Budayawan 7 Daerah Padati Prasasti Cunggrang Pasuruan

Budaya191 Dilihat

PASURUAN TRETAN.news – Budayawan dari tujuh daerah di Jawa Timur memadati kawasan Prasasti Cunggrang, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, pada Jumat malam (17/7/2026).

​Kedatangan para pegiat sejarah tersebut bertujuan untuk menghidupkan kembali tradisi tembang macapat rutin setiap malam Jumat Kliwon.

​Aktivitas pelestarian budaya di situs bersejarah ini kembali tumbuh dan mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat luas.

​Kawasan Prasasti Cunggrang kini perlahan menjadi ruang komunal bagi para budayawan, seniman, dan pecinta sejarah antardaerah.

​Sebelumnya, kegiatan di situs yang menjadi simbol Hari Jadi Kabupaten Pasuruan ini sempat vakum akibat pandemi Covid-19.

​Seorang budayawan, Agung, menilai agenda rutin Jumat Kliwon menjadi ajang silaturahmi yang efektif.

​Kegiatan ini memperkuat jaringan pelestari budaya dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur.

​”Setiap rutinan Jumat Kliwon selalu banyak budayawan yang datang. Jadi sekalian bisa bersilaturahmi dengan teman-teman dari kota lain,” ujar Agung.

​Juru Pelihara Prasasti Cunggrang, Ana Wijiastutik, mengungkapkan rasa syukurnya atas peningkatan minat masyarakat terhadap kegiatan budaya tersebut.

​Ana menyebut para peserta macapat datang dari Pasuruan, Mojokerto, Sidoarjo, Surabaya, Malang, Batu, hingga Gresik.

​”Setiap Jumat Kliwon kami mengadakan macapat. Yang datang dari berbagai daerah,” kata Ana.

​Dia mengaku terharu karena hampir semua rekan budayawan yang dia undang bersedia hadir ke situs tersebut.

​”Saya sampai terharu, setiap teman yang saya undang, hampir semuanya datang,” tutur Ana.

​Menurut Ana, kegiatan macapat ini bertujuan menjaga tradisi sekaligus mengenalkan kekhasan macapat gaya Pasuruan kepada publik.

​Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pasuruan juga memberikan perhatian khusus terhadap upaya pelestarian ini.

​”Macapat ini juga bagian dari upaya kami mengenalkan bahwa Pasuruan memiliki kekhasan macapat sendiri,” jelasnya.

​Pihaknya berkomitmen untuk terus menjaga situs bersejarah tersebut di tengah segala keterbatasan yang ada.

​”Dengan segala keterbatasan, inilah cara kami melestarikan Prasasti Cunggrang,” tambahnya.

​Pihak pengelola memperkuat pelestarian situs melalui sinergi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) dan Pemerintah Kabupaten Pasuruan.

​Pemerintah daerah mengarahkan agar pengelolaan kegiatan budaya berjalan melalui sebuah yayasan resmi sejak Juli 2024.

​Selain pusat budaya, Prasasti Cunggrang juga berfungsi sebagai tujuan wisata edukasi bagi generasi muda.

​Rombongan pelajar dari tingkat TK, SD, SMP, hingga mahasiswa rutin mengunjungi situs untuk mempelajari sejarah.

​Bahkan, personel Brimob juga kerap mendatangi lokasi ini sebelum mereka menjalani masa pendidikan resmi.

​Ana menilai tren kunjungan wisata sejarah terus meningkat, meski belum pulih sepenuhnya seperti sebelum pandemi.

​Oleh karena itu, Ana terus memperdalam pengetahuan sejarah demi memberikan informasi lengkap kepada pengunjung anak-anak sekolah.

​”Sebagai juru pelihara, saya terus belajar memperdalam ilmu sejarah agar bisa memberikan penjelasan sedetail mungkin kepada setiap pengunjung,” ungkapnya.

​Langkah ini menjadi bentuk tanggung jawab dalam menjaga warisan leluhur Kabupaten Pasuruan.

​”Kami bangga bisa menjalankan amanah leluhur untuk menjaga dan melestarikan Prasasti Cunggrang sebagai warisan budaya Kabupaten Pasuruan,” pungkas Ana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *