Rakerwil di Probolinggo, BEM SI Jatim Soroti Pemerintahan Prabowo-Gibran

Berita27 Dilihat

PROBOLINGGO, TRETAN.news – BEM SI Kerakyatan Jawa Timur menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) di Universitas Nurul Jadid (UNUJA) Probolinggo. Acara ini berlangsung mulai Senin (5/10/2026).

​Kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi bagi mahasiswa untuk membahas berbagai persoalan publik secara tajam.

​Mahasiswa secara khusus menyoroti jalannya pemerintahan Prabowo-Gibran dan kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

​Koordinator Wilayah BEM SI Kerakyatan Jawa Timur, Moh Iskil El Fatih, menegaskan komitmen independensi pergerakan mahasiswa.

​”BEM SI Kerakyatan tidak hadir untuk membenarkan kekuasaan. Kita berdiri bersama rakyat,” tegas Iskil.

​Ia berjanji akan mengkritik dan mengawal setiap kebijakan yang merugikan masyarakat luas.

​Kawal Isu BBM dan Kanjuruhan

​Iskil secara khusus menyoroti masalah kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang menyulitkan warga.

​Ia mendesak pemerintah agar tidak membebankan persoalan rantai distribusi BBM kepada masyarakat bawah.

​”Rakyat tidak butuh penjelasan yang berputar-putar. Rakyat butuh BBM tersedia dan mudah diakses,” katanya.

​Iskil menuntut pemerintah segera menyelesaikan kekacauan distribusi tersebut secara tuntas.

​Selain masalah energi, mahasiswa juga memastikan pengawalan terhadap penuntasan keadilan dalam Tragedi Kanjuruhan.

​”Selama persoalan keadilan masih dipertanyakan, selama itu pula mahasiswa akan terus mengawal,” tegas Iskil.

​Ia memastikan hasil konsolidasi Rakerwil ini akan berlanjut pada aksi nyata di lapangan.

​”Kalau harus konsolidasi, kita konsolidasi. Kalau harus audiensi, kita hadapi. Kalau suara rakyat harus dibawa ke jalan, kita siap turun ke jalan,” pungkasnya.

​Tradisi Pengabdian Pesantren

​Pelaksanaan Rakerwil ini mencetak sejarah baru karena berlangsung di lingkungan pondok pesantren.

​Tuan rumah sekaligus Presiden Mahasiswa UNUJA, Hedi Firmansyah, menyebut kegiatan ini relevan dengan tradisi pesantren.

​”Ini perdana BEM SI mengadakan Rakerwil di pondok pesantren,” ujar Hedi.

​Ia mengutip wasiat perjuangan dari pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH Zaini Mun’im.

​”Semangatnya sejalan dengan apa yang diwasiatkan KH Zaini Mun’im,” jelasnya.

​Ia menekankan bahwa santri yang tidak berjuang di masyarakat tidak akan mendapat rida.

​”Santri yang tidak berjuang di masyarakat dan hanya memikirkan ekonomi serta pendidikannya sendiri, beliau tidak ridha,” tambahnya.

​Hedi berharap forum ini sukses mempertemukan tradisi intelektual kampus dengan semangat pengabdian nyata kepada masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *