SMSI Sumenep Bekali Guru Kenali Wartawan Profesional dan Bahaya Oknum Pers

Berita165 Dilihat

SUMENEP, Tretan.News — Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Sumenep mengajak guru SDN se-Gugus 02 Kalianget mengenali kerja jurnalistik sekaligus mewaspadai praktik oknum yang mengatasnamakan wartawan untuk menekan atau meminta uang kepada narasumber.

Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Sekolah Melek Media yang digelar di SDN Kalimook II, Kecamatan Kalianget, Sabtu (26/9/2026). Selain membahas jurnalistik dan literasi media, kegiatan juga membekali guru dengan pemahaman mengenai pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Guru Diajak Kenali Kerja Jurnalistik

Ketua SMSI Kabupaten Sumenep, Wahyudi, mengatakan sekolah memiliki posisi strategis dalam membangun budaya literasi informasi karena guru berhadapan langsung dengan generasi yang setiap hari menggunakan media sosial.

“Sekolah harus bisa melek informasi. Kita harus bisa membedakan informasi yang berasal dari media mainstream atau media arus utama dengan informasi yang beredar di media sosial,” tegas Wahyudi.

Menurutnya, informasi yang beredar cepat di media sosial belum tentu menjamin kebenarannya. Karena itu, kemampuan memeriksa sumber, memahami konteks, melakukan verifikasi, serta membedakan produk jurnalistik dengan unggahan media sosial menjadi bagian penting dari literasi media.

Kegiatan bertema “Menggali Lokalitas dan Pemanfaatan AI Bagi Guru se-Kecamatan Kalianget” tersebut diikuti dua utusan dari setiap SDN yang tergabung dalam Gugus 02 Kalianget.

Wartawan Diminta Tetap Berpegang pada Etika

Pemimpin Redaksi dimadura.id, Moh. Sumardono atau Mazdon, menjadi salah satu pemateri dalam sesi dasar jurnalistik. Ia menjelaskan sejumlah unsur dalam penulisan berita, mulai dari menentukan angle, lead, headline, hingga struktur berita.

Mazdon juga memperkenalkan berbagai produk jurnalistik, seperti hard news, straight news, feature, berita analisis, berita investigatif, berita foto, dan berita video.

Menurutnya, setiap produk jurnalistik memiliki karakter dan pendekatan berbeda. Wartawan dituntut menyajikan informasi berdasarkan fakta, etika, dan kepentingan publik.

Dalam kesempatan tersebut, Mazdon juga membagikan pengalamannya selama menjalani profesi wartawan. Ia mengaku pernah mempertimbangkan untuk meninggalkan dunia jurnalistik karena tindakan oknum yang menurutnya mencoreng nama baik profesi wartawan.

“Sempat mau berhenti jadi wartawan, karena nama baik profesi wartawan di masyarakat ikut tercoreng dengan perbuatan oknum yang melakukan pemerasan ke sejumlah lembaga dengan mengatasnamakan wartawan atau dari media,” kata Mazdon.

Ia kemudian mengaku mendapat nasihat dari gurunya untuk tetap menekuni dunia jurnalistik dengan niat membela masyarakat.

Guru Diingatkan Tak Takut pada Oknum

Pemimpin Redaksi Klikmadura.com, Prengky Wirananda, dalam materi “Melek Media” mengajak peserta memahami karakter media dan praktik jurnalistik yang sesuai dengan etika.

Prengky secara khusus mengingatkan guru agar tidak memberikan uang kepada pihak yang mengaku wartawan apabila menggunakan profesinya untuk menekan atau menakut-nakuti narasumber.

“Jika ada oknum yang mengatasnamakan wartawan, bentak-bentak seperti penyidik, lalu ujung-ujungnya minta duit, mohon agar tidak dikasi,” ujar Prengky.

Ia mengatakan kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk meluruskan pemahaman masyarakat mengenai profesi wartawan.

Menurut Prengky, wartawan menjalankan tugas untuk memperoleh informasi melalui wawancara dan konfirmasi kepada narasumber, bukan menggunakan profesinya untuk melakukan tekanan.

Selain itu, peserta mendapat materi mengenai tugas pers, kode etik jurnalistik, serta pentingnya menjaga sopan santun ketika melakukan peliputan dan wawancara.

Guru Didorong Jadi Produsen Informasi

Pengawas Sekolah Wilayah Kerja Kalianget, H. Abd. Aziz, M.Pd., meminta para guru mengikuti kegiatan tersebut dengan serius.

Ia mendorong guru tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menghasilkan tulisan dan informasi yang bermanfaat.

“ikuti kegiatan ini dengan baik. Guru bisa belajar menulis dan membuat informasi dari para jurnalis,” ujarnya.

Menurutnya, keterampilan jurnalistik dapat membantu guru menyampaikan berbagai aktivitas dan prestasi sekolah sekaligus mendukung budaya literasi di lingkungan pendidikan.

Kegiatan yang diikuti guru dari sejumlah SDN di Gugus 02 Kalianget tersebut turut dihadiri Ketua Gugus 02 Kalianget, A. Yudhi.

Melalui Sekolah Melek Media, SMSI Sumenep mendorong guru memiliki kemampuan lebih baik dalam memilah informasi, memahami kerja pers, serta memanfaatkan teknologi AI secara bijak di tengah derasnya arus informasi digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *