Suara Petani Sampang Umar Zeedhenk Soroti KPK dan Rasa Keadilan di Madura

Artikel, Berita193 Dilihat

SAMPANG, tretan.newsPagi di Sampang selalu dimulai dengan hal yang sederhana: tanah yang harus digarap, daun tembakau yang harus dirawat, dan harapan yang tak pernah benar-benar bisa ditunda.

Di antara rutinitas itu, Umar Zeedhenk berdiri seperti kebanyakan petani lainnya, tidak banyak bicara, tapi peka terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya.

Namun beberapa hari terakhir, percakapan di warung kopi dan pematang sawah berubah arah. Bukan lagi soal cuaca atau harga tembakau. Tapi tentang hukum. Tentang keadilan. Dan tentang siapa yang sedang disorot.

“Saya ini orang kampung, tidak paham hukum tinggi. Tapi saya tahu siapa yang pernah bantu masyarakat,” ujar Umar membuka percakapan.

Kalimatnya pendek. Tapi mengandung sesuatu yang lebih dalam dari sekadar opini: pengalaman.

Ketika Hukum Masuk ke Ruang Persepsi Rakyat

Langkah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam menangani sebuah perkara belakangan menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat Madura. Bukan semata soal hukum, melainkan bagaimana hukum itu dipahami—dan dirasakan.

Bagi Umar, ada ruang yang tidak selalu tersentuh oleh proses hukum: ruang persepsi publik.

“Saya melihat ini ada yang janggal. Kenapa yang selama ini membantu masyarakat justru menjadi sorotan? Ini yang membuat masyarakat bertanya-tanya,” katanya.

Di Madura, penilaian terhadap seseorang tidak lahir dari berita semata. Ia tumbuh dari perjumpaan, dari bantuan yang nyata, dari tangan yang pernah menjangkau saat sulit.

Dan ketika narasi hukum berseberangan dengan pengalaman itu, yang muncul bukan hanya pertanyaan—melainkan kegelisahan.

Antara Kontribusi Nyata dan Sorotan Hukum

Umar tidak menolak penegakan hukum. Ia paham, negara harus berjalan dengan aturan. Namun ia juga melihat ada hal yang menurutnya perlu menjadi perhatian bersama.

“Masih banyak oknum pejabat yang tidak bekerja maksimal, tapi kenapa yang punya kontribusi nyata malah diproses? Ini harus jadi perhatian bersama,” tegasnya.

Pernyataan itu bukan sekadar kritik, melainkan refleksi dari apa yang dirasakan masyarakat bawah: adanya jarak antara apa yang terlihat dan apa yang dirasakan.

Dalam pandangannya, sosok Haji Her disebut sebagai figur yang selama ini hadir di tengah masyarakat, dengan bantuan yang dinilai langsung menyentuh kebutuhan rakyat kecil.

“Kalau kita bicara tentang Haji Her, beliau ini membantu masyarakat dengan tulus. Dampaknya nyata, dirasakan langsung oleh rakyat kecil,” ujarnya.

Kecurigaan yang Tumbuh dari Ketidakjelasan

Di titik tertentu, kegelisahan itu berkembang menjadi kecurigaan. Bukan dalam bentuk tuduhan, melainkan pertanyaan yang terus berulang tanpa jawaban yang memuaskan.

“Saya menduga ada kepentingan tertentu, bahkan bisa jadi ada kekuatan besar yang ingin melemahkan ekonomi Madura,” ungkap Umar.

Pernyataan ini tentu bukan klaim yang bisa berdiri sendiri. Namun ia menggambarkan satu hal penting: bagaimana kurangnya transparansi bisa membuka ruang spekulasi di tengah masyarakat. Dan di ruang itulah, kepercayaan diuji.

Karakter Madura: Membela yang Dianggap Berjasa

Bagi Umar, respons masyarakat Madura terhadap situasi ini tidak bisa dilepaskan dari karakter sosial yang telah lama mengakar.

“Orang Madura itu memegang teguh ucapan dan tindakan. Ketika ada sosok yang berbuat baik, tentu masyarakat akan membela,” imbuhnya.

Di tanah ini, loyalitas bukan sekadar kata. Ia adalah nilai.

Dan nilai itu seringkali berbenturan dengan dinamika hukum yang tidak selalu bisa menjelaskan dirinya dengan bahasa yang dipahami rakyat.

Harapan pada Negara: Keadilan yang Terasa, Bukan Sekadar Terlihat

Di tengah semua itu, Umar tidak menutup harapan. Ia percaya negara masih memiliki ruang untuk memperbaiki cara berkomunikasi dengan rakyatnya.

Ia berharap Presiden Prabowo Subianto bersama KPK dapat melihat persoalan ini secara lebih jernih dan objektif.

“Saya berharap Bapak Presiden Prabowo dan KPK bisa melihat ini secara objektif. Jangan sampai ada kepentingan yang bermain,” katanya.

Baginya, hukum tidak cukup hanya berjalan. Hukum juga harus bisa dirasakan.

“Jangan sampai penegakan hukum justru melukai rasa keadilan masyarakat. Negara ini harus menghadirkan keadilan dan keharmonisan,” pungkasnya.

Penutup: Suara yang Tak Boleh Dianggap Kecil

Di akhir hari, Umar kembali ke ladangnya. Seperti biasa. Tidak ada podium. Tidak ada mikrofon.

Tapi suaranya sudah terlanjur sampai ke ruang yang lebih luas.

Suara dari seorang petani yang mungkin tidak mengerti pasal demi pasal, tapi mengerti betul… kapan keadilan terasa jauh dari jangkauan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *