Tradisi Purnomo Sidi Raos Pacinan Kembali Digelar, Warisan Budaya Jawa Tetap Lestari

Budaya197 Dilihat

PASURUAN, TRETAN.news — Tradisi tahunan Purnomo Sidi (Bulan Purnama) Ujub Tumpeng kembali digelar masyarakat di Situs Raos Pacinan, Dusun Raos, Desa Carat, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Selasa (30/6/2026).

Kegiatan budaya tersebut menjadi bentuk rasa syukur sekaligus upaya masyarakat menjaga warisan leluhur yang telah berlangsung secara turun-temurun.

Ratusan warga, tokoh adat, sesepuh, dan seniman lokal menghadiri kegiatan tersebut.

Rangkaian acara diawali doa bersama, kemudian dilanjutkan pembacaan tembang macapat dan tembang Jawa yang berisi pesan moral, nilai kehidupan, serta harapan keselamatan bagi masyarakat.

Kepala Desa Carat Ahmad Fathoni menjelaskan bahwa tradisi Purnomo Sidi merupakan bagian dari pelestarian budaya dan tidak berkaitan dengan pemujaan.

 

“Giat ini adalah melestarikan budaya Jawa, bukan memuja berhala. Mayoritas yang hadir beragama Islam, sehingga tidak perlu diragukan keyakinannya kepada Tuhan Yang Maha Esa,” tegas Ahmad Fathoni yang akrab disapa Mas Toni.

Menurutnya, tradisi Purnomo Sidi telah ada sejak masa kerajaan-kerajaan di tanah Jawa dan tetap bertahan hingga sekarang dengan mengedepankan doa, kebersamaan, serta penghormatan terhadap nilai budaya yang selaras dengan syariat Islam.

Selain menjadi tempat kegiatan budaya, Situs Raos Pacinan juga memiliki nilai sejarah.

Di kawasan tersebut terdapat Arca Dwarapala dengan tinggi sekitar dua meter yang diyakini menjadi penanda gerbang menuju kawasan penting pada masa lampau.

Sejumlah catatan sejarah juga menyebutkan Raos Pacinan diduga menjadi salah satu lokasi pertemuan pasukan Mongol dengan pengikut Raden Wijaya sebelum berdirinya Kerajaan Majapahit.

Suasana kegiatan semakin khidmat ketika seniman cilik Aqilah Qisya Al Humairah atau Qisya membawakan tembang macapat yang mengisahkan perjalanan kehidupan dan alam semesta.

Penampilan tersebut mendapat apresiasi dari para sesepuh adat dan tamu undangan yang hadir.

Rangkaian tradisi kemudian ditutup dengan penampilan para pelantun macapat lainnya yang menyampaikan petuah tentang kehidupan, nilai moral, dan kearifan budaya Jawa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *