jilid kedua. Agenda ini rencananya akan menyapa masyarakat Sampang pada 19–20 Agustus mendatang, sebuah upaya masif untuk menjangkau basis massa di wilayah Madura dan Jawa Timur secara lebih luas.

​Di level kebijakan, ide Taufik sukses mencuri perhatian para pemangku kepentingan. Kongres Budaya Nasional di Malang merespons inovasinya dengan melahirkan tiga rekomendasi krusial:

1. Integrasi Pendidikan: Menerapkan pembelajaran menggunakan Kartu Aksara Jawa secara berjenjang, mulai dari SD hingga perguruan tinggi.

2. ​Desakan Regulasi: Mendorong pemerintah pusat maupun daerah menerbitkan aturan resmi (seperti Perpres) yang mewajibkan pembelajaran aksara Jawa di berbagai ruang lingkup kebahasaan.

3. ​Penggunaan Resmi Publik: Mendesak instansi pemerintah untuk mengintegrasikan aksara Jawa di ruang publik, dokumen resmi, dan identitas visual daerah.

Merawat Tradisi Lewat Kompetisi

​Ke depan, Taufik dan para pegiat budaya tengah merancang sebuah kompetisi Kartu Aksara Jawa.

Ia ingin memantik jiwa kompetitif pelajar, sekaligus membuktikan bahwa aksara tradisional mampu menjelma menjadi sarana hiburan yang edukatif di era digital.

​Lewat selembar kartu, Taufik Hidayat sukses mendobrak stigma. Ia membuktikan bahwa merawat tradisi tak melulu harus kaku, formal, dan berdebu.

​Aksara Jawa kini tidak lagi sekadar ukiran usang di dinding candi atau naskah tua yang sulit dipahami.

Di tangan generasi penerus, ia siap dikocok, dibagikan, dan dimainkan dengan penuh tawa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *